Indonesia sudah merdeka 77 tahun yang lalu. Di antara cita-cita kemerdekaan itu ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, mendekati tahun emas, dan sudah digaungkan generasi emas, nampaknya cita-cita untuk menjadi bangsa yang cerdas itu masih jauh panggang daripada api. Itu nampak dari hasil pengukuran kecerdasan bangsa Indonesia yang tertinggal jauh di belakang. Hasil survey PISA, Indonesia menempati urutan ke-74, kemampuan membaca pada posisi yang sama, kemampuan matematika ranking ke-73, dan kemampuan sains juga sebelas dua belas, berada di posisi ke-71. Sebagai sebuah negara-bangsa besar, dengan banyak potensi, ini sangat memprihatinkan.
Lalu apa sebabnya? Dalam konteks Indonesia, diperlukan analisis radikal yang memerlukan keberanian. Dan untuk mengubah keadaan itu, diperlukan usaha-usaha yang revolusioner, baik secara kultural maupun struktural. Untuk mengulas itu, baladena.id melakukan wawancara khusus dengan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan sebutan Planet NUFO, Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si., al-Hafidh yang juga pengajar Ilmu Politik FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana oleh para santri muridnya. Berikut ini petikan wawancaranya:
Baladena: “Abah Nasih, kenapa kualitas SDM kita tertinggal jauh di belakang ya, Bah?”
Abana: “Mau pakai indikator apa ini? Semua kan harus pakai ukuran yang jelas. Kuantitatif bahkan mestinya.”
Baladena: “Hasil survey PISA (Programme for International Student Sssessment) bisa kita jadikan sebagai indikator. Dan dalam indikator ini, kita kalah jauh, Bah. Peringkat Indonesia ke-74.”
Abana: “Nah, itu maksud saya. Jangan sampai kita ini dituduh menganggap bangsa kita sendiri sebagai bangsa bodoh tanpa alat ukur yang jelas. Dan itulah yang selama ini jadi keprihatinan saya di dunia pesantren yang saya sudah satu dekade lebih berkecimpung di dalamnya, dan hampir lima tahun terakhir makin intensif mengurusnya dengan mendirikan lagi dan membantu menangani beberapa pesantren baru. Terlebih mengajar di pesantren ini, kalau dibuat ungkapan yang hiporbolik kadang serasa mendorong mobil yang mogok, rem tangannya ketarik, dan masuk gigi satu.”
Baladena: “Kenapa bisa begitu, Bah? Ini yang kita mesti cari pokok permasalahannya. Kita mesti tahu akar tunjangnya, lalu kita cabut dan hilangkan. Agar pendidikan di masa depan benar-benar menghasilkan SDM berkualitas unggul yang bisa kita andalkan untuk berperan optimal dalam segala lini kehidupan.”
Abana: “Persoalannya complicated ya. Dan membicarakan itu, mungkin bisa membuat banyak pihak tersinggung. Tapi menurut saya harus kita lakukan, demi perbaikan kualitas SDM kita, terutama para santri. Harus tarik nafas dulu ini.”
Baladena: “Iya, Bah. Saya kira semuanya mesti siap. Walau pahit mesti kita telan. Semoga jadi obat.”
Abana: “Awalnya, saya melihat persoalan kultur feodal menjadi masalah satu-satunya. Tapi kemudian ini menjadi masalah utama yang bukan satu-satunya. Mungkin bisa juga dianggap sebagai pangkal persoalan yang menyebabkan masalah lainnya. Di perguruan tinggi sekuler pun ada kultur feodal ini, dan terlebih lagi di lingkungan pesantren. Pada umumnya jauh lebih parah. Saya bukan orang baru yang mengatakan ini. Pada tahun 70-an, sudah ada Mochtar Lubis yang mengatakan tentang budaya feodal ini sebagai ciri manusia Indonesia. Murid, mahasiswa, dan/atau santri ibarat rakyat yang harus hanya mengikuti apa pun yang dikatakan oleh guru, dosen, kiai, ajengan dan sebutan-sebutan lainnya. Cuma ya itu tadi, di pesantren, budaya feodal ini jauh lebih kental. Bahkan, bentuk feodalismenya sering kali membuat kecepatan menjadi terhalang. Padahal kemajuan seringkali membutuhkan percepatan.”
Baladena: “Apa itu contohnya, Bah. Dan apakah itu bukan hanya sekedar simbol penghormatan atau adab saja?”
Abana: “Kalau soal adab atau akhlak, itu tidak masalah. Sejak zaman Nabi, soal akhlak juga sudah diajarkan. Tapi budaya yang terbangun di antara sahabat, bahkan kehidupan mereka bersama Nabi, sangat jauh dari yang namanya feodalisme. Tidak pernah ada cerita dalam hadits seorang sahabat berjalan menggunakan dengkul ketika bersama dengan Nabi. Kalau di pesantren kan begini ini masih sering kita temui. Mirip di keraton saja. Padahal, kalau soal akhlak atau adab itu, yang penting sesungguhnya adalah tanda saja, bahwa mahasiswa, santri, dan murid pada umumnya memberikan penghormatan kepada dosen, kiai, dan guru. Itu saja kan. Dan yang paling masalah adalah mengkultuskan orang, seorang yang namanya ustadz, guru, dan kiai itu tidak salah. Atau minimal kepandaian seorang anak kiai, yang kemudian tentu jadi kiai juga, itu karena ilmu ladunni. Ini yang membuat kultur feodal bertahan kuat. Saya melihat, kalau menggunakan ciri-ciri manusia Indonesia yang dikatakan oleh Mochtar Lubis, di pesantren tergabung antara feodalisme dan suka takhayyul berjalin berkelindan secara lebih kuat. Kalau kita membandingkan dengan dunia perguruan tinggi yang sekuler misalnya, di sana berpikir takhayyul berhadapan dengan cara berpikir ilmiah atau saintifik. Itu pun takhayyul tetap tidak hilang. Bungkusnya agama, misalnya.”
Baladena: “Apa implikasi feodalime ini dalam dunia pendidikan?”
Abana: “Akibatnya murid tidak berani beradu adu argumentasi. Di kampus masih ada ewuh pakewuh dengan profesor misalnya. Apalagi kalau di pesantren. Nyaris tidak ada dialektika. Yang paling umum ya pengajian massal. Istilah yang digunakan pada zaman skolastik adalah lectio, guru membaca teks atau menyampaikan doktrin tertentu, tetapi tidak ada yang diperbolehkan untuk mempertanyakan. Satu arah saja. Jika pun terjadi disputatio atau pengajuan pertanyaan untuk dianalisis, tapi pertanyaannya tidak berkualitas. Kalau di forum-forum pengajian ya itu-itu saja. Pertanyaannya tidak akan melampaui qunut itu sebenarnya sunnah atau bid’ah, kalau mau turun sujud dari i’tidal itu tangan dulu atau dengkul dulu?”
Baladena: “Nah, itu sudah dibuka ruang untuk bertanya dan mestinya bisa digunakan untuk berdebat keras. Kenapa itu tidak digunakan?”
Abana: “Nah, ini yang saya sebut tadi sebagai feodalisme sebagai yang utama. Tetapi ada faktor lain yang kemudian saya lihat sebagai faktor lain lagi. Dan ini membuat kita yang sudah sadar untuk tidak berlaku feodal akhirnya juga kadang harus meningkatkan kualitas kesabaran dalam mengajar.”
Baladena: “Apa itu, Bah?”
Abana: “Gizi. Faktor ini disebabkan oleh ekonomi. Dan kalau masalah sebenarnya ekonomi, berarti kesehatan juga ada di dalamnya. Ini masalah yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Tapi saya masih sering dibantah oleh teman-teman ustadz kiai juga. Mereka bilang: ‘santri-santri itu makan hanya dengan sambel terong, kenyataannya pinter-pinter, bisa baca kitab kuning’. Ini menurut saya pernyataan tanpa data dan tidak pakai ukuran kemampuan. Kemampuan bacanya itu level apa? Lebih banyak hafalannya, atau kekuatan logikanya? Hafalannya itu juga seberapa? Kalau PISA kan sudah ada yang ukur. Hasilnya, kita jeblok. Urutan ke-74 sejagat. Hanya di atas Timor Leste yang negara gagal itu. Kan ngeri sekali. Kalau pengalaman saya, anak-anak yang sudah diwisuda hafal al-Qur’an itu, lebih dari 90 persen tidak bisa diajak simaan. Bahkan banyak yang saya uji satu juz saja tidak bunyi. Dan memang, kalau menghafal al-Qur’an tanpa mengerti artinya, sulit bisa hafal total 30 juz. Itu temuan saya. Nah, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa ini berkaitan dengan asupan gizi yang jauh dari kata cukup dan seimbang. Kita bandingkan asupan daging warga negara kita dengan negara-negara yang hasil survey PISAnya tadi teratas. Kita makan daging rata-rata hanya 3 kg pertahun, sementara mereka makan hampir 100 kg pertahun. Ini nyambung dengan kenyataan anak-anak pak kiai lebih cerdas dibanding santri biasa pada umumnya. Mereka cerdas bukan ladunni. Tapi karena dua hal: gizinya cukup dan diajari secara lebih intensif dibandingkan santri pada umumnya. Anak kiai kampung saja, kalau ada kondangan, tahlilan, pengajian, dll. berkatannya bisa dobel. Kalau manakiban dapat ingkung. Iya kan? Lalu dalam hal intensitas belajar, kalau di pesantren ada 100 orang santri saja, maka perbandingan intensitas belajar anak ustadz dengan santri kebanyakan bisa sampai 150 kali lipat.”
Baladena: “Jadi intensitas belajar ini jadi faktor lagi ya, Bah?”
Abana: “Benar. Ini faktor yang saya sebut dengan kualitas dan kuantitas guru. Anak-anak yang kurang gizi, lama-kelamaan akan bosan belajar, karena sudah belajar tapi tak bisa-bisa. Yang punya daya tahan super saja yang akan berhasil. Dan itu jumlahnya sangat kecil. Nanti kita lakukan riset lagi untuk menentukan jumlahnya. Sedangkan anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik, tetapi diajar oleh guru-guru yang medioker, tidak berkualitas cukup, akan menganggap bahwa kelas itu membosankan. Dan kualitas guru kita sekarang, secara umum, tidak semuanya, tapi kebanyakan, ya begitu itu. Guru di Indonesia bukan “profesi” primadona. Bahkan banyak yang karena sudah tidak melakukan apa-apa kemudian banting stir menjadi guru. Wah kan bahaya ini. Pendidikan diserahkan kepada orang-orang yang untuk menentukan masa depannya sendiri saja tak mampu. Bagaimana dia mau menyetir atau mengarahkan anak-anak didik mereka menjadi generasi emas?”
Baladena: “Solusinya bagaimana kalau sudah begitu, Bah?”
Abana: “Waduh, ditanya solusi untuk sebuah negara sebesar Indonesia ini tentu bukan tugas saya. Kata Mas Rocky Gerung, mencari solusi itu tugas pejabat negara yang makan gaji dari rakyat. Hahaha.”
Baladena: “Kalau Abah jadi presiden, minimal menteri pendidikan atau agama, apa yang akan Abah lakukan?”
Abana: “Pinter anda. Bikin pengandaian yang membuat saya tidak bisa mengelak untuk memberikan solusi. Ini memang pertanyaan yang diajukan kepada presiden. Kalau cuma menteri belum sanggup. Atau menko-lah setidaknya. Sebab, ini melibatnya minimal tiga atau empat menteri: kesehatan, pendidikan, agama, dan mungkin juga sosial agar mereka kumpul lalu merumuskan peta jalan melahirkan anak cerdas. Dimulai dari seorang perempuan yang sebelum menikah sudah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu dengan tidak hanya mementingkan pola pikir, tapi juga pola makan. Konsumsi gizinya harus cukup dan seimbang. Lalu saat mengandung mendapatkan perhatian cukup dan mendapatkan fasilitas cukup sampai melahirkan sehingga saat lahir si bayi menangis keras tanda oksigennya langsung sampai ke otak. Setelah lahir mendapatkan ASI eksklusif dan asupan gizi seimbang untuk tumbuh kembang optimal. Pada akhirnya generasi baru ini harus mendapatkan fasilitas pendidikan dan ketrampilan yang berkualitas dalam budaya yang egaliter. Kita lihat sekarang, anak-anak yang lahir sekarang sudah melewati peta jalan itu atau belum?”
Baladena: “Wah, ternyata semua saling kait-mengkait ya, Bah”.
Abana: “Ya memang begitu. Karena itulah, mencerdaskan kehidupan bangsa jadi amanat konstitusi kita. Kalau sudah komprehensif sebagaimana saya bilang itu tadi dalam menangani SDM kita, bolehlah kita berharap lahir generasi emas. Kalau ini tidak diperhatikan, 2045 itu tahun emas kemerdekaan secara formal saja, tetapi untuk benar-benar lahir generasi emas, ya masih hanya sekedar sebagai mimpi saja. Agar jadi kenyataan, agar tidak dikatakan pesimis karena saya mengatakan terlambat, maka sekarang ini kita sudah berada di garis batas paling luar waktu untuk memulai. Dan karena saya tidak mau hanya menggantungkan hanya kepada negara, saya sudah memulai. Setelah saya mendirikan lembaga perkaderan dan tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute di Semarang, dan dari situ saya mengalami banyak ketercengangan, maka saya saya mendirikan lembaga pendidikan menengah bernama Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO di Rembang. Makanannya, kurikulumnya, dan secara umum budayanya saya sesuaikan dengan peta jalan untuk melahirkan generasi emas itu. Semoga Allah menolong.” ***







