Jika Hati Tak Sampai

“Jaga dan rawatlah al-Qur’an (menghafal dan mengamalkannya), demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh al-Qur’an lebih cepat lepas (hilang dari ingatan) daripada lepasnya unta dari ikatannya.” (HR. Bukhari).

Rif’an  namanya. Ia seorang pemuda berkulit kuning langsat, berhidung mancung dan memiliki postur tubuh yang ideal. Rif’an berasal dari daerah yang dikenal sebagai “Kota Santri”, karena memang ada banyak pesantren di daerah tersebut. Rif’an adalah soerang mahasiswa sekaligus aktivis di sebuah perguruan tinggi negeri. Keinginannya untuk menjadi penghafal al-Qur’an sudah ia miliki sejak kecil, sehingga ia sangat semangat ketika melakukan kegiatan-kegiatan yang bersinggungan dengan al-Qur’an.

Ia memilih jalan untuk berhenti kuliah terlebih dahulu, karena ia ingin menyelesaikan hafalannya. Di sisi lain, ia juga ingin mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti tafsir dan ilmu-ilmu dasar tentang i’rabu al-Qur’an. Kecerdasan yang ia miliki tidak kalah dengan teman-teman di sekitarnya, yang juga belajar bersamanya. “Menghafal al-Qur’an memang tidak mudah, namun juga tidak sulit, asalkan mau konsisten dan sabar sampai akhir,” begitulah kata-kata yang selalu diucapkan oleh Rif’an.

Rif’an memiliki kecerdasan dan kecepatan menghafal yang lebih dibandingkan teman-temannya. Pada umumnya santri-santri yang memilih jalur tahfidz mereka menambah hafalan satu sampai dua halaman setiap hari. Namun, berbeda dengan Rif’an, ia mampu menambah hafalan baru hingga empat sampai lima halaman bahkan terkadang bisa lebih. Wajar saja ia bisa seperti itu, karena selain memiliki kecerdasan dalam hafalan, ia pun sudah lumayan menguasai ilmu alat (nahwu dan sharf) yang bisa memudahkan seseorang dalam menghafal al-Qur’an. Ilmu alat diperlukan untuk memahami teks berbahasa Arab. Menghafal sekaligus memahami artinya, itu yang biasa dilakukan oleh Rif’an dalam setiap harinya. Rif’an memang berbeda dengan teman-temannya dalam hal menghafal al-Qur’an, ia banyak dikagumi oleh teman-temannya, dan banyak juga santri putri yang menaruh kagum kepada Rif’an. Ia hampir-hampir terlihat sempurna di mata banyak orang.

“Namun, jangan lupa kesempurnaan hanyalah milik Allah. Manusia pastilah banyak kurangnya. Siapa sangka di balik sosok Rif’an yang terlihat sempurna, ia juga punya kekurangan.

Suatu ketika Rif’an mengalami kegalauan yang luar biasa. Ia menjadi berbeda dari hari-hari biasanya, yang biasanya ia selalu tampak ceria dan semangat dalam menghafal, tapi hari itu serasa ada beban berat yang sedang menimpanya. Ia tidak kuat untuk menahan beban itu sendiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bercerita kepada seseorang yang menurut ia bisa membantu untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpanya tersebut. Gadis itu bernama Hilya, gadis sederhana kelahiran kota Kretek.

Pagi hari seusai setoran, ia bertemu dengan Hilya. Ia menceritakan semua masalah yang sedang menimpanya kepada Hilya.

“Hilya, aku ingin cerita sama kamu,” kata Rif’an memulai pembicaraan.”

“Iya, Rif’an, silahkan. Apa yang bisa saya bantu?” jawab Hilya penuh penghormatan.

“Hilya, kamu kan tahu sendiri bagaimana diriku selama ini ketika di pesantren, aku dikenal teman-teman unggul dalam hafalan dibandingkan dengan mereka. Tapi kenapa sudah hampir satu minggu ini hafalanku tidak bertambah dan malah banyak yang tidak lancar, padahal aku juga sering mengulang-ulang dan membacanya. Aku merasa ada yang berbeda dengan diriku, aku tidak tahu harus bagaimana, Hilya?” Rif’an menceritakan kgelisahannya secara panjang lebar.

“Boleh aku tanya sesuatu kepadamu, Rif’an? Tapi tolong jawab jujur ya.”

“Iya, Hilya, in syaa’a Allah akan aku jawab jujur. Silakan tanya saja.”

“Apa niatmu mengahafal al-Qur’an selama ini?”

“Ya mencari ridla Allah lah, Hilya,” jawab Rif’an dengan nada sedikit kikuk.

“Jangan tidak jujur, Rif’an! Agar masalah ini bisa diselesaikan dengan tepat,” kata Hilya memberikan penegasan.

“Emmmmm…. Apa ya?” Rif’an kali ini agak kebingungan menjawab pertanyaan Hilya.

“Jawab saja, Rif’an. Aku hanya ingin memastikan, barangkali aku bisa membantumu untuk menyelesaikan maslah ini.”

“Baiklah, Hilya. Jujur, aku bingung ketika kamu bertanya itu kepadaku. Tapi, aku akan berusaha untuk menjawabnya. Niatku menghafal al-Qur’an, aku ingin mempunyai satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-teman kuliahku di sana. Maka dari itu, aku memilih cuti kuliah untuk sementara waktu kemudian memilih fokus menghafalkan al-Qur’an.”

“Sudah cukup itu, Rif’an?”

“Iya, Hilya. Apakah ada yang salah dengan diriku?”

“Akan aku jawab, tapi tolong kamu dengarkan dengan baik dan jangan sakit hati ya, Rif’an.”

“Siap, Hilya. Akan aku dengarkan apapun yang kamu katakan.”

“Rif’an, kamu harus segera bertaubat. Ada yang salah dengan dirimu. Kamu menghafalkan al-Qur’an bukan semata-mata karena Allah. Tapi, karena manusia. Kamu hanya mengedepankan gengsimu, tanpa kamu memikirkan akibatnya. Padahal kamu sudah diberikan oleh Allah kelebihan-kelebihan yang tidak tentu dimiliki oleh teman-temanmu. Lalu kenapa kamu tidak bersyukur dan hatimu tak sampai untuk itu?” Hilya dengan nada sedih berusaha menjelaskan banyak hal kepada Rif’an, bagaimana sejatinya seorang penghafal harus bersikap dan selalu menjaga niat.

Sambil menunduk dibaluti rasa sedih dan pikiran yang tidak karuan, Rif’an mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Hilya. Rif’an pun kembali berpikir, lalu berkata dalam hati, “Berarti selama ini niatku salah?”

Rif’an menyesal. Ia kemudian bermunajat kepada Tuhan atas apa yang ia telah perbuat.

Aku tidak pernah menyadari itu, dan akupun tidak pernah mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepadaku selama ini. Sehingga aku tidak pernah merasakan ketenangan hati yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang menghafalkan al-Qur’an. Ya Allah…hatiku serasa mati, aku tidak tau jika semua ini adalah akibat dari ketidak hadirannya hatiku dalam setiap aktivitas yang ku lakukan, serta ketidak syukuranku atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku selama ini.

Ampunilah dosa-dosa hamba selama ini, Ya Allah. Ketika sedang melakukan ibadah shalatpun aku tidak merasakan ketenangan jiwa, padahal aku tahu arti setiap ayat-ayat yang ku baca ketika sedang shalat. Lalu,apa gunanya semua itu ku laukan? Jika selama ini aku tidak pernah menghadirkan hatiku, yang seharusnya selalu ku ikut sertakan dalam setiap aktivitasku. Aku bersyukur, Allah mempertemukanku dengan Hilya.

Setidaknya dia bisa mengembalikan kesadaranku. Mungkin selama ini mata hatiku tertutup oleh kesombongan dan rasa puas atas pujian-pujian yang selama ini orang-orang sanjungkan kepadaku. Hingga akhirnya aku tidak menyadari bahwa semua ini adalah atas kekuasan dan kehendak Allah. Allah sangat mudah mencabut nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada hambanya, termasuk nikmat yang sudah diberikan kepadaku.

Apapun yang dilakukan, seorang harus mendasarkan segala sikap, perilaku, dan tindakan pada niat yang benar, yakni hanya kepada Allah swt. Begitulah, panduan di dalam Islam, sebagaimana yang terdapat di dalam hadits.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatantergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR. Bukhari).

Oleh: Hulya Inara, belajar merangkai kata demi menyusun masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *