4 Hal yang Harus Masuk dalam Kurikulum HMI dalam Menghadapi Bonus Demografi

Oleh: Alwi Husein Al Habib, peserta LK3 badko HMI Jambi

Indonesia menghadapi suatu fase yang disebut dengan bonus demografi yaitu ketika rakyat Indonesia didominasi oleh usia produktif. Dikatakan bonus karena pada fase ini akan terjadi peningkatan ekonomi di suatu negara. Namun, alih alih menjadi bonus, jika SDM nya tidak disiapkan, maka akan menjadi ancaman yang serius. Dalam hal ini, peran HMI diperlukan.

Tentu bagi HMI ini merupakan sebuah tantangan. Namun, dengan perkembangan zaman dan berkembangnya pola pikir gen Z, ini bisa menjadi peluang yang cukup menarik. Tentu HMI harus mengambil momentum ini dalam menghadapi bonus demografi.

Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan HMI atau memasukannya ke dalam kurikulum dan pola kaderisasi HMI. Sehingga HMI mampu menjawab tantangan bonus demografi tadi.

Pertama, memiliki skill atau keahlian sesuai kebutuhan zaman. Skill ini dibagi menjadi dua. Ada soft skill dan ada hard skill. Soft skill yang dibutuhkan adalah berupa leadership, public speaking, management, dan lainnya. Sedangkan hard skill yang dibutuhkan seperti digital marketing, content creator, editing, jurnalistik, dan lain lain. Hal ini harus difasilitasi oleh pengurus di tingkat komisariat sampai Cabang.

Kedua, menjadi wirausahawan. Tidak dapat dipungkiri menjadi organisasi nirlaba seperti HMI memang diperlukan kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi ini bisa dibentuk melalui pengurus lewat bidang KPP atau melakukan pelatihan pelatihan berjenjang. HMI juga bisa menggandeng pemerintah dan stakeholder untuk melakukan rangkaian pelatihan ini. Diharapkan, dengan adanya pelatihan kewirausahaan, kader HMI siap menghadapi masa depan dengan persaingan kerja yang sangat ketat.

Ketiga, menguasai teknologi terkini. Saat ini Artificial Intelegent (AI) sedang sangat marak beredar. AI diharapkan mampu membantu manusia dalam mengerjakan tugas tugasnya. Ditambah lagi digitalisasi yang sering digembor gemborkan baik dalam organisasi ataupun pemerintahan menjadi hal yang wajib dikuasai. Pola perkaderan HMI harus sudah berbasis teknologi digital. Kader kadernya diajarkan untuk melek digital supaya bisa memanfaatkan teknologi digital dengan sangat baik.

Keempat, memahami potensi diri. Dalam rangka memahami potensi diri, diperlukan forum forum yang membangkitkan gairah (passion) kader. Selain itu, dalam menghadapi masa depan potensi itu harus diukur dari segi kebermanfaatannya. Potensi lainnya pada manusia terletak pada bagaimana ia merancang step by step masa depannya.

Dengan menguasai empat hal ini, maka kader HMI dirasa cukup mampu menghadapi bonus demografi. Pengurus dan pengelola HMI juga dituntut untuk memfasilitasi kader kader dengan empat hal tadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *