Masyarakat Indonesia tengah gempar terhadap kemunculan Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoeljono yang mengaku dirinya sebagai Nabi ke-26. Pengakuan Jozeph Paul Zhang tersebut diunggah melalui akun Youtubenya.

Menurut M. Abdul Rozaq, S.H., Ketua Bidang Dakwah PW GPII Jateng, Zhang layak dipenjara karena telah melakukan beberapa penyimpangan.

“Dalam catatan sejarah hal ini bukan yang pertama kali terjadi. Jika dilihat secara nalar, ada dua dasar pemikiran. Yang pertama, berdasarkan dalil nash, dijelaskan dalam QS. al-Ahzab ayat 40 bahwa Nabi Muhammad adalah penutup dari para nabi. Dari dalil tersebut menegaskan kepada kita untuk menolak setiap pengakuan orang-orang yang menjadi Nabi pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Yang kedua, dalil aqli. Jika ia adalah seorang nabi, maka sepatutnya Nabi itu menjadi prototype yang sangat sempurna untuk kita ikuti, mulai dari nasabnya, ucapannya, sikapnya. Namun, Zhang tidaklah demikian. Nasab Zhang tidak jelas, bahkan ia mengolok-olok umat Islam, mengejek karakter Nabi Muhammad, dan menghina agama Islam. Maka atas dasar itulah ia layak dipenjara,” jelas Rozaq.

“Jika apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran, maka tidak sepatutnya ia bersembunyi seperti sekarang ini, dan tidak melakukan syaembara bagi siapa yang bisa memasukkannya ke dalam penjara, maka dia akan memberikan hadiah berupa uang. Hal ini tentu bukanlah sebuah kebenaran, namun sebuah klaim kebenaran yang sebenarnya adalah salah,” tambah Rozaq.

Sedangkan menurut Abdurrahman Syafrianto, S.H., Departemen Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PW GPII) Jawa Tengah menilai pengakuan Jozeph Paul Zhang sebagai Nabi yang ke-26 telah memenuhi 2 unsur pelanggran.

Baca Juga  Sekolah Alam Paling Keren di Rembang

“Setidaknya ada 2 unsur pasal yang telah dilanggar Paul Zhang, yaitu: pertama adalah ujaran kebencian  yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45A dan kedua penistaan agama yang diatur dalam Pasal 156 huruf a KUHP,” jelas Rahman.

Berdasarkan informasi terkini dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM disebutkan bahwa Joseph Paul Zhang atau yang memiliki nama asli Shindy Paul Soerjomoeljono berada di luar Indonesia sejak 2018 lalu.

Meskpiun Paul Zhang sudah berada di luar negeri, Rahman menjelaskan bahwa UU ITE ini memiliki asas ekstrateritorial. Artinya UU ini berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan hukum, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia. UU ini juga berlaku jika perbuatan memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia, serta merugikan kepentingan Indonesia.

“Tidak ada alasan bagi Paul Zhang untuk tidak diproses secara hukum, sehingga kami mendesak supaya Paul Zhang segera ditangkap, di mana pun dia berada. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya, tanpa pandang bulu,” tegasnya.

Nama Kyai Hasyim Asy’ari Dihilangkan dalam Kamus Sejarah Indonesia F-PAN: Mas Mentri “Hattrick” Keteledoran

Previous article

Buku Kamus Sejarah Indonesia: Tak Ada Pendiri NU, Ada Mahaguru Komunis

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Nasional