Baladena.id, Semarang – Ternyata ada latar belakang menarik di balik program beasiswa yang diberikan oleh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang. Pendiri dan sekaligus pengasuhnya, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., tidak pernah mendapatkan beasiswa. Setiap kali mendaftar beasiswa, selalu ditolak. Padahal IPK-nya 3,9. Di samping latar belakang lainnya, ini membuatnya merasa perlu membuat program beasiswa, untuk membina mahasiswa sebagai kader muslim intelektual profesional.
Berikut wawancara Baladena.id dengan suami dr. Oky Rahma Prihandani, Sp.A., M.Si.Med. yang juga dosen Ilmu Politik FISIP UMJ itu:
Baladena: “Abah Nasih, sudah berapa lama Monasmuda Institute menjalankan program kaderisasi mahasiswa ini?”
Abana: “Sudah sejak 2011. Alhamdulillah. Sebenarnya, sudah beberapa tahun sebelum saya membuat program beasiswa. Awalnya, untuk anak-anak MTs yang mondok di rumah Ibu saya di Mlagen, Rembang, sana. Namun, karena anak-anak desa ini lulus MTs, atau MA, kemudian menikah. Wah, ini jadi sia-sia rasanya. Maka kemudian uangnya saya belikan sapi dulu, dan kemudian saya gunakan sebagai tambahan jika ada kekurangan.”
Baladena: “Berarti sudah lebih dari 10 tahun ya? Sudah berapa mahasiswa yang merasakan program Monasmuda Institute ini?”
Abana: “Setiap tahun rata-rata 20-an orang. Angkatan pertama kalau tidak salah dulu 20 orang, ditambah dengan 5 orang. Tapi pernah juga hanya belasan orang. Tetapi angkat kedua dulu itu 50 orang. Jadi kira-kira 250-an orang.”
Baladena: “Berarti sekarang sudah ada yang lulus sarjana ya?”
Abana: “Kalau sarjana ya sudah banyak sekali. Kan kuliah sarjana rata-rata hanya 5 tahun. Ada yang 4 tahun sudah lulus. Bahkan sudah ada dua orang yang sekarang sudah hampir lulus S3. Yang S2 sudah di atas 100 orang. Alhamdulillah.”
Baladena: “Bagaimana awalnya membuat program beasiswa ini?”
Abana: “Latar belakangnya complicated ya. Di antaranya dulu saya tidak pernah mendapatkan beasiswa. Jadi, saya merasa, saya harus memberikan beasiswa?”
Baladena: “Bagaimana maksudnya, tidak mendapatkan beasiswa, tetapi kok malah bikin program beasiswa?”
Abana: “Ceritanya, saya dulu berpandangan bahwa beasiswa itu untuk anak pintar, prestasi akademiknya bagus. Itu saja. Tetapi ternyata tidak. Ada pertimbangan lain. Setiap kali wawancara, kalau ditanya apa pekerjaan orang tua, saya jawab Ibu rumah tangga. Bapak sudah meninggal saat saya MA/SMU kelas I. Lalu kalau ditanya sumber penghasilan ibu dari mana, saya jawab dari hasil pertanian. Kalau ditanya punya tanah, ya saya jawab jujur punya kira-kira 15 hektar dan ditanami tebu. Dari sinilah ibu saya membiayai Mbak dan adik-adik saya sampai semua lulus sarjana. Sepertinya, ini pertimbangan saya tidak dapat beasiswa.
Sebab, teman-teman saya yang IPKnya jauh di bawah saya, ada yang 3,7, justru mendapatkan beasiswa. Sedangkan saya yang IPK 3,9 malah tidak dapat. Mungkin ya. Padahal yang namanya petani tebu, panennya setahun sekali. Karena ibu saya tidak terbiasa mengurus tanah sendiri, hasilnya juga menurun. Asetnya memang banyak. Tapi tidak mungkin dijual juga. Kadang, kalau saat bayar SPP, jual jati di pinggir lahan tebu itu.”
Baladena: “Dalam konteks ini, apa yang membuat Abah Nasih merasa perlu membuat program beasiswa ini?”
Abana: “Saya berpikir, sepertinya banyak anak yang prestasi akademiknya bagus, juga mengalami kesulitan finansial yang tidak tertangkap oleh pihak pemberi beasiswa. Karena itu, saya yang harus menangkap mereka. Apalagi saya memiliki tujuan lain selain itu. Bukan hanya membantu mereka dalam aspek finansial, tetapi juga memberikan pembinaan khusus, agar mereka menjadi kader-kader muslim intelektual profesional.”
Baladena: “Jadi, apa saja yang mereka dapatkan?”
Abana: “Mereka mendapatkan tempat tinggal, karena mereka dibina secara intensif dalam sebuah asrama. Dulu rumah kontrakan di Jl. Ringinsari II, sebrang kampus III IAIN (UIN) Semarang. Ada beberapa rumah saya kontrak di sana. Nambah lagi beberapa di Ringinwok, tapi sekarang sudah kena proyek tol itu rumah-rumahnya. Oh ya, ada satu rumah di sana, wakaf dari mertua saya. Tahun 2015, ibu mertua saya menawarkan tanahnya di belakang ru mah untuk didirikan gedung untuk asrama, pesantrenlah. Uangnya dari ibu mertua saya juga. Saya terima dengan syarat. Ibu saya tidak ikut campur dalam pengelolaannya.
Sebab, mengelola kaderisasi ini, jika tidak terlibat langsung ikut ngatur, bisa bikin masalah dan gagal. Ibu saya setuju. Maka jadilah asrama putri yang sekarang disebut Darul Qalam atau DQ I (lantai 4), disusul DQ II (lantai 3), dan rumah yang wakaf itu, karena kena tol, dapat ganti untung, sekarang jadi DQ III (lantai 3). Ada juga gedung di depan DQ I kami sebut Omah Tahfidh atau sering disebut OT (lantai 2). Di asrama-asrama itulah, para disciples atau mahasantri tinggal. Minimal 3 tahun mendapatkan pembinaan secara super intensif. Saya menyebut mereka sebagai “tawanan perang” saya yang harus mengikuti segala agenda yang dijalankan.”
Baladena: “Apa saja yang harus mereka lakukan?”
Abana: “Mereka harus belajar menulis, menghafalkan al-Qur’an, dan berorganisasi, kalau ada isu-isu penting mereka juga harus aksi. Mereka juga dilatih berwirausaha. Dalam berorganisasi, wajib mengikuti LK I HMI pada hari pertama setelah SPP dibayar. Oh ya, sejak tahun berapa ya, mungkin 2018, beasiswa SPP untuk S1 hanya untuk yang mampu, tepatnya mau, menghafal al-Qur’an minimal 2 halaman per hari. Dananya saya alokasikan juga untuk beasiswa bergulir untuk yang studi pascasarjana.”
Baladena: “Kan sudah banyak yang sudah lulus S1, dan banyak juga yang pascasarjana. Mereka itu sekarang di mana saja?”
Abana: “Nah, ini dia masalahnya. 60% jadi dosen. Padahal, di antara doktrin di sini adalah berilmu dan berharta. Maka, sejak kira-kira tiga tahun terakhir ini, saya memberikan penekanan khusus agar lebih fokus kepada wirausaha. Yang jadi dosen sudah kebanyakan. Yang jadi pengusaha masih sangat minim. Perbandingan ini mesti dibalik. Karena itu, sejak tahun 2019, di lokasi yang sama dengan Pesanatren-Sekolah Alam Planet NUFO di Rembang sana, saya membuat tempat latihan wirausaha. Mereka yang sedang studi pascasarjana, saya dijadikan guru di Planet NUFO dan membangun usaha terutama di bidang peternakan dan pertanian. Yang paling banyak di sana domba. Ada sapi, puyuh, dll.”
Baladena: “Bagaimana dinamika mengelola program ini?”
Abana: “Banyak suka, duka, dan kecewanya. Semua bercampur jadi satu, dan jadi nikmat. Kadang kehabisan uang, dan tiba-tiba dapat. Itu rasanya luar biasa. Kadang harus repot membagi waktu antara keluarga dengan mengajar di rumah perkaderan. Tapi kemudian menemukan formula yang bisa menjalankan semuanya bersama. Anak-anak saya ajak shalat jama’ah dan kemudian belajar di Monasmuda Institute. Malah jadi lingkungan yang baik untuk mereka bersosialisasi dan praktek beribadah. Empaat dari lima anak saya, karena yang terakhir baru 3 bulan, usia 7 bulan, pokoknya bisa duduk, saya ajak ke Monasmuda Institute untuk shalat dan mengajar. Risikonya ya ramai dan kadang-kadang bahkan benar-benar mengganggu. Tapi ya harus kami terima dengan senang saja. Mau bagaimana lagi?”
Baladena: “Soal sumber pendanaan itu kan tidak mungkin tanpa perencanaan? Dari mana dan bagaimana mengalokasikan dana itu?”
Abana: “Ya itulah. Faktanya begitu. Sumber utama dan pertama itu panen tebu saya. Alhamdulillah setahun sekali bisa panen. Dan lahannya sekarang makin luas, karena saya menyewa beberapa hektar lahan untuk menanam tebu. Disumbang oleh mertua, istri, dan juga teman-teman. Kalau pas butuh lagi tidak ada uang, ya saya punya apa yang mudah dijual ya saya jual. Pernah jual tiga ekor sapi. Mestinya belum waktunya dijual, sehingga belum untung. Tapi mau bagaimana lagi. Bayar SPP guru-guru Planet NUFO kan tidak bisa ditunda. Ya gitu sajalah. Mengalir. Kalau masih bisa ngutang, ya ngutang dulu. Pernah juga saya utang teman. Alhamdulillah ya kebayar juga. Hahaha. Pokoknya yang menegangkan dan menjadi pemicu adranalin ini yang bikin bahagia.”
Baladena: “Rizki yang tak disangka-sangka ada ya?”
Abana: “Bukan hanya ada. Sering saya mengalami. Dulu, angkatan kedua itu, yang 50 orang itu yang membuat saya percaya bahwa barakah itu memang benar-benar ada. Dan tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Allah-lah yang akan membereskannya. Dengan caranya yang unik-unik.”
Ket.: Foto Dr. Mohammad Nasih Bersama Mahasantri Angkatan 2014







