Namaku Daisy Eleanor, usiaku 14 tahun. Tak perlu berharap banyak dari seorang bocah kemarin sore, berdarah kompeni murni, pendatang dari negeri seberang dengan motif penjajahan. yang kini tengah terpenjara dengan kedua tangan terikat tali tambang, mulut terikat perekat, dan berpakaian robek di mana-mana. Langit mulai gelap, rembulan mulai nampak pendarnya. Dapat kulihat dari sela-sela dinding kayu yang banyak sekali lubangnya, sengaja tak ditambal. Terus kumelilau sekitar, sampai ku tersadar, aku terkurung di dalam sebuah gudang.
Entah kapan kali terakhir aku melihat wajah kedua orangtua biologisku, terasa begitu cepat kenangan itu melintas sampai-sampai aku lupa rupa muka, warna mata, dan lekuk dagu mereka. Tetapi, ada kalanya sang waktu juga enggan untuk melesat, justru semakin melambat, terutama pada hari di mana prajurit berkulit kuning memorakporandakan seisi rumahku dengan cergas, menembaki tubuh ibu, menggantung ayah di atas teralis jendela lantai dua, juga membakar kedua kakak laki-lakiku di taman anggur depan rumah, itu semua menjadi suguhan mata mungilku.
Saat itu, memang waktu berjalan lambat. Seharusnya, aku dengan piawai saja merapal semuanya dengan cermat, mulai dari bagaimana peleton pertama mendobrak genting lobi rumah, peleton kedua mengempaskan tembok dengan mobil pendobrak merek, berapa butir peluru yang tertembak ke arah ibu, dan bagaimana mereka memiting tangan ayah, dan bercak darah kakak yang berceceran, dan kemudian hilang disapu jago merah, namun haruskah aku sepayah ini? Bahkan aku tak bisa mengingat apapun tentang hari besar itu. Hanya hari itu. Cukup hari itu.
Tidak hanya aku seorang diri, banyak sekali anak-anak perempuan seumuranku yang terbelenggu di dalam gudang ini. Menakjubkannya, semuanya adalah wanita muda berkulit putih, khas ras Europoid, bahkan tidak ada satu batang hidung pun gadis Nusantara. Aku menaruh curiga, sepertinya dedengkot di balik semua ini menyimpan banyak sekali dendam sekaligus nafsu dan gairah yang tak main terhadap gadis-gadis Belanda.
Namun, setelah beberapa minggu aku tinggal di sini, ternyata pikiranku meleset. Kami diperlakukan layaknya buruh yang diasramakan. Di mana setiap hari kami harus meminta-minta di jalanan Ibu Kota dengan wajah prihatin, lalu pulang kala hari telah larut, lantas wajib bagi kami untuk menyetorkan pemasukan ke dedengkot tersebut. Om Ardi namanya.
“Hehehe… Kerja bagus, Eleanor. Masih baru kau di sini, namun kau sudah berjaya membuatku kaya. Ini serius, kau akan makan enak malam ini,” begitulah Om Ardi memuji seluruh para anak-anak yang berhasil menyetorkan pendapatan yang banyak. Ia akan menjamin makan malam kami sesuai gizi.
Berbeda sekali dengan Joy, anak laki-laki kelahiran Belanda, sama halnya denganku. Perbedaan antara kami hanya terletak di kacamata yang ia kenakan, dan kerap kali ia mendapatkan tindakan kekerasan dari Om Ardi. Seperti dicekik sampai wajahnya ungu, punggungnya disetrika, diceburkan ke kolam lintah, tak heran mengapa selepas Joy mendapatkan itu semua, banyak sekali ditemukan memar, luka, dan lebam di sekujur tubuhnya.
“Astaga… Seharian ini kemana saja kau pergi, hah?! Sini kau!” tetiba saja Om Ardi membawa Joy ke kamarnya, kemudian akan terdengar suara pukulan, tamparan, dan tangisan Joy. Begitu mengintimidasi. Wajar saja, Joy selalu kembali dengan uang yang sedikit.
Sedikit tentang Om Ardi, si pria paruh baya dengan perut sedikit cembung, lengan maskulin, berjanggut kelabu kasar, dan selalu mengenakan kaos dalam dan celana jeans berikat pinggang kulit retak-retak tanda usang. Caranya berjalan agak sempoyongan, tersebab Om Ardi gemar sekali minum-minum dan mengonsumsi marijuana. Tentu saja, ia memiliki sepetak kebun marijuana di belakang asrama tempat ku tinggal, dan akulah yang mengurus sepetak tanaman itu, bersama dengan seorang pengemis senior bernama Theodore, panggil saja Kak Theo. Lagi-lagi, sebangsa satu ras denganku.
“Hei, Elen. Om menyuruh kita untuk memetik satu batang dari marijuana itu. Kemarilah,” panggil Kak Theo kepadaku. Ya, Elen adalah panggilan sayang Kak Theo untukku. Kehadirannya dalam hidupku membentuk sebuah pernyataan dalam pikirku, bahwasanya memiliki kakak perempuan sangat teramat seru.
Di balik itu semua, Kak Theo memiliki pengalaman pahit, tentang bagaimana ia bisa terjebak di sangkar Om Ardi. Tentang kekerasan yang ia alami, tentang segalanya yang menyeramkan. Nanti akan ku ceritakan seiring berjalannya waktu.
Om Ardi memiliki seorang istri muda, kerap ku sapa Tante Arina. Kabar angin mengatakan, mereka baru saja menikah lima bulan yang lalu. Yang membuat ambigu adalah istrinya sedang bunting tua dan sesaat lagi hendak melakukan persalinan. Aneh, padahal belum genap sembilan bulan ia menikah. Ini menjadi alasan mengapa Om Ardi lebih sensitif kala membahas penurunan omzet pengemis yang ia terima, bahkan sudah ada teman kami yang harus terenggut nyawanya akibat ledakan emosi Om Ardi. Alasannya,
“Sebentar lagi istriku akan melahirkan, aku akan memiliki keturunan, aku akan menjadi seorang Ayah. Oleh karena itu, aku tak mau tahu, intinya kalian harus menghasilkan uang sebanyak dua kali lipat dari pendapatan biasanya. Bisa dimengerti?” terus terang aku hanya termanggut, tanpa ada sedikitpun rasa kesal. Sedangkan Kak Theo langsung memasang wajah masamnya.
Bisa kutangkap jelas di mana posisi kami berada. Ruangan yang cukup luas dengan pencahayaan sangat minim, hanya sepasang lampu teplok saling berjauhan yang diambang ajal. Di sudut kanan ruangan terdapat gentong-gentong berisikan minyak bumi timbunan, entah apa jenisnya. Di depan sana terdapat kursi empuk yang hanya dapat diduduki oleh satu orang saja, Om Ardi. Diikuti dengan beberapa preman kekar bertato di sebelah kanan dan kirinya. Tampak jelas, bahwasanya tempat ini berada dalam kekuasaan Om Ardi semata. Kami, para pengemis muda, terduduk di depan Om Ardi seraya mendongak kepada wajahnya.
“Eleanor, kau kemarilah!” tiada angin dan hujan, tiba-tiba Om Ardi memintaku untuk menghadapnya.
Wajah menjijikkannya tersenyum seperti baru saja melihat secercah harapan dari rencana busuknya ini. Tak lama kemudian, aku menghadap. Beriringan dengan sorot mata kuyu dan sinis para pengemis muda lainnya yang tampak iri dengan privilage yang aku dapatkan dari Om Ardi. Tidak dengan Joy dan Kak Theo yang sedari tadi menatapku dengan ekspresi yang berbeda. Ia terkekeh, pun dengan tawa bawahannya yang mengintimidasi.
“Hehe… Hei, Eleanor. Aku memiliki tugas penting untukmu,” bisiknya, walau aku yakin mereka masih dapat mendengarnya samar-samar. Ia kembali melanjutkan.
“Ajari mereka mengemis, dengan itu kau akan hidup bahagia. Paham?”
Aku tercekat. Apa-apaan ini? Mengapa harus aku ketika ada pengemis lain yang lebih senior dariku? Ingin sekali ku membantah, namun tak usah,
“Baik, Om. Tapi kenapa harus aku?” sial, mengapa pertanyaan itu harus terlontar dari mulutku?
Om Ardi menarik rambutku begitu cepat, kepalaku seperti terpelanting namun tak kunjung mencium tanah. Ia langsung hadapkan wajah seramnya itu ke depan wajahku. Jujur, baru kali ini aku diperlakukan seperti ini oleh Om Ardi. Di sela-sela wajahnya, aku masih dapat menelisik wajah-wajah bawahannya yang tak kalah menyeramkan. Untuk bocah seumuranku, mereka bak hantu yang siap memakanku setiap waktu.
“Hei, gadis cantik. Jangan kau berlagak bodoh. Tidak secara resmi kau sudah menjadi mitra terkuat yang ku punya, keuntungan perhari yang kau bawakan kepadaku sudah mencapai lebih dari seluruh pendapatan mereka. Kali ini, jangan sampai kau mengecewakanku dengan apapun itu, atau nasib tubuh pucatmu itu akan jatuh ke tangan para bawahanku,” pungkas Om Ardi, disertai dengan gelak tawa seluruh anak buahnya. Sial sekali, aku salah bertindak.
Rambutku dibebaskan, aku segera kembali ke tempat ku duduk sedia kala. Om Ardi keluar, seperti raja diikuti oleh bodyguard yang bersumpah setia menjaganya sampai ke liang kubur. Sementara itu, para pengemis muda keluar dari ruangan itu, keluar dari tempat tinggal Omm Ardi, dan kemudian bertolak ke kamar masing-masing. Beberapa dari mereka memasang wajah puas atas tragedi yang menimpaku malam ini. Sial sekali.
Asramaku berjarak cukup dekat dengan kediaman Om Ardi. Syukurlah, tidak perlu menghabiskan banyak tenaga, lalu aku bisa tidur nyenyak di sana. Jangan beranggapan tentang bentuk asramaku yang menyerupai asrama lainnya, walaupun seminimalis asrama tentara. Tidak. Asramaku lebih tepat pada penjara, tidak ada jendela, hanya ada ventilasi besar dengan batang-batang besi yang menutupinya. Persis seperti penjara.
Om Ardi hanya menyediakan lantai polos dari beton. Tidak ada karpet atau semacamnya. Namun inisiatif kami tak berhenti di situ saja, banyak dari para pengemis yang mengambil beberapa barang bekas yang sekiranya masih dapat digunakan di Tempat Pembuangan Akhir Ibu Kota, lalu mereka sulap untuk menjadi berbagai macam alat tidur, seperti beberapa kain di sepatu pantofel yang kemudian direstorasi menjadi bantal kulit, lalu guling dari sisa-sisa baju di pembuangan, dan lain sebagainya.
Namun, di antara kami semua, orang yang paling kreatif adalah Joy. Hanya dia yang dapat merestorasi elektronik, hanya dia yang memiliki lemari dan berisikan buku. Joy memang seorang kutu buku. Memang badannya kurus, matanya kuyu, namun entah mengapa, untuk kehidupan asrama ia bak pejabat dengan kelimpahan fasilitas keren.
Pukul 02.00 dini hari. Entah mengapa, mataku belum kuasa kupejamkan. Tetiba saja air mata ini menetes, menyentuh pipi, lantas mengalir hingga menyentuh lantai beton. Aku teringat mereka, aku rindu kasih sayang mereka, keluargaku. Aku rindu kala tangisku mengalir, di sana Ayah dan Ibu menyeka, mengelus kepalaku. Saat aku dirundung sedih, di sanalah kedua kakakku menghiburku, sampai aku tersenyum dan tertawa seperti dulu kala. Namun apa dayaku? Kini, entah ke mana mereka berpindah. Laksana komet Halley yang melintasi angkasa sekelebat itu saja. Hei, kalian, aku rindu.
Lekas ku seka air mata itu. Menampik segala duka yang kadung terbentuk. Hei, kembalilah kepada realita di mana kau sebagai primadona kungkungan asrama Om Ardi. Ya, aku rasa, menerima kenyataan ini jauh lebih baik. Daripada harus mendekap memori lawas yang berisikan kesedihan. Ayolah, Eleanor! Kau sudah dewasa sekarang.
“Hei, Elen,”
Ternyata bukan aku saja yang terjaga di kesunyian malam ini, Kak Theo ternyata masih mengawasiku dengan seksama. Terlihat dari sorot matanya yang masih tajam, walau santai, namun seperti tiada celah. Bagiku, Kak Theo adalah salah satu pengemis senior dengan kemampuan misterius. Ia bak konseling seluruh pengemis muda di tempat ini. Semuanya patuh kepada Kak Theo, tanpa paksaan dan dengan senang hati. Begitu karismatik.
“Entah hanya dugaanku saja atau memang benar. Tetapi aku melihat perubahan yang terasa sekali dari seorang Eleanor. Ada apa ini?” ia membuka dengan pertanyaan misterius, persis Kak Theo yang ku kenal.
“Hahaha… Apa itu, Kak?” tanyaku kembali. Ia tersenyum, kembali memperlihatkan senyum teduhnya itu kepadaku. Kini aku benar-benar dibuatnya bingung.
“Berbeda sekali dengan beberapa pekan ke belakang. Di mana kamu masih enggan berbicara dengan semuanya, di mana kau hanya termenung sepanjang hari, makan pun tidak, juga tak mau tidur, malah menangis di tengah malam, sepanjang malam, tanpas sebab yang jelas. Walau yang terakhir masih saja kau lakukan malam ini, namun lihatlah, kau terjaga dari tidur sebelum kau menangis,” jelas Kak Theo, aku terdiam. Aku benar-benar tak tahu harus menajwab apa.
“Hehehe… Tak mengapa. Sudah bagus kau dapat beradaptasi. Tapi, bisakah kau ingat kali pertama kau menyentuh tempat ini? Di mana kau terbelenggu bersama banyak gadis lainnya di gudang. Lantas memberontak keras kala anak buah Om Ardi masuk, dan satu persatu mengusik kawan-kawan seatapmu,” Kak Theo masih mengingatnya dengan jelas.
“Biar ku tebak, apa yang kau pekikkan saat salah seorang dari mereka bergilir mengusikmu. Tepatnya setelah kau menyundul hidung salah seorang anak buah Om Ardi hingga berdarah. Oh ya! JANGAN KAU DEKATIKU LAGI, PEMBUNUH!” lanjut Kak Theo. Aku hanya menyimaknya, lagipula aku masih ingat betul apa yang terjadi di sana.
“Sebelumnya, maafkan aku yang saat itu hanya menyaksikan mereka mengusikmu dari punggung mereka saja. Tak pernah ku mengira, ternyata si pemberani ini berada satu atap denganku, bahkan setiap hari. Apakah kau tahu, apa alasan Om Ardi selalu mengelu-elukanmu?” aku menggeleng.
“Karena keberanianmu, Elen. Kau berbeda dengan para pengemis lainnya. Kau spesial,” lagi-lagi aku hanya menyimaknya dan termanggut. Ku rasa tidak ada yang patut dibanggakan.
“Lantas, apakah kau sudah mulai menikmati posisimu saat ini?”
Pertanyaannya, sedikit mengusik jiwaku kali ini.
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia







