Oleh: Uswah Anggita, Mahasiswa UIN Satu Tulungagung
Ajaran yang haq dan sempurna, datang membawa martabat manusia yang setara;
perbedaannya hanya terletak pada bukti ketakwaan.
Dua puluh satu November—tanggal yang sama dengan usiaku—di tempat ini
wawasan baru tentang agamaku kembali terbuka:
tentang Jahiliah, Israil, Wahyu, dan Hijrah.
Tak kusangka, kedatanganku yang semula hanya berkedok menerima kado ulang tahun,
justru mencerahkan pengetahuanku sedemikian rupa.
Aku bersyukur dapat duduk bersama teman-teman screening
yang begitu hangat dan menyenangkan.
Dua master yang kutemui pun meninggalkan kesan mendalam.
Awalnya ada sedikit kecewa, karena keraguanku membuat mulutku bungkam.
Namun pada kesempatan kedua, aku berhasil menyibak sesal itu
dengan keberanian yang akhirnya tumbuh.
Sejak saat ini intelektualku mulai terasah,
keberanianku kupupuk, meski rasa takut sempat enggan surut.
Pengetahuanku bertambah;
yang sebelumnya buram kini menjadi terang benderang.
Namun satu hal tentang Islam yang masih kusayangkan adalah
ketika ia—oleh sebagian orang—dibungkus kepentingan,
dijadikan alat membatasi, mengekang, bahkan mencekik secara halus dan terstruktur dalam budaya.
Meski demikian, selalu ada yang mampu menyuarakan penawar.
Dan aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk percaya,
memeluk Islam sepenuh keyakinan,
serta meyakininya sebagai ajaran yang menyempurnakan.







