Indonesia akan berusia satu abad pada tahun 2045. Dalam tahun itu, diharapkan akan lahir banyak generasi emas. Indonesia mengalami pendemi Covid 19 kurang lebih selama tiga tahun dari 2019-2022. Pendemi ini membuat aktivitas sosial sangat dibatasi yang menyebabkan lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Kebijakan tersebut mengakibatkan angka kelahiran meningkat. Kemendagri mencatat kenaikan 2,52 juta jiwa di tahun 2021. Dalam usia satu abad, 70 persen penduduk Indonesia berusia produktif (15-64 tahun) dan 30 persen berusia tidak produktif (<14 dan >65 tahun).
Generasi emas adalah generasi yang memiliki kemandirian secara intelektual, finansial, dan IQ minimal 100. Kecerdasan dan wujud fisik adalah manifestasi dari apa yang dikonsumsi sejak dalam rahim ibu sampai berakhirnya umur. Ibu hamil memerlukan perhatian khusus terkait nutrisi, karena menjadi tempat kehidupan pertama bayi sebelum lahir. Asupan gizi bayi tergantung apa yang diasup ibu. Remaja juga perlu dipastikan mengkonsumsi gizi seimbang untuk mempersiapkan ovum dan sperma yang berkualitas serta IQ yang tinggi. Oleh karena itu, pola konsumsi remaja Indonesia saat ini dan status gizinya perlu diteliti.
Mengutip dari laman Kuya Hejo kategori IQ adalah sebagai berikut: Kategori pertama adalah Idiot (IQ : 0-29) orang yang ber-IQ 0-29 ini dikategorikan sebagai idiot. Idiot adalah orang dengan tingkatan kecerdasan otak yang paling rendah. Mereka yang ada di kategri ini tidak mampu berkomunikasi, dan jika bisa hanya mampu mengucapkan sedikit kata-kata saja. Mereka juga membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus kepentingan pribadi seperti makan, mandi, memakai pakaian dan lain-lain. Anak dalam tingkatan idiot ini akan menghabiskan hidupnya hanya di atas tempat tidurnya saja. Kecerdasan penderita idiot ini sama dengan anak-anak normal di usia 2 tahun. Umurnya pun biasanya tidak panjang, karena daya tahan tubuhnya lemah terhadap berbagai penyakit
Kategori kedua adalah Imbecile (IQ : 30-40). Anak-anak di kategori ini masih harus bergantung kepada orang lain. Walaupun begitu, ia sudah mampu untuk belajar berkomunikasi, makan, mandi, dan beberapa hal mudah lainnya dengan pengawasan dari orang lain. Kecerdasannya anak imbecile ini sama dengan-anak anak normal di usia 3 sampai 7 tahun. Anak-anak imbecile tidak dapat dididik di sekolah biasa. Karena itu, sangat disarankan untuk melakukan latihan-latihan sederhana.
Kategori ketiga adalah Moron atau Debil / Mentally Retarted (IQ: 50-69). Anak-anak yang memiliki IQ di tingkatan ini sampai tahap tertentu masih bisa dididik untuk belajar menulis, membaca dan hitung-hitungan sederhana. Untuk mengembangkan kemampuannya, bisa diberikan kegiatan-kegiatan rutin tertentu yang tidak membutuhkan perencanaan ataupun pemecahan masalahnya. Kebanyakan anak-anak di kategori debil ini bersekolah di sekolah-sekolah luar biasa.
Kategori keempat adalah IQ Dull / Bordeline (IQ: 70-79) tingkatan kategori ini lebih baik dari ketiga kategori sebelumnya, namun kecerdasannya masih di bawah anak-anak normal. Kemampuannya bisa dikembangkan dengan kerja keras, bersusah payah, serta memiliki banyak hambatan. Anak-anak bordeline ini sudah mampu bersekolah di sekolah dasar umum, namun akan sangat kesulitan ketika berada tingkat-tingkat akhir di SLTP.
Kategori kelima adalah Normal Rendah / Below Avarage (IQ: 80-89) tingkatan selanjutnya adalah kategori below avarage. Anak-anak di kategori ini sudah bisa disebut kelompok anak-anak normal, namun tingkatannya berada di tingkat terendah. Kategori below avarage ini tidak bisa terburu-buru dalam proses belajar. Mereka masih mampu mengikuti kurikulum pendidikan dan menyelesaikan tingkat SMP, namun kesulitan dalam menyelesaikan mengikuti kurikulum pendidikan di tingkat SLTA.
Kategori keenam, Normal Sedang (IQ: 90-109) adalah kategori anak-anak normal. Kebanyakan anak-anak berada di tingkat ini. Pendidikan formal pun bisa diikutinya, namun akan sering menemukan kesulitan.
Kategori ketujuh, Normal Tinggi / Above Average (IQ: 110-119) adalah normal tinggi. Kategori normal tinggi ini adalah kelompok orang-orang dengan kemampuan normal, tetapi kemampuannya berada di tingkatan yang tinggi.
Kategori kedelapan adalah Cerdas / Superior (IQ: 120-129) jka dilihat dari kemampuan otaknya, kategori ini adalah kategori individu yang sangat berpotensi berhasil dalam pendidikan formalnya. Mereka sering kali berada di kelas-kelas umum dan memiliki nilai-nilai yang tinggi.
Kategori kesembilan adalah Sangat Cerdas / Very Superior / Gifted (IQ: 130-139) kategori very superior ini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal menulis, membaca, mudah memahami ilmu-ilmu eksak dengan mudah, bijak mengatur keuangan, dan cepat memahami sesuatu. Rata-rata, anak yang berada di kategori very superior ini umumnya menonjol dalam faktor kesehatan, ketangkasan, dan kekuatan.
Kategori kesepuluh Genius (IQ: 140+) adalah orang-orang yang berada di kategori memiliki ini kemampuan yang sangat luar biasa. Mereka sering kali memiliki keahlian untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan mampu menemukan hal-hal baru walaupun tidak mengikuti pendidikan formal. Contoh orang-orang yang berada di kategori genius ini adalah Albert Einstein.
Penulis melakukan penelitian dengan Metode yang sangat sederhana dengan butir-butir pertanyaan dalam bentuk google formulir. Sampel yang digunakan remaja-dewasa usia 17-27 tahun. Data yang didapatkan sebanyak 225 responden. Variabel yang digunakan yaitu: kebiasaan konsumsi makan dan minum, ukuran LILA, IMT, pengetahuan tentang KB, uang saku/bulan, adat budaya, kemandirian finansial, riwayat penyakit, tinggi badan, berat badan, dan usia.
Dari hasil penelitian itu didapatkan hasil sejumlah 85 persen pola konsumsi pangan yang tidak seimbang. Menurut Kemenkes, gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.
Prinsip keanekaragaman yang dimaksud adalah dalam porsi makan harus ada lima kriteria, yaitu: lauk hewani, lauk nabati, makanan pokok, sayur-mayur, dan buah-buahan. Empat sehat lima sempurna merupakan selogan pada 1952 tahun lalu, kemudian pada Konferensi Pangan Sedunia di Roma 1992, selogan tersebut mendapat kritik karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan IPTEK bidang gizi dan permasalahan-permaslahan yang dihadapi, kemudian slogan itu direkontruksi menjadi “Nutrition Guide for Balanced Diet” digunakan di Indonesia tahun 1993 yang dikenal dengan “Gizi seimbang” yang diimplementasikan ke dalam tumpeng gizi seimbang.
Generasi Emas berkaitan dengan keluarga berencana yang artinya merencanakan baik secara nutrisi, fisik dan mental ketika program hamil, dengan begitu anak yang akan dilahirkan dalam keadaan sehat, sempurna dengan IQ tinggi. Jika direncanakan dan dipenuhi kebutuhan gizinya, angka SDM unggul Indonesia meningkat, in sya’a Allah.
Oleh: Faizatul Kamilah, Disciple Angkatan 2021 Monashmuda Institute Semarang, Mahasiswa Program Studi Gizi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang.







