Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, memandang semua santri-murid pada dasarnya sama. Tidak ada perbedaan disebabkan oleh nasab, harta kekayaan orang tua, atau apa pun embel-embel duniawi lainnya. Sebab, takwa adalah yang paling utama. Dan dalam praktek kehidupan sehari-hari, takwa itu diwujudkan dalam prestasi-prestasi positif yang diukur dengan beberapa aspek fokus Planet NUFO. Di antara yang paling mudah diukur secara kuantitatif adalah hafalan al-Qur’an. Karena itu, hafalan al-Qur’an juga dijadikan sebagai salah satu yang menentukan dalam penyelenggaraan Pemilu untuk menentukan ketua pesantren, ketua OSIS, dan pimpinan organisasi-organisasi ekstra yang ada di Planet NUFO, di antaranya: PII, IPM, IPNU, dan HPI. Ini adalah salah satu implementasi prinsip “different and the best” yang menjadi salah satu jargon utama di pesantren-sekolah alam yang didirikan dan diasuh oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Bagaimana latar belakang penyelenggaran Pemilu dengan prinsip merit ini muncul? Baladena akan melakukan wawancara eksklusif dengan pengasuh Planet NUFO yang juga adalah pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI itu. Berikut wawancaranya:
Baladena: “Saya mendapatkan sesuatu yang laur biasa di Planet NUFO. Prinsip dalam Pemilunya tidak OPOVOV, one person one vote one value, tapi OJOVOP alias one juz one vote for one Person. Dari mana ide ini muncul?”
Abana: “Saya ini kan ilmuan politik. Sering melakukan kritik terhadap praktek politik yang tidak sesuai dengan nalar. Di antara yang saya kritik adalah praktek demokrasi sekuler yang melihat manusia dari jumlah kepalanya, bukan isi kepalanya. Menurut saya, ini bisa membahayakan. Orang yang berilmu sama dengan orang tak berilmu, orang tak bermoral bernilai sama dengan orang tak bermoral, orang waras sama nilainya dengan yang setengah gila, dan seterusnya. Mestinya kan tidak begitu. Karena itu, saya harus membangun contoh konkret. Kalau di dalam praktek bernegara kan saya belum punya kekuasaan. Ya saya praktekkan saja di rumah saya sendiri, di lembaga pendidikan yang saya dirikan dan pimpin, awalnya di Monasmuda Institute Semarang. Itu sudah dilakukan oleh para mahasantri di Monasmuda Institute sejak tahun 2012, kalau saya tidak salah ingat. Nah, itulah yang kini dilakukan juga oleh Planet NUFO. Kalau Monasmuda Institute untuk para mahasiswa. Kalau Planet NUFO mulai dari siswa sampai mahasiswa, santri sampai mahasantri.”
Abana: “Awalnya bagaimana bisa muncul ide itu?”
Baladena: “Monasmuda Institute Semarang saya rintis tahun 2010, dan mulai merekrut santri muqim tahun 2011 dengan memberikan beasiswa kepada 20 orang mahasiswa, kemudian ditambah 5 orang. Mereka dibina secara super intensif untuk menjadi aktivis dengan motivasi “diskusi, aksi, dan publikasi”. Karena hasilnya saya lihat sangat bagus, tahun berikutnya merekrut lagi. Awalnya saya berikan kuota 20 orang. Tapi karena yang mendaftar membludak sampai ratusan, saya putuskan menerima 50 orang. Jadi tahun kedua sudah ada 70-an mahsantri. Suasana makin ramai dan dinamis. Tapi saya masih khawatir kalau saya wajibkan untuk menghafalkan al-Qur’an, maka akan kabur. Nah, tahun ini baru saya tekankan saja. Tahun 2013 atau 2014, saya lupa-lupa ingat, baru saya wajibkan. Nah, untuk memberikan penghargaan kepada yang memiliki hafalan al-Qur’an, maka yang hafal al-Qur’an diberi suara sesuai dengan jumlah juz yang dihafal.”
Baladena: “Jadi kalau hafal 30 juz bisa punya 30 suara dong.”
Abana: “Ya iya. Kalau santri mau punya banyak suara, tinggal menambah hafalan saja. Kan semua orang memiliki kesempatan yang sama. Kalau di Monasmuda, jumlah suara ditentukan tidak hanya hafalan, tetapi juga karya. Setiap satu tulisan di media juga dihitung sebagai satu suara, satu jenjang perkaderan juga jadi satu suara. Jadi, orang yang memiliki karya dan telah mengikuti jenjang pelatihan dan juga pendidikan memiliki tambahan satu suara. Jadi kalau santri hanya 70 orang saja misalnya, calon ketua dan wakil ketua yang masing-masing hafal 30 juz, bisa berpotensi memenangkan Pemilu walaupun dukungan dari citizen sangat minim. Itu konsekuensi dari sistem merit. Yang dikedepankan adalah prestasi. Bukan sekedar suka dan tidak suka. Dengan demikian, komunitas akan diatur oleh orang-orang yang memang berkompetensi tinggi, bukan sekedar disukai. Kalau sekedar suka dan tidak suka, yang tidak punya kompetensi bisa membentuk komplotan untuk berbuat kerusakan.”
Baladena: “Bagaimana teknisnya itu?”
Abana: “Ya mudah sekali. Kan kualitas-kualitas itu mudah diverifikasi. KPU-nya tinggal melakukan verifikasi apakah yang mencalonkan diri itu telah benar-benar hafal atau belum. Bisa dengan melihat catatan setoran yang telah ditandatangani oleh ustadz/ah yang menjadi pembimbing atau bertanya kepada saya. Mereka juga bisa bikin aturan dalam setiap debat kandidat, bisa dites secara langsung oleh audiens. Kalau memang memenuhi kualifikasi dan terverifikasi secara objektif, maka layak jadi calon. Simpel sekali. Tidak ada rumitnya sama sekali.”
Baladena: “Jadi sistem yang begini ini namanya apa, kalau mau diberi nama?”
Abana: “Bisa kita sebut sebagai demokrasi qur’ani. Ajektif qur’ani bisa karena yang digunakan sebagai di antara kriteria jumlah suara yang menjadi hak pemilih adalah hafalan juz al-Qur’an. Bisa juga substansi al-Qur’an yang tidak begitu saja memandang bahwa semua manusia sama, tetapi di samping kesamaan sebagai manusia, derajatnya juga ditentukan oleh ketakwaan. Dan kriteria ketakwaan ditetapkan oleh al-Qur’an. Jadi, untuk menjadi orang yang bertakwa harus memahami al-Qur’an. Sedangkan untuk bisa memahami secara utuh, hafal al-Qur’an adalah di antaranya jalan strategisnya.”
Baladena: “Wah, kalau caranya begini, saringannya jadi lembut sekali ya?”
Abana: “Pemimpin itu memang kan harus orang yang terbaik. Setidaknya itu kriteria formalnya. Ini kan cara yang diajarkan oleh Rasulullah untuk menjadi pemimpin shalat. Rasulullah kan memberikan panduan yang sangat jelas. Yang menjadi imam shalat adalah yang paling banyak hafalan al-Qur’annya. Jadi, imam shalat mereka ya ketua mereka. Ketua mereka ya imam shalat mereka. Jadi, shalat berjama’ah sebenarnya sudah mengandung pelajaran yang sangat jelas tentang sistem merit, sistem yang mengedepankan prestasi.
Baladena: “Apa nilai-nilai penting yang bisa kita ambil dari sistem ini?”
Abana: “Sistem ini akan melahirkan pelajaran bahwa pemimpin shalat adalah juga pemimpin di luar shalat. Karena itu, yang bacaannya bagus, harus memacu diri untuk belajar tentang bagaimana cara memimpin dan memenej berbagai aspek di luar shalat. Jangan sampai hanya bacaan saja yang bagus, tetapi tidak memiliki kualitas-kualitas kepemimpinan yang kompleks. Sebaliknya, yang sudah memiliki kualitas kepemimpinan yang bagus, tetapi belum menguasai al-Qur’an, harus berusaha untuk menguasainya. Dengan demikian, akan lahir kualitas SDM muslim intelektual profesional, yang benar-benar mampu memimpin, baik dalam shalat maupun di luar shalat, dengan kualitas kepemimpinan yang bisa diandalkan. Dengan demikian, di masa yang akan datang, kita akan memiliki pemimpin yang memimpin di istana dan juga di masjid. In syaa’a Allah.”







