Dewasa dalam Beragama

Menua adalah keniscayaan, tapi dewasa adalah pilihan. Setiap hari kita bertambah umur yang berarti berkurang jatah hidup secara otomatis. Namun menjadi dewasa tidaklah demikian. Kita mesti digembleng oleh lingkungan sekaligus menggembleng diri untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang dewasa.

Ciri-ciri orang dewasa yang paling menonjol adalah bertanggungjawab. Mempunyai alasan dalam memutuskan sebuah sikap dan bersiap dengan segala resiko yang mungkin muncul. Saat melakukan kesalahan, pantang baginya tetap merasa benar dengan mencari pihak lain untuk disalahkan. Ia akan mengakui, minta maaf, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Ketika Gus Mus mengibaratkan beragama itu sekolah, maka umatnya berada di level pendidikan yang berjenjang mulai dari PAUD sampai dengan S3 bahkan ada yg sampai Guru Besar. Karena dawuh beliau, kearifan dalam beragama itu sangat penting. Nah, jenjang ini menurut penulis tidak ditentukan oleh usia penganut agama, baik usia hidup maupun usia sebagai penganut, melainkan pada kedewasaan dalam beragama.

Kita bisa saja sudah sangat lama memeluk suatu agama, bahkan sejak lahir. Namun jika tidak memroses diri secara sadar untuk mengenali visi-misi agama tersebut, menghayati ajaran dan nilai luhurnya, lalu ikhtiyar semaksimal mungkin menerapkannya, barangkali kita juga belum beranjak dewasa dalam beragama.

Bacaan Lainnya

Salah satu ciri yang sangat menonjol adalah selalu merasa benar sehingga menyalahkan orang lain saat melakukan pelanggaran ajaran agama. Sikap seperti ini menghambatnya untuk introspeksi diri, apalagi bertekad tidak mengulanginya. Kesalahan pun akhirnya tidak menjadi pelajaran berharga.

Misalnya ketika batal puasa. Alih-alih mengakui kegagalannya, ia malah menyalahkan orang lain yang membuatnya bisa mengakses makanan atau minuman yang menyebabkannya batal. Padahal, jika mengakuinya ia mungkin akan berusaha lebih keras hingga tetap mampu puasa walau memasak atau menjual makanan dan minuman sekalipun.

Demikian pula ketika melakukan pelecehan seksual hingga memperkosa perempuan. Alih-alih introspeksi diri, ia malah mencari-cari kesalahan perempuan hingga menyebabkannya gagal mengontrol nafsu seks. Padahal jika mengakuinya, ia bisa melatih diri lebih keras hingga mampu menjaga kelaminnya dengan baik di hadapan perempuan dalam kondisi apapun.

Hidup adalah proses pendewasaan diri tanpa henti hingga mati. Termasuk pendewasaan diri sebagai umat beragama. Semoga semakin bertambah umur, semakin lihai pula kita untuk memilih menjadi manusia dewasa. Aamiin YRA!

Salam damai,

Oleh: Nur Rofiah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *