“kukuruyuk………kukuruyuk……….kukuruyuk….”suara ayam mengawali hari. Hawa dingin nan sejuk menyelimuti badan. Suara alu yang dipukulkan ke lumpang untuk mengahaluskan bumbu masakan saling sahut sahutan mengalahkan suara ayam. Hanya sedikit orang yang dapat merasakan. Sosok seorang Ibu termasuk salah satu orang yang bisa merasakannya. Sedangkan seorang anak, banyak yang tidak bisa merasakannya.
“Syah, ayo bangun.”suara Bu Nie membangunkan anaknya setelah semua pekerjaan selesai. “Syah, ayo bangun shalat. Sudah siang lho.”kembali Bu Nie membangunkan anaknya sambil menarik selimutnya.
Ardiyansyah yang sering dipanggil Syah akhirnya bangun dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan, kemudian wudhu lalu shalat subuh. Ardiansyah adalah putra satu-satunya yang dimiliki Bu Nie. Bukan karena ia anak tunggal, akan tetapi karena kakak dan adiknya telah meninggal dunia. Kakaknya meninggal karena kecelakaan ketika masih duduk di bangku SMA kelas 2 dan adiknya meninggal 2 tahun setelah kakaknya. Sebab mengidap penyakit kanker mata stadium akhir.
Mentari mulai muncul dengan malu-malu. Syah buru-buru pergi dari rumah karena ada janji bertemu di kampus dengan Zli.
“Buk, saya pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” Syah berpamitan kepada Bu Nie sembari menghabiskan susu miliknya.
“Wa’alaikumussalam, Nak. Hati-hati. Semoga engkau sampai ditempat kuliah dengan selamat. Aamiin.”jawab Bu Nie sambil melihat dari jendela ketika anaknya pergi.
Sesampainya di kampus, Syah melihat Zli sudah duduk di tempat janjian. Tanpa pikir panjang, Syah menghampirinya.
“Sudah nunggu lama ya, Zli?” tanya Syah sebelum meminta maaf atas keterlambatannya.
“Iya, Syah. Saya juga sudah tiduran tadi.”jawab Zli bercanda.
“Pasti sudah sampai nyium rumput.”Syah ikut membuat candaan.
“he he he he….”keduanya saling ketawa.
“Mohon maafkan saya ya, Zli,” pinta Syah.
“Ok. Jangan diulang lagi ya. Janji?”jawab Zli
“Janji, sayang,” sumpah Syah kepada kekasihnya.
Percakapan mulai berlanjut. Gelak tawa menenggelamkan keduanya. Hingga ketika orang melihatnya pasti akan merasa iri dengan sepasang kekasih ini. Sampai pada akhirnya percakapan mereka mulai serius.
“Zli, kira-kira apa yang harus saya lakukan dengan uang hasil balap motor tadi malam?” tanya Syah sambil mengeluarkan uang dari tasnya.
“Biasanya kan Mas pakai untuk nongkrong bersama teman-teman Mas. Kenapa sekarang Mas jadi bingung?”jawab Zli cuek.
“heeeeeeeeeeeeeeeee…..itu kan saya yang dulu. Semenjak sama Zli, saya kan sudah berubah,” Syah menjawab pertanyaan Zli dengan muka manis.
“eeeeeeeeeeeeeeh ingat Mas, itu bukan karena Zli tapi Ibuklah yang berjasa. Setiap hari Ibuk mendoakan Mas supaya menjadi orang yan lebih baik setiap harinya,” Zli mengingatkannya.
“Iya, yang. Terima kasih sudah mengingatkanku,” ucap Syah.
Sedih, kesepian, dan bingung. Hal ini dirasakan oleh Syah. Apalagi setelah Ayah Syah mengahadap ilahi. Hingga akhirnya Syah yang semula mendapat julukan sebagai anak baik, kini dia di cap sebagai anak yang buruk. Bukan buruk karena rupanya lho, akan tetapi buruk sikap dan sifatnya. Namun sikap dan sifatnya yang awal bisa balik karena Zli. Perempuan yang di jadikan pacar ketika masuk sekolah hingga Syah sekarang sudah semester empat.
Embun pagi membasahi jendela kamar Syah dan sang raja siang belum muncul kepermukaan. Syah dan Ibunya sedang makan bersama.
“Tumben banget, Syah. Hari libur kok rapi sekali. Mau kemana?”tanya Bu Nie.
“Mau ketemu Zli, Bu,” jawab Syah.
Setelah sarapan Syah pamit pergi bertemu Zli kepada Ibunya. Ibunya mengizinkan dan menitip salam untuk Zli. Pertemuan yang didambakan akhirnya terjadi. Syah yang tampak bersemangat sampai ditempat tujuan duluan. Baru setelah beberapa menit kemudian Zli datang.
“hai Syah. Sudah lama?”tanya Zli basa basi.
“belum lama, say,” Syah berbohong.
“Nih, minum dulu”Syah menyodorkan minuman segar untuk Zli.
“Thanks, Mas Syah,” Zli menerimanya lalu duduk di dekat Syah.
Mereka pun minum. Sembari minum Zli berfikir keras untuk mengungkapkan hal yang ingin disampaikannya denan tidak menyakiti hati Syah dan ia bisa membantu Ayahnya.
“Mas, gimana kabar Ibuk?”tanya Zli.
“Alhamdulillah. Baik, Say,” jawab Syah.
“Alhamdulillah kalau seperti itu. Mas, mohon Mas jangan pernah menyakiti Ibuk lagi ya. Jaga Ibuk Mas,” pinta Zli.
“Pasti, In Syaa’a Allah,” seru Syah.
“Mas, sepertinya dunia lebih suka jika kita jauh.”ucap Zli memandang kedepan dengan santai.
“Apa maksudmu, say?” tanya Sya dengan heran dan penasaran sambil memegang tangan Zli.
“Mungkin cerita antara surat dan Amplop hanya bisa sampai sini. Sebelum mereka dipaksa untuk berpisah.”Zli mengucapkannya sambil menahan air mata yang endak berlinang.
“Kita ini, saya dan kamu yang akan terus bersama,” Syah meyakinkan Zli.
“Saya sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” Zli mengucapkannya dengan tegas.
“Beri aku alasan yang jelas, biar saya bisa memutuskan pergi atau tinggal,” pinta Syah.
“Perusahaan Ayaku bangkrut. Kami sudah tidak punya apaun sekarang. Toko Ibu saya adalah satu-satunya mata pencaharian kami. Sedangkan saya masih punya tiga adik yang membutuhkan biaya banyak. Akhirnya Ayah saya memaksa saya untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki mapan yang mempunyai segalanya.” Air mata Zli mengalir tanpa harus di perintah.
Zli pamit kepada Syah setelah menjelaskannya. Sebelum benar-benar pergi, Zli memeluk Syah dan meminta kepada Syah agar tetap berbakti kepada orang tua dan tidak kembali ke sifat dan sikapnya yang jelek. Syah anya terdiam pasrah dan tidak mampu berkata apapun. Bahkan Syah hanya bisa melihat kepergian Zli tanpa bisa mencegahnya. Setelah Zli tidak terlihat, Syah meluapkan rasa sakitnya dengan cara menendang tempat duduk sambil berkata “Brengsek”.
Perasaan Syah yang hancur membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Di jalan Syah mengendari Motornya dengan bruntal. Hingga Syah hampir menabrak orang yang sedang menyebrang. Namun alhamdulillah kecelakaan itu tidak terjadi. Sampai dirumah, Syah menukar kunci motor dengan kunci mobil miliknya tanpa izin dari Ibunya dan pergi tanpa pamit.
Bu Nie yang baru datang dari belanja, heran dengan sikap anaknya yang berubah tiba-tiba. Ia takut kalau Syah balik ke jalan yang salah. Ketakutan Bu Nie terbukti ketika malam sudah larut. Syah tak kunjung pulang. Jelas terlihat dari sikap dan wajahnya, Bu Nie khawatir. Duduk di sofa lalu berdiri. Jalan ke pojok sana jalan kepojok sini dilakukan Bu Nie.
Dua hari sudah berlalu, Syah akhirnya pulang juga setelah tanpa kabar. Kedatangan Syah membuat hati Bu Nie berbunga bunga. Rasa khawatir hilang entah kemana. Namun rasa itu muncul kembali ketika ia mengetahui bahwa kepulangan Syah untuk pergi kembali. Syah meminta Izin kepada Ibuknya untuk tinggal di Rumahnya dulu yang ada di Jakarta.
Bersambung…
Oleh: Lia Puji Lestari







