Senja Kala Nahdlatul Ulama

Fakta dan realitas tidak bisa berbohong, tidak semudah membalikkan telapak tangan, betapapun PBNU beberapa hari kemarin telah melakukan rapat pleno antara Rais Aam dan Ketua Umum untuk sepakat mengembalikan kepengurusan PBNU secara utuh sebagaimana sedia kala, toh Rais Aam dkk tidak turut menghadiri seremonial Harlah NU ke 100 pada 31 Januari 2026 kemarin di Istora Senayan.

Publik mengetahui secara gamblang melalui pernyataan Rais Aam, KH. Miftachul Akhyar, bahwa KH. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya mengakui kesalahannya terutama terkait dengan kegiatan AKN-NU yang melibatkan ilmuwan Zionis berikut kealpaannya berkenaan dengan tata kelola keuangan yang dinilai tidak akuntabel oleh Rais Aam. Namun, entah mengapa tidak berselang lama, Gus Yahya malah mengeluarkan pernyataan dukungannya terhadap Prabowo Subianto yang telah bergabung dengan Board of Peace bikinan Donald Trump di mana per Negara dipalak 17 triliun. Sebuah angka fantastis, dibuang secara cuma-cuma di tengah karut-marut di negeri sendiri.

Pada momen Harlah NU ke 100 ini saya menyebutnya sebagai “senja kala” NU. NU di bawah komando PBNU era sekarang betul-betul telah mencapai titik kulminasinya, fondasi dan apa yang telah menjadi kekuatan harakah NU telah sedemikian porak-poranda.

Sebagai salah seorang warga Nahdliyin yang telah lama aktif, saya menyaksikan betul, bahwa yang membuat NU porak-poranda seperti ini adalah para pengurusnya sendiri. Konflik sengit PBNU antara dua pimpinan tertingginya (Rais Aam versus Ketua Umum) belakangan ini adalah bukti nyata, merupakan bom waktu dari akumulasi konflik yang berlarut-larut, yang selama ini dibalut dengan unggah-ungguh dan ewuh-pakewuh yang sangat lekat.

Apabila ingin mengetahui bagaimana “kelakuan” elit para pengurus NU di banyak level dari pusat hingga daerah, silakan tanya kepada para pejabat Pemerintah. Niscaya mereka akan mengungkapkan fakta yang mencengangkan, bagaimana kemudian NU hanya dijadikan tameng belaka untuk mendapatkan kepentingan pragmatis pribadi. Termasuk bagaimana para pengurus NU yang bermain politik praktis dari yang sembunyi-sembunyi sampai yang vulgar tanpa tedeng aling-aling.

Oleh karena itu, melalui catatan ini saya ingin sekaligus mengatakan bahwa 100 tahun Harlah NU ini justru menjadi momen senja kalanya NU. Persis seperti manusia yang telah berusia senja, lebih-lebih sudah melenceng dari semangat khittah Nahdliyah itu sendiri, langkahnya ringkih dan tergopoh-gopoh. Menjadi ormas keagamaan dengan manajemen terburuk di sepanjang perjalanannya.

Saya menyampaikan hal ini justru merupakan bentuk kecintaan saya terhadap NU, jangan sampai NU dirusak oleh elit pengurusnya sendiri. Mendaku sebagai ormas keagamaan keramat, menekankan ikhlasnya berkhidmat, menjunjung tinggi NU tanpa ada gaji bulanan dan selalu menjadi ormas yang “paling” NKRI, paling Pancasila dan tak lepas dari fasihnya dalil-dalil agama, nyaris semua itu hanya kamuflase belaka. Berorganisasi di era sekarang ini harus lebih terbuka dan dewasa, sebab segala arus informasi, terutama di media sosial tidak bisa dibendung.

Akhirnya, di Harlahnya yang ke 100 ini, di momen krusial konflik berkepanjangan elit PBNU, di tengah karut-marutnya kondisi bangsa, NU justru menjadi ormas keagamaan yang semakin tidak jelas arahnya. Mari berintrospeksi diri, kembali menata kendali organisasi yang betul-betul digdaya bukan sekadar kata-kata bombastis nan melangit.

Wallahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, 1 Februari 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *