Lulus kuliah S2 hukum di Tiongkok, Su’udut Tashdiq, memilih kembali ke negaranya. Bersama istrinya, Hidayatur Rahmah, yang juga telah selesai menempuh master bidang ekonomi, keduanya awalnya mengajar di beberapa perguruan tinggi di Semarang dan Salatiga. Keduanya lalu merintis wirausaha disinergikan dengan aktivitas pesantren.
“Sudah tidak boleh lagi ada santri lulus dari pesantren miskin. Itu bisa bikin image pesantren jadi jelek. Padahal pesantren ini kawah candradimuka yang harus melahirkan ulama’ yang seluruh pikiran, ucapan, dan tidakan menjadi teladan”, kata lelaki asal Jepara itu.
Saat ini, ada dua bidang wirausaha yang digelutinya, yaitu pertanian dan peternakan. Pertanian intensif dengan green house untuk menghasilkan sayuran untuk mencukupi kebutuhan santri yang makin banyak. Juga tanaman pisang. Sementara di bidang peternakan, domba menjadi pilihan di samping sedang dipersiapkan sapi. Dua usaha ini disinergikan sedemikian rupa, sehingga tidak ada sampah terbuang. Sampah jadi makanan ternak, dan kotoran ternak jadi pupuk yang sangat bagus untuk pertanian. Usaha sinergis inilag yang mendatangkan banyak keuntungan.
Untuk bisa mengikuti pelatihan wirausaha di pesantren Nurul Furqon ternyata sangat mudah. Siapa pun bisa ikut asalkan: 1. Lancar membaca al-Qur’an, 2. Sehat lahir batin, 3. Menguasai matematika dasar (tambah, kurang, bagi, dan kali). Peserta di samping akan dilatih berwirausaha, juga akan mendapatkan kajian keislaman dan kitab kuning setiap hari. Yang berminat, bisa menghubungi langsung Gus Su’ud di +62812-2978-1515.







