Baladena.ID – Sampah plastik kian menjadi permasalahan yang mengakar di negeri Indonesia tercinta,, bahkan sampah plastik menjadi isu lingkungan perhatian dunia. Sebab, sifat plastik yang sangat sulit terurai dan jumlahnya yang terus meningkat setiap tahun membuat sampah plastik makin banyak.
Sebuah organisasi internasional yang bernama Organization of Economic Co-operation and Development (OECD), menyatakan bahwa di tahun 2021 sampah plastik mencapai 460 juta ton. Dari sekian banyak sampah plastik, hanya sembilan persen yang dapat didaur ulang, 19 persen sampah-sampah tersebut dibakar, 50 persen dibuang ke tempat pembuangan sampah dan 22 persen lainnya bocor ke lingkungan.
Hal ini tidak mungkin luput dari permasalahan-permasalahan lingkungan di Indonesia. Bahkan, di tingkat Internasional, Indonesia memasuki peringkat 10 besar negara penghasil sampah plastik terbanyak Ditilik dari grafik komposisi sampah berdasarkan jenisnya, sekitar 17,5 persen sampah di Indonesia merupakan sampah-sampah plastik (Sumber: Sistem Informasi Pengeloaan Sampah Nasional (SIPSN).
Banyak atau sedikitnya sampah plastik di sekitar kita, tetap tidak boleh kita biarkan. Kenapa? Sebab, sampah plastik merupakan salah satu sumber pencemar tanah, air, laut, dan udara. Mulai dari bahan pembuatnya, yaitu hasil dari penyulingan gas dan minyak (ethylene) yang tidak dapat diperbaharui. Hingga akibat dari pembuangan dan pengelolaannya yang tidak baik dan benar, sehingga dapat mencemari lingkungan karena racun-racun dari partikelnya yang bercampur aduk dengan sekitarnya.
Selain berdampak pada lingkungan, sampah juga berdampak serius pada kesehatan makhluk biotik dan makhluk abiotik. Salah satu dampaknya, yaitu memicu beberapa penyakit mematikan akibat racun-racun yang timbul dari pembakaran plastik yang belum sempurna. Sampah plastik tidak hanya berdampak ada kehidupan manusia, melainkan juga pada hewan. Seperti, jika makhluk terkecil di lautan (plankton) terkontaminasi bahan kimia dari sampah-sampah plastik yang dibuang ke laut, maka rantai makanan setelahnya pasti akan ikut terkontaminasi bahan kimia tersebut.
Meskipun sampah plastik dinilai sebagai suatu masalah yang pelik, tapi sebenarnya sampah plastik juga bisa mejadi suatu yang bermanfaat jika kita mengelolanya dengan baik dan benar. Salah satu solusinya adalah mengelola sampah plastik menjadi Ecobricks. Ecobricks adalah suatu sistem yang mengisi botol-botol plastik dengan sampah-sampah plastik yang telah dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian dipadatkan sehingga dapat dibentuk menjadi bangunan yang dapat digunakan secara terus menerus.
Menurut Russell Maier, penggagas penerapan Sistem Ecobricks asal Kanada, Ecobricks memang tidak dapat mengurangi sampah, akan tetapi Ecobricks dapat mengubah plastik-plastik bekas menjadi benda-benda yang lebih visioner. Selain itu, Ecobricks akan menambah lapangan pekerjaan yang lebih sehat dan ramah lingkungan untuk mengelola sampah-sampah plastik daripada sistem pengelolaan sampah plastik lainnya. Sistem Ecobricks juga dapat diterapkan oleh semua kalangan, mulai dari kalangan anak-anak, kalangan remaja, dan kalangan dewasa. Tidak hanya itu, sistem ini juga dapat menguji kreativitas seseorang dalam mengelola sampah-sampah tersebut menjadi benda-benda yang lebih bermanfaat.
Oleh: Sakina Billah, Wakil Ketua Organisasi Ponpes Nurul Furqon (Planet Nufo) Mlagen Pamotan Rembang, Siswa Kelas XI MA Darul Huda Mlagen Rembang






