Oleh: Shofiya Laila Alghofariyah, S. Pd., Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan teknologi. Dalam segala aspek, teknologi mengambil peran untuk memberikan kemudahan pekerjaan manusia. Salah satu teknologi yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan adalah teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya proses pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris, AI telah memberikan pengaruh yang signifikan. Pandemi Covid-19 telah mulai membiasakan manusia di berbagai belahan dunia untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dengan AI yang menjadi eksis dan maklum dilakukan hingga pasca pandemi.
Seorang pakar AI, Patrick Winston, pada tahun 1992 berpendapat bahwa Artificial Intelligence adalah studi tentang komputasi yang membuatnya mungkin untuk merasakan, bernalar, dan bertindak layaknya manusia. Selain Winston, Elaine Rich pada tahun 1983 juga memberikan pandangan bahwa AI dapat menirukan manusia dalam berbagai tugas bahkan lebih baik lagi. Lebih awal lagi, pada tahun 1956 McCarthy yang dikenal sebagai salah satu Bapak AI menyatakan bahwa AI merupakan program komputer cerdas yaitu kemampuan suatu mesin untuk melakukan tugas manusia seperti belajar, bernalar, dan memecahkan masalah.
Dari berbagai pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa AI berfokus pada pembuatan mesin atau sistem yang dapat meniru kecerdasan manusia, kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan membuat keputusan, serta penggunaan algoritma dan teknik komputasi untuk memecahkan masalah yang kompleks. Pada intinya, AI bertujuan untuk menciptakan sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan bertindak layaknya manusia dalam berbagai situasi.
AI memang memberikan banyak keuntungan dari segi penghematan biaya, waktu, dan tenaga manusia. Tetapi ada satu aspek yang dirugikan dengan keberadaan AI dalam dunia pendidkan, yaitu ancaman tergantikannya guru manusia asli dengan AI dan juga ancaman terkikisnya moralitas para civitas akademik.
Wacana dari Gibran
Dikutip dari berita media detik.com, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka menyampaikan dalam dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Kebijakan Pendidikan di Sheraton Grand Jakarta, Gandaria City Hotel, Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran, Jakarta, Senin (11/11/2024). Ia menyampaikan pesan bahwa sebisa mungkin agar diterapkan mata pelajaran pilihan AI dan Coding pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Menurutnya, dengan mengajarkan AI dan Coding di sekolah-sekolah maka Indonesia emas melalui digitalisasi akan tercapai. Ia juga menyampaikan jangan sampai kalah dari negara India.
Gayung bersambut. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikasmen) Abdul Mu’ti menanggapi hal tersebut dan mengaku sudah mendapat amanat kehadiran mata pelajaran coding di sekolah. Untuk itu, sebagai langkah pembaharuan kurikulum yang akan datang, kementerian akan membahas hal tersebut secara lebih serius. Adanya perintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai serius untuk mengurus pemanfaatan AI di Indonesia. Maka diharapkan kebijakan-kebijakan yang diambil juga akan selaras manfaatnya untuk rakyat Indonesia.
Peluang dan Ancaman Pemanfaatan AI
Sebuah penelitian dari Subiyantoro yang diunggah pada laman Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES, setelah melakukan penelitian berbekal kuesioner dan wawancara terhadap enambelas dosen Bahasa Inggris di perguruan tinggi negeri maupun swasta menyatakan hasil bahwa AI telah mengubah pengajaran bahasa Inggris di pendidikan tinggi. Para dosen Bahasa Inggris menggunakan berbagai jenis AI untuk berbagai tujuan, mengajukan dan memecahkan pertanyaan dan memeriksa kesalahan tata bahasa, mengecek plagiarisme, parafrase, dan meninjau literatur.
Berdasarkan hasil survey, aplikasi AI yang paling sering digunakan oleh para dosen adalah Grammarly, Chat GPT, Mendeley, Turnitin, dan Paraphraser. Grammarly populer digunakan untuk memeriksa kesalahan tata bahasa. Tentunya aplikasi ini sangat dibutuhkan untuk pembelajaran Bahasa Inggris pada writing skill. Dengan pemanfaatan grammarly, dosen dapat lebih menghemat waktu dan tenaga untuk memeriksa hasil tulisan para mahasiswa sehingga banyak waktu serta kesempatan untuk mengerjakan hal-hal lain yang berkaitan dengan tugas pengajar di perguruan tinggi.
Para dosen juga menggunakan Chat GPT agar lebih cepat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam pembelajaran dan pengajaran Bahasa Inggris. Tetapi terkadang informasi yang disajikan oleh Chat GPT hanyalah jawaban permukaan tanpa mengulas secara lebih mendalam. Sehingga, Chat GPT hanya layak digunakan sebagai referensi menemukan inspirasi jawaban. Selanjutnya, pengguna harus mencari sumber lain yang lebih lengkap dan terpercaya. Dengan kata lain, Chat GPT berperan sebagai pemantik gagasan atau Brainstorm belaka. Pendapat tersebut diungkapkan oleh salah satu responden yang juga sedang menikmati peran sebagai mahasiswa doktoral yang sedang menulis disertasi.
Peringkat ketiga dari AI yang sering digunakan oleh para dosen ditempati oleh Mendeley, aplikasi manajemen referensi dan jaringan sosial akademik yang digunakan untuk mengorganisasi penelitian, menyusun sitasi, serta berbagi informasi ilmiah. Para pengguna akan sangat terbantu dalam merapikan file referensi serta mencantumkan sitasi secara otomatis. Tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk menuliskan sitasi secara manual, dengan sekali klik, pengguna sudah bisa mendapatkan hasil sitasi yang lengkap dan rapi sesuai berbagai aturan penulisan sitasi yang dapat diatur secara otomatis.
Salah satu etika dalam penulisan ialah pantang bagi penulis untuk melakukan plagiarisme. Plagiarisme adalah tindakan mengambil atau menyalin karya orang lain dan menyajikannya seolah-olah itu adalah hasil karya sendiri tanpa memberikan kredit atau sitasi yang benar. Plagiarisme adalah pelanggaran etika akademik yang serius dan dapat berakibat buruk, baik dalam konteks pendidikan maupun profesional. Untuk menjaga integritas dan kredibilitas, maka penting untuk selalu menghormati karya orang lain dan memberikan pengakuan yang sesuai.
Untuk memberikan perlakuan preventif terhadap plagiarisme, Turnitin menjadi solusi yang cukup banyak dimanfaatkan oleh para dosen untuk mengecek tingkat plagiarisme tulisan. Turnitin seringkali dimanfaatkan untuk memastikan dan mengetahui bahwa persentase plagiarisme karya tulis mahasiswa tidak melebihi batas maksimal. Setiap perguruan tinggi biasanya telah mematok seberapa persentase maksimal plagiarisme karya ilmiah para mahasiswa. Dengan adanya penentuan seperti demikian mahasiswa akan lebih berhati-hati dalam menulis supaya tidak melanggar etika penulisan.
Adapun plagiarisme dapat menyebabkan dampak-dampak negatif terutama kepada pelaku. Mahasiswa yang melakukan plagiasi dapat menerima sanksi akademik berupa teguran, skorsing, bahkan dikeluarkan dari institusi jika melewati batas. Bagi seorang akademisi, apabila telah terdeteksi melakukan tindak plagiasi maka akan mendapatkan sanksi berupa kehilangan reputasi bahkan ditangguhkan gelar akademis serta jabatan fungsionalnya. Maka perlu adanya langkah preventif berupa pengecekan terhadap keorisinilan suatu karya ilmiah melalui pemanfaatan Turnitin.
Aplikasi AI berikutnya yang paling dominan digunakan oleh para dosen adalah Paraphraser. Aplikasi ini dapat membantu para penggunanya untuk menulis ulang suatu tulisan dengan struktur berbeda tanpa mengubah makna aslinya. Dengan fungsinya yang canggih, maka para dosen dapat lebih mengefisienkan waktu dalam menyusun ulang tulisan agar tidak terdeteksi plagiasi dengan mengatur ulang struktur untuk mengganti diksi tertentu dengan pilihan diksi-diksi yang lain yang maknanya setara. Selain itu, AI juga bisa menekan biaya pendidikan yang jika dikalkulasikan tidaklah sedikit. Di perkotaan khususnya, kebutuhan akan jasa bimbingan belajar privat sangatlah marak. Para siswa yang memanfaatkan jasa ini rata-rata harus merogoh kocek antara tiga puluh hingga lima puluh ribu rupiah untuk setiap pertemuannya. Ini baru terhitung untuk satu mata pelajaran.
Bagaimana jika selama satu pekan penuh siswa mengikuti berbagai les? Sudah tentu bisa diperkirakan berapa banyak biayanya. Di samping itu, terbatasnya durasi bimbingan belajar menyebabkan pembelajaran kurang maksimal. Waktu untuk les yang seharusnya digunakan untuk memperdalam pemahaman teori justru hanya digunakan untuk latihan soal saja. Siswa juga hanya bisa belajar ketika bertemu dengan tutor agar mendapatkan bimbingan. Ambil saja contoh kursus atau les Bahasa Inggris. Biaya kursus Bahasa Inggris tatap muka apalagi kursus yang menawarkan tempat tinggal juga pasti lebih mahal. Disamping harus membayar biaya pendidikan, siswa juga harus membayar biaya hidup selama di tempat kursus.
Membengkaknya biaya kursus pendidikan di luar sekolah formal kini mendapatkan solusi dengan adanya AI untuk pembelajaran. Aplikasi AI menyediakan fitur-fitur yang dapat diakses oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Kecanggihan AI juga memfasilitasi perbedaan level kemampuan siswa. Siswa dapat mengerjakan berbagai assessment mulai dari diagnostic, pre-test, dan post-test. Ulasan materi yang dipelajari juga dapat diulang-ulang sesuai keinginan kapanpun dan dimanapun apabila siswa membutuhkannya tanpa menunggu kehadiran tutor.
Bagaikan pisau bermata dua, AI juga memberikan ancaman pada beberapa sisi kehidupan pendidikan khususnya pada hal etika belajar. Dikutip dari Liputan6.com(13/06/2024), ada beberapa kasus yang melibatkan siswa berbuat kecurangan saat ujian dengan menggunakan AI. Di Turki misalnya, polisi telah menangkap seorang siswa SMA yang tertangkap basah menggunakan AI saat ujian masuk universitas. Di South Carolina, Amerika Serikat, seorang profesor perguruan tinggi menangkap basah mahasiswanya menggunakan bot Chat GPT untuk menulis tugas esai dari kelas filsafatnya.
AI memang memberikan beberapa kemudahan, tetapi juga memberikan ancaman serius pada nilai-nilai moral siswa. Dengan teknologi AI siswa menjadi lebih suka menggunakan cara instan dalam mengerjakan tugas maupun ujian. Dengan satu kali klik, AI bisa menerjemahkan, menulis essai, membuat presentasi power point, menciptakan gambar desain, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini, siswa dapat dikatakan membohongi guru atau dosen demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Inilah yang disebut dengan ancaman moral.
Apakah Peran Guru akan Tergantikan oleh AI?
Tidak dapat dipungkiri bahwa AI telah mengisi kehidupan sehari-hari manusia. Pengaruhnya tak dapat dihindari dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan khususnya pada pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris. Ada beberapa aplikasi populer salah satunya seperti Duolingo yang menyediakan latihan bahasa yang interaktif dan adaptif dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan secara otomatis berdasarkan kinerja pengguna. Selain itu ada pula Elsa Speak yang khusus untuk melatih pengucapan bahasa Inggris. Aplikasi ini menggunakan teknologi pengenalan suara untuk menganalisis dan memberikan umpan balik terhadap cara pengguna mengucapkan kata-kata.
Berdasarkan berita dari laman Media Indonesia (14/8/2024), salah satu sekolah di London, Inggris, David Game College telah memperkenalkan ruang kelas ‘tanpa guru’ pertama di negara tersebut. Mereka menggunakan kecerdasan buatan untuk menggantikan peran guru mengajarkan bahasa Inggris, matematika, dan sains. Sedangkan guru akan dilibatkan untuk memastikan kedisiplinan dan memimpin kelas-kelas yang belum bisa dilakukan oleh komputer, seperti pendidikan seni dan seks.
Sementara itu, Chris McGovern, ketua Campaign for Real Education setuju bahwa ada peran AI di dalam kelas. Namun ia mengatakan bahwa menggantikan guru dengan AI adalah hal yang merepresentasikan kemalasan. Ia mengungkapkan dengan melibatkan AI tidak akan menghasilkan keakraban di ruang kelas karena semua orang menatap layar. Jika pendidikan berakhir dengan mesin yang memegang kendali, itu akan menjadi masa depan yang sangat suram bagi kesehatan mental dan kebahagiaan anak-anak.
Sejalan dengan pendapat Govern, penulis menyatakan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran dan pengajaran Bahasa Inggris memang sangat menguntungkan karena meringankan beban tugas guru. Dengan adanya AI, siswa dapat belajar dengan lebih fleksibel tanpa terikat waktu, tempat, serta bergantung pada kehadiran guru.
Lalu apakah kehadiran guru Bahasa Inggris akan terancam bahkan cukup digantikan oleh AI di masa yang akan datang? Tentu saja tidak. AI mengajar dengan sistem mesin yang kaku, sedangkan guru memiliki empati dan simpati. Kecerdasan buatan hanya mampu melakukan transfer of knowledge tetapi tidak dengan transfer of value. AI mungkin lebih canggih dalam mengajarkan materi–materi yang sulit nan rumit, tetapi tidak dapat mendidik karakter siswa yang hanya dapat dilakukan oleh guru manusia.
Maka agar tidak tenggelam dengan derasnya arus teknologi AI, para guru perlu meningkatkan skill digital. Guru dapat tetap hadir dengan memanfaatkan AI hanya untuk menjadi media belajar yang menyenangkan bagi siswa. Tanpa menghilangkan fungsi guru seutuhnya, AI dapat menjadi angin segar pembelajaran agar menjadi kreatif, inovatif, dan membahagiakan siswa.
Pihak yang berwenang, pemerintah juga perlu memberikan regulasi yang tegas perihal limitasi penggunaan AI agar tidak merugikan berbagai pihak. Langkah-langkah preventif dan konstitutif perlu segera dilakukan supaya maraknya keuntungan penggunaan AI seimbang dengan rasa keadilan untuk berbagai sisi kehidupan. Jika dalam sepuluh atau duapuluh tahun lagi banyak tenaga manusia menganggur karena tergantikan oleh AI, maka siapa lagi yang akan bertanggungjawab? Wa Allahu A’lamu Bi Al Shawaab.







