Berpikir Ideologis, Berwawasan Politis, dan Bertindak Taktis

Baladena.ID/Istimewa

Baladena.ID – Bagi umat Islam, kehidupan ini harus dijalani dengan dasar nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits atau Sunnah Nabi Muhammad saw.. Nilai-nilai itu bisa disebut sebagai ideology yang menjadi kerangka berpikir. Namun, seringkali untuk menjalaninya, ada banyak hambatan dan rintangan. Karena itu, diperlukan wawasan politis. Tidak cukup dengan itu, implementasinya dalam bentuk tindakan juga harus taktis strategis, agar tidak menjadi boomerang.

Untuk membahas ini, Baladena.id melakukan wawancara dengan Dr. Mohammad Nasih, M.Si., pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ dan juga pengasuh dua pesantren, yaitu: Pesantren Darul Qalam-Monasmuda Institute Semarang dan Pesantren Nurul Furqon “Planet NUFO” Rembang yang saat ini juga menjadi Caleg PAN DPR RI dapil I (Kota & Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga) nomor urut 1. Berikut petikannya:

Baladena: “Abah Nasih, bagaimana sesungguhnya bangunan ideologi umat Islam ini?”

Abana: “Sederhana saja. Ikuti saja yang sudah ada dalam al-Qur’an dan hadits. Laksanakan yang diperintahkan, dan tinggalkan larangan. Namun, pastikan memahami dengan baik teks-teks al-Qur’an dengan melibatkan konteks sosio-historisnya, agar pesan moralnya tertangkap. Kalau memahami secara tekstual, justru akan membuat ajaran Islam yang canggih akan terlihat ketinggalan zaman.”

Bacaan Lainnya

Baladena: “Nah, itu masalahnya. Seringkali mayoritas umat Islam ini terkesan saklek.”

Abana: “Memang untuk tidak saklek itu diperlukan proses dengan visi berkemajuan. Harus ada visi besar yang akan dicapai walaupun dengan jalan bertahap atau bahkan melingkar. Persis seperti kita melakukan perjalanan. Kalau jalan lurusnya sedang lengang, ya tentu itu yang kita pilih, karena jaraknya lebih dekat, dan tentu waktu tempuhnya lebih cepat. Tapi, kalau jalan lurusnya macet, tentu kita pilih ring road   atau jalur lingkar. Jaraknya memang lebih panjang, waktu tempuhnya juga agak panjang tentu saja, tetapi tidak terjebak kemacetan. Intinya kita tidak boleh menganggap bahwa hanya ada satu jalan. Ada jalan konvensional, adalah jalur lingkar, dan bahkan ada jalan toll. Setiap orang memiliki pilihan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan.”

Baladena: “Ada contoh konkret dalam kehidupan politik kita?”

Abana: “Banyak sekali. Saya mau sebut yang sudah satu dekade ini saya perjuangkan, yaitu: cuti hamil melahirkan dan menyusui. Secara ideologis, karena ada ayat di surat al-Baqarah: 233 untuk menyusui selama dua tahun dan al-Ahqaf: 15 tentang hamil dan menyusui selama 30 bulan, maka saya sangat ingin ada kebijakan negara yang memberikan waktu khusus kepada para ibu untuk memberikan perhatian khusus kepada janin dan bayinya. Sebab, ini berpengaruh kepada kualitas generasi masa depan. Tahun 2013 saya desakkan ini melalui Fraksi PAN. Ketuanya waktu itu Mas Tjatur Sapto Edy. Saya bilang bahwa kita kalah oleh Kanada dan Finlandia dalam urusan ini karena Indonesia memberikan cuti  hanya tiga bulan saja. Maka anak-anak kita ini jadi ‘anak sapi’. Hahaha. Tapi kalau dua tahun, katanya masih sangat berat. Bahkan walaupun hanya satu tahun. Mas Tjatur waktu itu membuka peluang 9 bulan. Langsung saya tangkap.”

Baladena: “Kenapa hanya 9 bulan?”

Abana: “Nah, itulah yang disebut wawasan politik. Kita harus paham konstalasi politik. Kalau dua tahun, tentu itu ideal. Tapi kalau mayoritas pengambil kebijakan politik tidak setuju, kan tidak ada gunanya juga. Kan kaidahnya ‘maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku ba’dluhu, sesuatu yang tidak bisa dicapai secara keseluruhan, sebagiannya yang bisa dicapai, jangan ditinggalkan”. Kalau tidak bisa 2 tahun atau 24 bulan, 9 bulan pun jadi. Kira-kira begitu. Dan untuk mewujudkan itu, ternyata perlu strategi khusus. Walaupun sampai sekarang, gagasan ini belum juga terwujud, karena belum ada partai lain yang mendukung. Berarti harus ada strategi baru yang ditempuh agar kebijakan ini bisa terealisir. Kita punya undang-undangnya.”

Baladena: “Berarti perjuangan politik itu panjang ya?”

Abana: “Bukan hanya panjang, tetapi menurut saya paling berat. Maka diperlukan orang-orang yang tidak mutungan. Harus memiliki semangat juang tinggi dan banyak akal. Jika satu jalan tertutup, harus segera mencari jalan lain. Juga siap dicaci maki banyak orang. Sebab, jalan-jalan strategis itu biasanya tidak dilihat oleh banyak orang. Dikiranya jalan yang sesat. Yang penting istiqamah kepada tujuan akhir. Kalau waktunya tidak cukup, ide itu harus disampaikan kepada generasi berikutnya agar dilanjutkan dan tidak putus di tengah jalan.”

Baladena: “Apakah karena itu Abah Nasih maju sebagai caleg?”

Abana: “Ya di antaranya karena itu. Gagasan kita kadang tidak bisa dititipkan. Kalau kita bisa melakukannya sendiri, sepertinya itu lebih baik. Maka saya selalu mengajak kepada siapa pun yang memiliki kesiapan ilmu dan harta, untuk merebut kuasa. Kekuasaan ini harus ada di tangan yang tepat. Kekuasaan itu seperti pisau dapur. Di tangan emak-emak yang hendak masak, sangat bermanfaat. Tapi jika direbut perampok, bisa sangat berbahaya.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *