Irman Gusman: Masa Transisi Pascabencana Jadi Penentu Keberhasilan Rehab–Rekon Sumbar

Penegasan tersebut disampaikan Irman dalam diskusi dan dialog Penanggulangan Bencana Sumbar yang digelar di Kantor DPD Provinsi Sumbar, Rabu (7/1/2025) malam.

Diskusi bertema “Upaya dan Langkah-Langkah Strategis Masa Transisi Menuju Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Barat” itu dihadiri unsur DPD RI, pemerintah daerah, akademisi, organisasi pers, pakar kebencanaan, serta tokoh masyarakat.

Irman menyampaikan, fase tanggap darurat atas bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat sejak 26 November 2025 telah berakhir.

Saat ini, lanjut Irman, daerah memasuki masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi yang menuntut perencanaan matang dan langkah strategis yang terukur.

“Kita telah melewati fase tanggap darurat. Sekarang Sumatera Barat berada pada masa transisi yang sangat menentukan. Keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sangat bergantung pada kualitas keputusan dan kebijakan yang diambil pada fase ini,” ujar Irman.

Mantan Ketua DPD RI dua periode itu menekankan pentingnya akurasi dan validasi data kerusakan serta kerugian dari 16 kabupaten dan kota terdampak sebagai dasar penyusunan Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Sumbar.

“Data harus akurat, terverifikasi, dan komprehensif. Tanpa basis data yang kuat, kebijakan pemulihan berisiko tidak tepat sasaran dan berpotensi menimbulkan kesenjangan,” tegas Irman.

Selain itu, Irman mendorong percepatan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, khususnya penyediaan hunian sementara (huntara), terlebih menjelang bulan Ramadhan.

Menurut Irman, pendekatan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pascabencana.

Diskusi tersebut juga menyoroti perlunya langkah antisipatif terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi cuaca yang belum stabil dan tingginya kerawanan bencana di sejumlah wilayah.

Normalisasi dan pengerukan sungai dinilai sebagai kebutuhan mendesak dalam upaya pengurangan risiko bencana

Dalam konteks pemulihan ekonomi, Irman menekankan pentingnya pelaksanaan program padat karya, pelibatan langsung masyarakat terdampak, serta penguatan sektor UMKM agar proses pemulihan berlangsung inklusif dan berkelanjutan.

“Jika dikelola dan dioptimalkan dengan baik, momentum rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana justru dapat menjadi titik balik penguatan ekonomi masyarakat,” cetus Irman.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar Arry Yuswandi menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor selama masa transisi pascabencana.

Dirinya menegaskan, sinergi antara pemerintah, legislatif, akademisi, pers, dan masyarakat menjadi kunci pemulihan yang terarah dan terukur.

Diskusi dan dialog tersebut diharapkan menghasilkan kesepahaman bersama terkait prioritas masa transisi, rekomendasi strategis untuk penyempurnaan dokumen R3P Sumbar, serta penguatan komitmen kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan dan mitigasi bencana jangka panjang.

Irman menutup diskusi dengan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses pemulihan pascabencana di Sumbar agar daerah tidak hanya pulih, tetapi bangkit dengan fondasi ketangguhan yang lebih kuat ke depan. (Daniel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *