Benarkah Kualitas SDM Dipengaruhi oleh Gizi?

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditentukan oleh tiga hal yaitu kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Berdasarkan data yang terdapat di United Nations Development Programme (UNDP), pada tahun 2004 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menduduki peringkat ke 111 dari 177 negara. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang IPM nya lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. IPM yang rendah sangat dipengaruhi oleh status gizi yang rendah dan kesehatan manusia.

Gizi yang baik merupakan gizi yang seimbang dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan nutrisi pada setiap orang memang tidak dapat disamakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh genetik dan metabolik dari masing-masing individu.  Status gizi yang buruk pada seseorang mudah terjadi apabila asupan gizi seimbang tidak terpenuhi dalam jangka panjang.

Asupan gizi yang tidak memadai dapat mengakibatkan anak kehilangan masa depan. Sedangkan asupan gizi seimbang sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan orangtua dan kondisi ekonomi keluarga. Ketiganya mampu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak. Orangtua yang berpendidikan rendah akan sulit memahami istilah-istilah yang ada dalam bidang kesehatan. Apalagi masyarakat Indonesia masih marak dengan isu-isu yang berbau mistis mitologis.

Mistis mitologis ini masih sangat kuat diyakini oleh masyarakat, padahal tidak ada satupun penelitian yang mampu membuktikan hal tersebut. Akan tetapi, karena paradigma tersebut sudah tertanam sejak nenek moyang mereka, sehingga akan sangat sulit untuk merubahnya. Pada umumnya, mistis mitologis memberikan dampak buruk kepada orang yang meyakininya. Contoh kecil, seseorang yang tidak mau bekerja, karena ia meyakini bahwa Allah adalah Sang Pemberi rezeki. Jadi, tidak bekerja saja Allah akan tetap memberikan rezeki.

Rezeki yang diberikan oleh Allah sangat beragam, tidak hanya soal uang saja, tetapi juga kesehatan juga termasuk salah satu rezeki dari Allah. Kesehatan lebih mahal dari apapun, jika dikalkulasikan. Oleh karena itu, kita sebagai hamba-Nya memiliki kewajiban untuk menjaga kesehatan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengonsumsi makanan yang bergizi. Makanan bergizi yang diberikan sejak dini akan mempengaruhi pertumbuhan otak, sehingga berdampak pada kecerdasan.

Pada usia 7 tahun, anak sudah mulai mampu berpikir secara logis, sehingga telah menggunakan logikanya untuk memecahkan masalah. Proses kematangan otak akan terus berlanjut hingga usia remaja, bahkan usia 20 tahun. Selain itu, anak akan mengalami masa-masa selektif terhadap makanan, bahkan melupakan waktu makan. Hal ini akan sangat mempengaruhi kebiasan makan dan status gizi mereka. Disinilah wawasan orangtua, khususnya ibu sangat diperlukan. Seorang ibu harus mengetahui makanan pengganti yang tidak disukai oleh anak. Contoh sederhananya, seorang anak tidak mau makan nasi, padahal sejak pagi dia belum mengonsumsi apapun selain susu instan. Nasi tersebut dapat diganti dengan sandwich yang dimodifikasi dengan bentuk lucu, sehingga mampu meningkatkan gairah anak untuk makan. Jika hal sederhana yang demikian tidak terpikirkan oleh seorang ibu, maka kondisi anak akan semakin buruk meski terlihat biasa saja.

Banyak sekali seorang ibu yang tidak sadar akan hal itu, sehingga ia kurang memperhatikan kesehatan dan kebersihan anaknya. Tubuh yang sehat dapat dipenuhi dengan gizi yang cukup. Sedangkan biaya untuk memenuhi asupan gizi tersebut tidaklah murah. Sebagaian masyarakat masih mengabaikan gizi yang terkandung di dalam makanan. Mereka hanya berpegang pada prinsip “yang penting enak dan murah” saja. Sikap yang demikian harus segera diubah. Jika tidak, kualitas SDM semakin hari akan semakin menurun, bukan semakin meningkat.

Dalam hal ini, biaya yang dibutuhkan cukup besar. Oleh karena itu, negara Indonesia tidak menyarankan para warganya untuk menikah dini, karena selain belum siap secara fisik, pasti belum siap secara intelektual dan finansial. Finansial inilah yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dalam jumlah cukup dan mutu gizinya terjamin.

Wallahu A’lam bi al-Shawaab.

Oleh: Erina Febri, Mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan, UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *