Gegara Lalat Bisa Masuk Neraka, Gegara Lalat Bisa Masuk Surga

Oleh: Dr. Achmad Maimun, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Hikmah Jum’at kali ini berhubungan dengan perilaku syirik. Syirik merupakan dosa besar yang menyebabkan seseorang tidak diampuni oleh Allah, yakni jika ia meninggal dunia sementara itu belum mertobat dari kesyirikan yang dilakukannya. Al-Qur’an menyebut syirik ini sebagai kedzaliman yang besar. Saking krusialnya masalah ini, sampai-sampai hal pertama yang diwasiatkan oleh Luqmanul Hakim pada anaknya adalah untuk tidak berbuat syirik, janganlah menyekutukan Allah.

Kewaspadaan seorang muslim terhadap syirik ini memang harus ekstra. Mengapa, karena syirik itu sangat halus dan lembut, hingga pelakunya tidak menyadari telah melakukan perbuatan syirik. Ibn Abbas mengibaratkan ketidak kentaraan syirik itu seperti merayapnya semut di atas batu hitam di malam yang gelap gulita.

الشرك أخفى من دبيب النمل على صفاء سوداء في ظلمة الليل

Syirik itu lebih lembut dari merayapnya semut di atas batu hitam di malam gelap gulita.

Analogi dari Ibn Abbas tersebut tampaknya disandarkan pada penjelasan Rasulullah. Beliau menjelaskan tentang lembutnya dosa syirik dan bagaimana berdoa untuk terhindar dari dosa syirik baik yang diketahui maupun yang tidak. Berikut ini kutipan riwayatnya seperti termaktub dalam buku Taujihaat Nabawiyah, ’ala ath-Thariiq

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل وسأدلك على شيء إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكباره تقول أللهم إنى أعوذبك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما أعلم

Rasulullah saw. bersabda: ”Syirik yang terjadi pada diri kalian itu lebih lembut dari merayapnya semut. Saya akan menunjukkan kamu sesuatu jika hal itu kamu lakukan maka syirik kecil maupun besar bisa hilang darimu. Berdoalah begini: ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik dan saya tahu akan hal itu, dan saya memohon ampunan kepada-Mu (dari dosa syirik) yang mana aku tidak mengetahuinya.”

Syirik atau menyekutukan Allah itu bisa menyangkut aspek rububiyah maupun aspek uluhiyahnya Allah. Ada contoh perilaku yang nyrempet-nyrempet atau bahkan sudah termasuk syirik. *Belasan tahun silam saya pernah diajak oleh senior saya untuk melakukan penelitian di Kedung Ombo selama dua tahun. Suatu ketika dalam perjalan menuju ke sana, ada orang yang menyetop dan kemudian menumpang mobil yang kita kendarai. Orang tersebut tampak kalut dan tergopoh-gopoh.

Cerita punya cerita, dia mau berangkat lagi ke Jakarta untuk berdagang setelah beberapa lama pulang kampung, namun ada barang (dia sebut sebagai cekelan ) yang lupa ia bawa. Dia menyakini cekelan nya itulah yang selama ini membuat usahanya di perantauan berhasil. Maka meskipun sudah beli tiket bus, ia rela batalkan perjalanannya itu demi mengambil cekelan nya tadi itu. Karena jika cekelan tersebut tidak dibawa, ia takut jangan-jangan nanti dagangannya tidak laku, usahanya tidak lancar. Astaghfirullah. Bisa jadi awalnya cekelan tersebut hanya ia posisikan sebagai lantaran saja, tapi lama-kelamaan tidak terasa lantaran tersebut sudah bergeser dianggap sebagai yang membuat usahanya berhasil. Na’udzubillahi min dzaalik.

Dalam hal syirik ini, ada sebuah atsar tentang sesuatu yang dianggap mbaurekso di suatu kampung, siapapun yang lewat di situ harus melakukan persembahan, karena yang mBaurekso tersebut dianggap yang selama ini memberikan perlindungan, rezeki, keselamatan dan sebagainya di kampung tersebut. Berikut ini adalah kutipan atsar dimaksud yang disandarkan kepada Shahabat Rasulullah, Salman al-Farisi.

عن طارق بن شهاب عن سلمان قال دخل رجل الجنة في ذباب ودخل النار رجل في ذباب، قالوا: وكيف ذلك؟ قال مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئا، فقالوا لأحدهما قرب؟ قال ليس عندي شيء، فقالوا له قرب ولو ذبابا فقرب ذبابا فخلوا سبيله قال فدخل النار وقالوا للأخر قرب ولو ذبابا؟ قال ما كنت لأقرب لأحد شيئا دون الله عز وجل قال فضربوا عنقه فدخل الجنة

Dari Thariq bin Syihab dari Salman dia berkata: “Ada seorang lelaki yang masuk surga gegara seekor lalat dan ada yang masuk neraka juga gegara lalat. Mereka (yang lainnya) berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Dia (Salman) berkata: “Ada dua orang melewati suatu kaum yang mana mereka memiliki berhala yang dianggap mbaurekso. Tidak seorangpun bisa melewati mereka kecuali ia telah mempersembahkan sesuatu untuk berhala tersebut. Mandanganu kaum tersebut mengatakan kepada salah satu dari kedua orang yang lewat tadi: “Persembahkanlah sesuatu (untuk berhala kami). Lelaki tersebut menjawab: “Saku tidak punya apa-apa. Hla mandanganu mereka mengatakan lagi: Persembahkan (kepada berhala kami) walau hanya dengan seekor lalat, kemudian lelaki yang satu tadi mempersembahkan lalat untuknya. Maka dibukalah jalan untuk melewatinya. Ia (Salman) berkata, karena itu ia masuk neraka. Selanjutnya mereka mengatakan kepada lelaki yang satunya lagi: ”Persembahkanlah meskipun hanya dengan seekor lalat. Lelaki yang satunya itu kemudian mengatakan: ”Saya tidak akan mempersembahkan sesuatu kepada apapun selain kepada Allah Azza wa Jalla. Ia (Salman) berkata: Mereka kemudian memukul tengkuk lehernya, dan ia masuk surga.

Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan dari kesyirikan yang membinasakan manusia khususnya ketika sudah berada di etape kehidupan berikutnya. Demikian Hikmah Jum’at kali ini, semoga Allah memberikan manfaat dengannya. Billaahi fii sabiili al-haq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *