Membuat 50 Rumah untuk Santri, Dibuatkan Rumah oleh Istri

Baladena.ID – Kalau kita menginjakkan kaki di Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Pilanggowok Desa Mlagen Kabupaten Rembang, kita akan langsung melihat bangunan-bangunan dengan berbagai bentuk yang semuanya unik. Ada rumah bambu berbentuk limas yang bahannya adalah bamboo yang dibelah disusun bolak balik, ada rumah dengan bata ekspos, rumah kapsul dari gorong-gorong raksasa, rumah honey mirip rumah orang Papua, rumah kayu gmelina, rumah panggung dari kayu dan bambu, rumah sesek yang berbentuk bulat, dan lain-lain. Semuanya itu memiliki cerita masing-masing. Disainnya dibuat sendiri oleh pendiri dan pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, yang juga pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI. Cita-citanya membangun 50 rumah untuk para guru dan santri sudah makin mendekati kenyataan. Belasan rumah sudah ditempati dan membuat Planet NUFO makin dinamis dengan ratusan santri. Berikut wawancara baladena dengan bapak lima anak yang akrab dipanggil Abah Nasih atau Abana.

Baladena: “Abah Nasih, bisakah diceritakan, kenapa rumah-rumah santri di Planet NUFO ini bentuknya aneh-aneh?”

Abana: “Sebenarnya ini dulu saya rahasiakan. Tapi sekarang sepertinya sudah mulai boleh dibuka. Sebenarnya semuanya karena keterbasan. Tepatnya, keterbatasan yang dihadapi secara ngotot yang kemudian menghasilkan kreativitas. Rumah pertama yang kami bangun di sini rumah bambu berbentuk limas itu. Ada dua. Kanan yang ada tulisan “Qur’anic Habit Camp” dan kiri yang ada tulisan “PLANET NUFO”. Ceritanya, waktu itu Alm. Mas Arif mengajak buat sekolah untuk puteri bungsungnya yang baru saja mondok di pesantren saya di Semarang, Monash Institute. Dia agak kaget karena mondok singkat selama sepekan ternyata membuat Aisya menguasai tashrif yang biasanya baru bisa dikuasai setelah belajar bertahun-tahun. Mas Arif tanya kenapa tashrif fokusnya? Saya jawab karena itu sangat penting untuk mengetahui makna al-Qur’an. Dan pengetahuan makna itu prasyarat untuk bisa cepat menghafalkan al-Qur’an. Singkatkan dia ingin Aisya hafal al-Qur’an. Karena itu, lulus SD harus berada dalam lingkungan yang kita disain untuk itu. Kami kemudian sepakat untuk membuat pesantren dan sekolah. Tapi kami pada saat itu sama-sama tidak punya anggaran untuk itu. Penghasilan saya sudah saya alokasikan untuk membiayai Monash Institute di Semarang dan juga aktivitas pesantren di Jakarta. Ditambah lagi baru saja saya berhenti jadi komisaris. Sumber penghasilan berkurang signifikan. Hahaha. Mas Arif juga sama. Lagi bokeklah intinya. Saya berpikir keras agar rencana ini berhasil, karena saya juga punya banyak anak yang nanti membutuhkan sekolah dengan disain sendiri. Tiba-tiba saya ingat punya beberapa rumpun bambu di depan Masjid Mlagen. Langsung saja saya minta mandor saya untuk menebang semua bambu yang sudah tua, lalu dibuat rumah unik. Jadilah dua buah itu. Ditambah dengan dua gazebo bulat itu. Lantainya itu sebenarnya adalah bekas meja untuk mendinginkan gula merah. Saya dulu menggiling tebu saya, saya jadikan gula merah. Namun, karena harga gula jatuh, sementara saya hentikan. Dan daripada mejanya nganggur, saya suruh saja para tukang untuk menyulapnya jadi gazebo yang belum pernah ada di muka bumi ini. Hahahaha.”

Baladena: “Lalau rumah-rumah yang lain?”

Abana: “Nah, dari sinilah saya makin percaya bahwa kalau kita punya keinginan, lalu kita perjuangkan dengan tawakkal kepada Allah, maka Allah akan menolong. Allah “turun tangan”. Pada saat yang memang diperlukan. Sebenarnya, saat itu memang saya sedang tak punya anggaran. Padahal diperlukan rumah permanen, agar santri punya tempat tinggal. Kalau rumah bambu itu, hanya cocok untuk tempat belajar, bukan tempat tinggal. Tiba-tiba ada seorang dokter spesialis mata, Bu Iin namanya, mahasiswa dan kemudian jadi kolega bapak mertua saya, anggota aktif pengajian di rumah ibu mertua saya, bilang mau berkontribusi. Tapi bentuknya bukan uang. Sudah beberapa waktu tak ada kabarnya, tiba-tiba, Bu Iin WA saya, bahwa yang dijanjikan itu sudah dititipkan kepada ibu mertua saya. Ternyata Bu Iin menitipkan sebongkah emas. Hahaha. Bukan duit, ternyata emas 100 gram. Beliau minta maaf kepada saya karena harus merepotkan saya menjual emas itu untuk jadi uang. Sudah ngasih uang, minta maaf pula. Hahaha. Unik ya? Singkat kata, saya jual, laku hampir 60 juta. Langsung saya tebangkan beberapa pohon jati yang masih saya punya untuk rangka atapnya. Jadilah rumah dengan bata ekspos yang pertama. Saat rumah mau jadi, saya kepikiran. Kalau yang menempati nanti santri perempuan, khawatir yang santri laki-laki merasa didiskriminasi. Jadi harus punya minimal dua. Jalannya ketemu. Jual tanah. Akhirnya, rumah berbentuk dan ukuran sama persis jadi. Imajinasi untuk membuat 50 rumah untuk para guru dan santri makin kuat. Karena ternyata sudah bisa bikin 4 rumah. Hahaha. Dan ternyata benar. Setelah itu, para tukang di Planet NUFO tidak pernah berhenti sampai sekarang. Mereka membuat rumah-rumah berikutnya, tanpa ada kata libur kecuali hari raya atau tetangganya meninggal dunia. Hahaha. Rumah-rumah kapsul itu menjadi pilihan saya, karena menyesuaikan cash flow saya. Kalau langsung rumah besar kan harus ratusan juta. Tapi kalau rumah-rumah kapsul itu hanya 15-20 juta. Cukup dengan uang bulanan. Dan saya sering guyon dengan para tukang, agar mereka menjaga kesehatan, karena proyek kita ini akan terus berjalan ilaa yaumil qiyâmah (sampai hari kiamat). Taka da libur. Hahaha.”

Baladena: “Kisahnya cukup ajaib juga ya, Bah?”

Abana: “Ada yang lebih ajaib. Awalnya tanah untuk bikin sekolah ini tidak sampai 2000 meter. Kavlingnya yang paling timur. Namun, kemudian dapat tambahan tanah ibu saya di sebelah baratnya. Lebih luas lagi, sehingga bisa menambah rumah-rumah dan toilet umum. Walaupun hanya 8 kamar. Dan kemudian dapat tambahan lagi tanah 3000-an meter, hibah dari istri saya. Bisa nambah rumah, gedung untuk lokal-lokal sekolah, dan toilet baru sebanyak 24 kamar, kandang sapi, kandang kelinci, dll. Dan ajaibnya lagi, saya dibuatkan rumah oleh istri saya. Hahaha. Jadi setelah menikah belasan tahun, baru punya rumah sendiri. Kayaknya gagah bikin pesantren, tapi sebenarnya belum punya rumah. Sebelumnya numpang di rumah mertua indah. Hahaha. Tapi saya yakin ini barakah Allah, yang datang karena mengurus para pencari ilmu, pembelajar kalam Ilahi.”

Baladena: “Wah banyak juga yang bantu ya, Bah?”

Abana: “Ya iya. Kalau saya ini kan nggak punya apa-apa. Tanpa pertolongan Allah, dan orang-orang beriman yang hatinya digerakkan oleh Allah, nggak bisa melakukan yang sekarang ada ini. Dan yang paling berjasa adalah para guru, ustadz/ah, yang bersedia 24 jam mengurus para santri di sini. Kalau saya, mana sanggup melakukannya sendiri. Saya ke sini hanya dua kali sepekan. Ngajar langsung para santri belia dan remaja ini setelah shubuh dan setelah maghrib. Selebihnya adalah 35 ustadz/ah yang mengabdikan diri untuk melahirkan kader yang lebih canggih. Para guru itu adalah santri dari Monash Institute Semarang yang sudah menempuh studi pascasarjana. Sembari menyelesaikan studi, mereka di sini membantu saya. Tanpa mereka, tak mungkin berdiri Planet NUFO. Sebab, tenaga guru inilah yang sangat diperlukan untuk membina para santri secara intensif. Dan inilah sesungguhnya yang paling mahal.”

Baladena: “Apa yang akan Abah Nasih lakukan untuk membuat Planet NUFO ini lebih baik lagi?”

Abana: “Ya istiqamah saja mewujudkan cita-cita awal. Membangun 50 rumah yang layak dihuni oleh sepasang guru yang salah satu atau keduanya hafal al-Qur’an dan mengerti maknanya. Rumah itu juga dihuni oleh belasan santri yang ditangani secara langsung seperti anak mereka sendiri, sesuai dengan bakat minat yang disesuaikan. Makanya sekarang ini saya menambah profesi sebagai mak jomblang. Para santri potensial, saya jodohkan, agar mereka tidak kabur ke mana-mana, dan bisa menemani saya di sini. Hahaha. Pokoknya, lulus S2 saya tawari untuk menikah dengan si ini atau si itu. Kalau cocok, langsung kita akadkan, dan bertugas menjadi ustadz/ah di sini. Mereka kita ajak untuk membangun usaha yang bisa menjadi sumber penghidupan. Sebab, seorang guru akan lebih bertuah jika memiliki penghasilan sendiri, bukan berharap penghidupan dari santri, murid, atau anggota jama’ah. Prinsip yang sering saya tekankan adalah bahwa kita harus bisa membiayai ide kita sendiri. Jika ada orang lain yang membantu, itu bagus sekali untuk melakukan akselerasi. Jika dengan uang kita sendiri bisa memacu kecepatan 60-70 KM/jam, dengan bantuan orang lain, kita bisa mengakselerasinya sampai 90 KM/jam, atau bahkan lebih kencang lagi, bisa sampai 140 KM/jam. Dengan demikian, kita akan tetap bisa menjaga harga diri, dan murid-murid kita juga akan menjadi orang-orang yang gagah mengikuti langkah kita.” (AH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *