Rindu, Pandemi, dan Hari yang Fitri

Kepulangan menjadi hal yang begitu ditunggu. Berada di tengah cengkrama keluarga dalam rumah yang menjadi saksi bisu kisah cinta yang nyata. Malam itu Rindu merenung di bawah sinar temaram sang rembulan. Semilir angin menyibak-nyibakan jilbab yang ia kenakan. Tak terasa tetesan air mengalir membasahi pipi Rindu. Bukan tetesan air hujan yang turun dari langit, melainkan air mata yang jatuh dari rasa rindu yang sudah tak bisa terbendung.

Jarang sekali ada waktu untuk sekedar menyendiri. Malam itu selepas menyelesaikan segala aktifitas, Rindu tak langsung mengistirahatkan tubuh lelahnya itu. Ia merasa ada sesuatu yang lebih lelah hingga mengganggu tidurnya. Ia memilih menyingkir dari kamar tidur. Menyendiri dalam hening malam mencari ketenangan.

Rindu begitu resah, sepertinya ia harus menahan rindu lebih lama. Tak bisa segera membayar segala kerinduan itu. Angan yang telah ia bangun dan ingin yang telah ia damba selama hampir satu tahun terakhir ini hangus seketika. Keadaan berubah di luar dugaan. Kabar gembira kepulangan hanya menjadi kabar yang kabur. Kehadirannya di tengah keluarga telah sirna. Keadaan memaksa rindu untuk tinggal lebih lama di asrama.

Pandemi adalah pelaku dibalik semua keresahan, kekacauan, dan kesedihan yang dirasakan banyak orang, bukan hanya Rindu. Sudah lebih dari dua bulan Virus Corona melanda Nusantara. Entah berasal dari mana ia datang. Ia yang tak terlihat, datang tanpa permisi. Hebat sekali makhluk itu, dalam sekejap mampu merubah tatanan kehidupan. Berani sekali ia meluluhlantahkan rencana dan pengharapan manusia, termasuk segala harapan Rindu. Rencana serta harapan indah yang telah dibangun sejak lama ternyata tak sesuai, sirna dalam sekejap. Keadaan memang sulit ditebak.

Meski dalam rasa patah hati yang begitu pedih, Rindu tetap harus melanjutkan perjuangan dalam pencarian ilmu pengetahun. Ia tak boleh lemah bahkan kalah dengan keadaan. Ia harus tetap kuat bahkan lebih menguatkan niat dan segala langkah agar tak salah arah. Banyak hal yang harus segera ia selesaikan, tidak hanya soal perasaan dan kerinduan. Hal besar sudah menunggu di kehidupan mendatang. Sudah pasti tantangan di depan juga semakin menantang.

Perjuangan memang tidak ada yang mudah. Sudah sepatutnya sedari dini Rindu mempersiapkan bekal untuk kehidupannya nanti. Ia merasa masih banyak kurang untuk bisa bertahan di masa depan. Sekarang saja ia sudah tertinggal jauh dari peradaban. Bagaimana bisa ia bisa bertahan di masa depan tanpa ada bekal? Mungkin ia akan kalah dan musnah.

Sebelum itu terjadi, selama masih ada kesempatan, semua itu masih bisa diusahakan dan diperjuangkan, agar ia bisa bertahan bahkan memimpin peradaban. Untuk saat ini, jangan kedepankan ego atau pun kesenangan sesaat. Berjuanglah selama masa muda belum pergi meninggalkan. Perihal rindu yang belum bisa terbayarkan, nikamti saja dulu. Percayalah, akan datang indah setelah resah. Akan ada ganti setelah pergi.

Tak pulang bukan berarti tak diharapkan atau bahkan menjadi anak durhaka. Sebagai manusia yang disebut sebagai makhluk sosial sudah sepatutnya tidak hanya memikirkan tentang diri sendiri. Tapi, harus ikut memikirkan orang lain terutama orang disekitar yang dikasihi. Alam sedang tidak baik-baik saja, beberapa manusia di luar sana sedang berjuang mati-matian melawan Virus Corona dengan bertaruh nyawa. Sebagian manusia lain membantu dengan cara tidak berkerumun dan tetap di rumah aja.

Lebaran kali ini Rindu memutuskan untuk tidak pulang, karena keadaan luar yang terlihat biasa saja sedang tidak baik-baik saja. Ia memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi apabila ia tetap bersikeras untuk kembali ke rumah. Ini adalah bagian dari bentuk cinta serta perlindungan yang bisa Rindu lakukan untuk dirinya dan keluarga di tengah pandemi yang ada. Keputusan  yang diambil adalah tetap tinggal di asrama bersama keluarga biologis yang begitu harmonis. Keluarga yang mengajarkan menjadi pemuda yang produktif dan bervisi besar. Keluarga yang selalu mengingtkan dan menguatkan.

Setelah berkecamuk dengan keadaan dan perasaan, Rindu merasa telah memilih keputusan yang terbaik bagi semua pihak. Keinginan untuk pulang dan bertemu dengan keluarga akan ia tahan hingga datang kesempatan mendatang. Sesuatu hal yang indah tidak bisa didapatkan dengan mudah. Percayalah, kesedihan akan diganti dengan kebahagiaan.

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *