Perempuan sebagai Regeneration Controlling

Perempuan sebagai Regeneration Controlling
Sedikit kengerian bagi saya ketika menelaah beberapa masalah yang terjadi di Desa saya tercinta. Mulai dari rendahnya tingkat pendidikan, pernikahan dini, kurangnya spiritual essense, banyaknya kasus pelecehan seksual, serta masalah-masalah kemasyarakatan lainnya. Kualitas pendidikan yang sangat rendahlah yang menjadi penyebab utama berbagai masalah yang muncul, hingga lebih dari 70% orang tua yang ada disana memilih untuk menikahkan anak perempuan mereka setelah lulus sekolah menengah atas. Bahkan atas kemauan sendiri, anak-anak perempuan yang berumur 15 tahun berani mengambil keputusan untuk menikah. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi begitulah kenyataannya.
Dari 12 gadis berumur 20-an tahun yang ada di Desa saya, 10 diantaranya sudah menikah sejak SMA atau ketika baru lulus SMA. Sisanya adalah saya, memilih untuk melanjutkan kuliah di luar kota dan salah satu teman saya yang memang sudah terkenal pintar sejak Sekolah Dasar sedang melanjutkan kuliah keperawatan. Jika dikaitkan dengan latar belakang orang tua, kami (saya dan teman yang melanjutkan kuliah dan belum menikah) sama-sama tumbuh di tengah keluarga yang juga berpendidikan. Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah orang tua dari 10 gadis disa yang sudah menikah berprofesi sebagai petani atau buruh pasar, sedangkan ayah saya adalah guru dan ayah teman saya adalah seorang pemuka agama. Latar belakang keluarga menjadi salah satu factor paling berpengaruh dalam penentuan mindset anak-anaknya.
Maka dari itu, keluarga adalah tempat belajar pertama bagi anak yang akan menentukan bagaimana ia kelak, terutama figur seorang ibu. Ibu adalah madrasatul ula, sebenar-benarnya pendidik dan pengajar dalam satu waktu. Ibu tidak hanya bertanggungjawab atas Intelektual Quotion bagi anaknya, namun emotional dan spiritual quotion, karakter dan akhlak mulia, kreativitas dan tanggunjawab, kesehatan baik mental atau fisik serta banyak hal lainnya. Tanggungjawab berat inilah yang mengharuskan ibu untuk tahu banyak hal, diharapkan mampu menjadi sumber regenerasi yang baik sehingga dapat memajukan Indonesia.
Dalam al-Qur’an surah An-nisa:1
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah. kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminla satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dari seorang ibu akan lahir dan memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Maka perempuan harus berbakat untuk mengurusi anak dan membesarkannya. Menurut seoarang psikolog, da beberapa hal yang harus diketahui untuk menjadi ibu yang baik.
Yang pertama adalah mengetahui kebutuhan anak untuk tumbuh kembang yang lebih baik.
Yang kedua adalah memberikan ASI Ekslusif selama dua tahun untuk mencapai Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *