Paradigma unity of science sudah mulai terlihat di instansi pendidikan Indonesia. Terbukti, unity of science dijadikan sebagai salah satu syarat transformasi IAIN ke UIN. Dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang integrasi keilmuan di Bogor, Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Arskal Salim (2018) menuturkan bahwa integrasi keilmuan menjadi mandat yang harus dilakukan oleh PTKIN yang bertransformasi menjadi UIN.[1]

Arskal Salim juga mengatakan bahwa paradigma integrasi keilmuan harus diturunkan dalam bentuk kurikulum, buku teks, modul dan peningkatan SDM. Salah satu UIN yang telah melakukannya adalah UIN Walisongo Semarang. Dalam visinya terlihat jelas bahwa UIN Walisongo menginginkan “universitas Islam riset terdepan berbasis pada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban pada tahun 2038.”[2]

Semua prodi yang ada di UIN Walisongo otomatis ikut membantu untuk mewujudkan visi UIN tersebut, termasuk prodi ilmu falak. Dalam visinya, dijelaskan bahwa “prodi ilmu falak terdiri berdasarkan kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban pada tahun 2038.”[3]

Formulasi pembelajaran ilmu falak memang sudah memperlihatkan keharmonisan antara sains dan agama. Salah satu tujuan prodi ilmu falak UIN Walisongo untuk menghasilkan penelitian dalam arah qiblat, menentukan waktu shalat, membuat kalender, dan menentukan awal bulan dan gerhana bisa diwujudkan melalui formulasi di atas.

Namun, perlu diingat bahwa latar belakang unity of science digagas untuk menghapus kejumudan umat Islam, juga membawa kembali kejayaan peradaban Islam.[4] Kecanggihan teknologi saat ini yang dapat menghitung arah qiblat, waktu shalat, waktu kejadian gerhana, dan awal bulan hijriah harus menjadi pertimbangan ke depan. Takutnya, fokus kepada empat pembahasan itu pada era teknologi yang semakin maju malah membuat ilmu falak berputar-putar dalam lingkaran yang sama. Padahal di alam semesta ini masih banyak lingkaran yang membutuhkan sentuhan dari ilmu falak.

Baca Juga  Hadist Larangan Menceritakan Wanita Lain

Pembelajaran ilmu falak harus diformulasikan kembali. Penyempitan pembahasan ilmu falak yang hanya berada dalam pembahasan peristiwa yang berhubungan dengan ibadah tidak terlepas dari penempatan prodi ilmu falak di fakultas syariah. Untuk itu, selain reformulasi pembelajaran ilmu falak ke pembahasan yang lebih luas, pemindahan ilmu falak ke fakultas saintek merupakan upaya yang juga harus diperhatikan untuk mendapatkan tujuan esensial unity of science.

Dalam disiplin ilmu falak, keharmonisan agama dan sains memang sudah terlihat. Namun sayangnya, keharmonisan tersebut hanya terletak pada peristiwa-peristiwa alam yang ada hubungannya dengan ibadah umat Islam; awal waktu shalat, pengukuran arah qiblat, penentuan awal bulan hijriah dan perhitungan waktu kejadian gerhana. Beberapa tokoh ilmu falak periode klasik yang karyanya sangat berpengaruh dalam kemajuan ilmu pengetahuan, menjadi bukti keluasan objek kajian ilmu falak.

Kemajuan teknologi yang semakin berkembang, seharusnya membawa perkembangan juga bagi ilmu falak. Berbagai macam aplikasi saat ini sudah bisa menghitung dan menentukan empat pembahasan yang menjadi objek kajian ilmu falak. Aplikasi itu pun dapat diakses dengan mudah bagi seluruh kalangan, tidak hanya mahasiswa ilmu falak.

Reformulasi pembelajaran ilmu falak penting untuk dilakukan sebagai upaya mewujudkan unity of science. Upaya reformulasi yang dilakukan seharusnya kembali secara luas sebagaimana makna falak secara literal, yakni edar. Dikutip dari enslikopedia Islam, Ilmu Falak didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari benda-benda langit, matahari, bulan, bintang dan planet-planetnya.[5]

Sudah terlalu lama ilmu falak mengalami dikotomi, yang dipelajari saat ini hanya urusan pelaksanaan ibadah. Kurikulum ilmu falak harus dikembalikan kepada hakekat ilmu falak yang sesungguhnya, dengan tidak mendikotomikan antara yang terkait dengan urusan ibadah dan non-ibadah.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Gali Potensi Anak Pedurungan Tengah dengan Kompetisi

Semangat integrasi keilmuan yang diusung oleh UIN-UIN di Indonesia harus dimanfaatkan sebagai sarana mengembalikan kurikulum ilmu falak kepada konsepsi yang sesungguhnya. Syariah tidak pernah mendikotomikan ilmu, tetapi manusialah yang mendikotomikannya atas dasar pragmatisme pemikiran serta ortodoksi kelompok.

Sasaran pendidikan kita harus mengarah kepada pembentukan pribadi yang utuh. Setiap individu diajarkan untuk membaca dan mengitegrasikan wahyu secara tertulis (nash) dan tidak tertulis (alam), lalu diinterpretasikan untuk mewujudkan tatanan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah Swt.

Sarana dan teknologi adalah hal tidak kalah pentingnya dengan kurikulum. Sebaik apapun kurikulum, tanpa didukung sarana dan teknologi tidak akan bisa mencapai hasil maksimal. Saat ini kita (khususnya orang Indonesia) terlalu disibukkan dengan perdebatan yang tidak jelas arahnya.

Ilmu Falak adalah ilmu kauniyah yang pondasi utamanya adalah penelitian alam. Oleh karena itu, sarana dan teknologi untuk mendukung penelitian mutlak diperlukan. Dalam kaitannya dengan ilmu falak keberadaan observatorium adalah sesuatu yang mutlak.

Saat ini, baru ada delapan observatorium di Indonesia, empat diantaranya adalah milik swasta. Padahal idealnya, dengan wilayah Indonesia yang luas, minimal memilki observatorium milik negara yang berskala nasional pada setiap provinsi. Observatorium ini sebagai sarana penelitian dan pengembangan sumber daya manusia untuk menghilangkan ortodoksi keilmuan yang selama ini membelenggu nalar dan daya pikir umat ini.[6]

Bila dibandingkan dengan negara- negara maju, misalnya USA memilki ratusan observatorium berskala nasional, Jepang ada 16 observaorium nasional, India 17 observaorium nasional. Belum lagi observatorium milik lembaga pendidikan dan milik perseorangan yang jumlahnya tidak terhingga. Tentu dengan tingkat teknologi yang jauh dari yang dimilki oleh Indonesia.[7]

Baca Juga  Problematika Sosial di Tengah Pandemi COVID-19

Bacaan penulis, dikotomi dan ortodoksi keilmuan falak antara lain disebabkan kurangnya wawasan umat dalam melihat dan memahami ayat-ayat kauniyah yang disebabkan tidak adanya sarana bagi umat ini untuk berbuat lebih banyak. Dengan peningkatan wawasan terhadap ayat-ayat kauniyah penulis meyakini ortodoksi pengikut hisab dan rukyat akan hilang dengan sendirinya.

Pembatasan kajian disiplin ilmu falak justru mengakibatkan kemunduran berfikir umat. Momentum peralihan status berbagai perguruan tinggi menjadi Universitas (khususnya Universitas Islam Negeri) yang mengusung semangat unity of science seharusnya kita gunakan sebagai pijakan dalam berbenah untuk mengembalikan disiplin ilmu ini pada khittahnya. Pembenahan bisa dimulai dari sisi kurikulum maupun berbagai peralatan pendukung baik berupa laboratorium maupun observatorium yang merupakan sumber data dari ilmu tersebut.

Oleh: Kodrat Alamsyah, Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang

*Tulisan ini pernah menjuarai lomba essay mahasiswa yang diadakan oleh HMJ Ilmu Falak UIN Walisongo

[1]Kemenag, Kemenag Meneguhkan Integrasi Ilmu sebagai Distingsi PTKI, https://diktis.kemenag.go.id, 23 Februari 2018.

[2] Walisongo, Visi, Misi, dan Tujuan UIN Walisongo Semarang, https://walisongo.ac.id, 2017

[3] Ilmu Falak UIN Walisongo, Visi dan Misi Ilmu Falak, http://if.walisongo.ac.id, 2017

[4]Azyumardi Azra, Strategi Pendidikan: Upaya Memahami Wahyu dan Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), 9.

[5] Hafidz Dasuki, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), 330.

[6] Wikipedia, Daftar Observatorium Astronomi, https://en.wikipedia.org, Maret 2020

[7] Wikipedia, Daftar Observatorium Astronomi, https://en.wikipedia.org, Maret 2020

Kodrat Alamsyah
Ketua Umum BPL Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang 2019-2020, Direktur Umum Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) Semarang 2018-2020, Ketua Asosiasi Ilmu Falak Mahasiswa Islam (AFMI) 2017-2020, Wasekum Bidang Informasi dan Media PW GPII Jawa Tengah 2017-2021. Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo

    Cegah Varian Baru COVID-19 Masuk, RI Perketat Gerbang Internasional

    Previous article

    Pengaturan Parkir Mobil di Perkotaan; Belajar dari Jepang

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan