Surga Sebatas Ekspektasi Indah Para Pria

“Surga itu relatif, sesuatu yang ada di dalamnya tergantung kepada siapa ia ditawarkan.”

***

Secara bahasa, mengutip dari KBBI V, kata “surga” dapat diartikan sebagai alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya (dalam keabadian), atau dalam terjemahan lain, surga dapat diartikan sebagai kayangan tempat kediaman Batara Guru (Siwa); Surgaloka.

Sebetulnya, pandangan bahasa telah mewakili esensi dari surga secara gampang dan gamblang. Namun, aku akan mengajak teman-teman untuk bernostalgia ke masa di mana kata “surga” menjadi sesuatu yang baru dan cepat diterima sebagai sesuatu yang positif di benak teman-teman. Mungkin hampir seluruh pemuka agama setempat menyampaikan demikian. Surga adalah tempat di akhirat yang penuh dengan kenikmatan abadi, di mana orang-orang beriman (yang timbangan amal baiknya lebih berat daripada dosanya) dimasukkan setelah melewati proses perhitungan (hisab) akan amal perbuatan selama mereka hidup di dunia, mereka kekal di dalamnya. Kemudian hal ini dikaitkan dengan peran kita sebagai anak untuk berbakti kepada orangtua, membantu pekerjaan mereka, dan terkhusus ajaran Islam—menjadi hafidz/ah al-Quran—sehingga dapat memberi mahkota dan jubah keagungan bagi kedua orangtua mereka di surga kelak. Bukankah seperti itu?

Semakin bertambahnya usia, pemaknaan dari kata “surga” itu mulai sedikit mengalami ekspansi. Bahkan, tak heran mengapa secara konkret, surga lebih memihak kepada Kaum Adam dengan penjelasan bahwa setiap laki-laki penghuni surga kelak memiliki bidadari-bidadari yang teramat sangat cantik—yang konon katanya—apabila kelingking bidadari ditunjukkan kepada Bumi, maka Bumi dan seisinya akan terang benderang karenanya.

Di dalam al-Quran, terdapat beberapa ayat yang tendensius terhadap nikmat bagi penghuni surga laki-laki,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, sebaya-sebaya.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 35-37)

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, mereka diberi tempat tinggal di surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Sebagai balasan dari apa yang telah mereka kerjakan. Di dalam surga itu mereka mempunyai istri-istri yang suci dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (Q.S. An-Nisaa’: 57)

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Q.S Al-Baqarah: 25)

Tidak hanya itu, masing-masing lelaki yang tinggal di surga akan diberi lebih dari satu bidadari, bahkan berkali-kali lipatnya.

Terdapat beberapa pendapat terkait jumlah bidadari bagi para penghuni surga laki-laki. Menurut Torh At-Tatsriib 8/270; Telah jelas dengan riwayat-riwayat hadits yang lain bahwa minimal bagi penghuni surga dua orang istri dari wanita dunia dan 70 istri dari bidadari.

Rasulullah pernah bersabda, terkait dengan jumlah bidadari yang akan dimiliki lelaki secara perorangan di surga kelak,

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً، إِنَّ لَهُ لَسَبْعَ دَرَجَاتٍ، وَهُوَ عَلَى السَّادِسَةِ، وَفَوْقَهُ السَّابِعَةُ، وَإِنَّ لَهُ لَثَلاَثَ مِائَةِ خَادِمٍ، … وَإِنَّ لَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً سِوَى أَزْوَاجِهِ مِنَ الدُّنْيَا، وَإِنَّ الْوَاحِدَةَ مِنْهُنَّ لَيَأْخُذ مَقْعَدُتهَا قَدْرَ مِيلٍ مِنَ الأَرْضِ

“Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya memiliki tujuh derajat (tingkatan), dan ia berada di tingkat yang ke enam, di atasnya tingkat yang ketujuh. Ia memiliki tiga ratus pelayan… dan ia memiliki 72 istri dari al-huur al-‘iin (bidadari) selain istri-istrinya dari para wanita dunia. Dan salah seorang dari para bidadari tersebut tempat duduknya seukuran satu mil di dunia.” (HR Ahmad 2/537 no. 10945)

Terkadang, hal ini mendatangkan polemik bagi para wanita pemeluk Islam. Benar adanya, kenikmatan-kenikmatan surga yang terdapat dalam al-Quran cenderung kentara dan seolah-olah hanya diperuntukkan kepada laki-laki saja. Bahkan, terdapat beberapa singgungan yang menghubungkan kecenderungan ini dengan fenomena patriarki. Pada akhirnya, mereka menganggap bahwa agama pun tidak berbeda jauh dari perlakuan laki-laki yang terbiasa meletakkan derajat perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Padahal, hakikat dari agama dalam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan itu adalah untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan layaknya raja dengan selirnya, bukan pula tuan dengan budaknya.

Polemik itu kemudian terus berlanjut, hingga kemudian dipatahkan oleh fatwa dan penelusuran terkait Islam secara menyeluruh. Dengan menggunakan sejarah penyebaran dan norma-norma Islam tempo dulu sebagai parameter permasalahan, muncullah fatwa bahwa agama yang baik adalah agama yang turun di zaman yang tepat, dengan utusan yang tepat, di antara masyarakat yang tepat, dengan cara yang tepat. Mari kita perdalam!

Nabi dan rasul memiliki karakteristik dakwah yang berbeda, baik dari segi periodiasasi, kondisi masyarakat, dan tantangan yang beragam dalam berdakwah. Nabi Musa a.s,  beliau datang di tengah masyarakat yang dinaungi dengan sihir dan kegelapan, Nabi Isa a.s lahir di kala ilmu kedokteran tengah menjadi tren di masyarakat, bahkan Nabi Muhammad SAW hadir di zaman para penyair dan cendekiawan dianggap sohor di mata masyarakat. Lantas apa parameternya? Alat dakwah mereka berbeda. Nabi Musa a.s dianugerahi mukjizat magis, seperti tongkat yang bisa berubah jadi ular, hingga tongkat yang dapat membelah laut, sehingga dapat menyaingi para penyihir di zaman itu. Nabi Isa a.s dianugerahi Allah dengan mukjizat yang dapat menyembuhkan beragam penyakit, bahkan menghidupkan orang yang mati, sehingga dapat menyaingi ahli kesehatan di bidang itu. Lantas Nabi Muhammad SAW turun dengan al-Quran yang mengandung kalamullah yang sangat indah, sehingga menantang syair-syair dan pernyataan orang-orang kafir pada masa itu, bahkan hingga kaum intelektual masa kini.

Bukankah surga juga dapat menjadi alat dakwah? Tergantung pada target dakwah tersebut. Di dalam al-Quran, surga juga digambarkan seperti taman dengan banyaknya mata air dengan berbagai sensasi di luar akal manusia. Terdapat mata air dengan aliran anggur, susu, bahkan khamr yang tentu saja tidak terbatas, di mana penghuninya tidak akan merasa haus dan kenyang, sehingga hanya nikmat lah yang mereka rasakan. Mereka dapat memetik berbagai buah-buahan segar dengan sangat gampang. Gambaran ini wajar karena pada saat itu, al-Quran diturunkan di antara masyarakat Arab dengan kondisi geografis gurun, sedikit mata air dan buah-buahan segar. Surga digambarkan demikian karena masyarakat membutuhkannya dan berhasrat kuat untuk memperolehnya, sehingga masyarakat dapat mengikuti perintah dan larangan dalam suatu agama dengan iming-iming surgawi.

Kembali pada judul. Estimasi sejarawan terkait jumlah populasi laki-laki yang sedikit lebih banyak daripada perempuan di masa lalu, dapat dijadikan parameter terhadap turunnya ayat-ayat yang menggambarkan surga yang tendensius kepada hal yang laki-laki senangi. Bukti lain, dikutip dari Journal of Sex Research, laki-laki dapat memikirkan perihal seksual dua kali lebih banyak daripada perempuan.

Lain hal, surga juga dapat diyakini sebagai sesuatu yang abstrak. Fatwa ini dikemukakan oleh Muhammad Abduh, salah satu mufasir ternama. Menurutnya, surga tidak dapat digambarkan dengan unsur-unsur duniawi, seperti sungai, buah-buahan, atau bidadari. Ia menganggap bahwa surga adalah keadaan jiwa yang tenang, bahagia, dan damai, yang tidak terpengaruh oleh waktu dan ruang. Ia menafsirkan surga dengan menggunakan akal dan filsafat, bukan dengan riwayat atau hadis. Mengingat esensi dari surga itu adalah nikmat yang tiada batas. Jelasnya, kesurgawian tidak dapat dibayangkan oleh sempitnya imajinasi manusia.

Kita kembali ke awal bahwa isi dari surga tergantung kepada siapa ia ditawarkan.

***

NB: Hendak menyampaikan klarifikasi singkat bahwa tulisan ini dibuat dengan orientasi pencarian dialektika pribadi. Para pembaca yang dirasa bijak diperbolehkan dengan sangat untuk mengkritisi apa saja yang terdapat di dalamnya. Jangan sungkan untuk menyentuh kolom komentar dan menangguhkan opini teman-teman, karena dialektika terbangun dari bentroknya beberapa pemikiran.

Salam hangat, Penulis.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang periode 2022/2023, Ketua Terpilih Pengurus Literasi SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PR IPM Planet Nufo periode 2022/2023, Penulis 2 buku; Mengkaji Hari dan Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Mas Raka seperti nyabtanpa sadar mulai membentuk perspektif dalam tulisan tulisannya. Selamat mas, makan banyak konsumsi ide ide filosofi akan semakin terbentuk perspektifnya.