Menjadi seorang anak rantau sudah menjadi hal biasa dalam hidupku. Berbagai pelajaran banyak ku dapat semenjak memutuskan pilihan menjadi perantau sejak lulus sekolah dasar. Bagai burung yang bebas beterbangan di angkasa, namun tetap punya tempat kembali kala badai menyapa. Itulah kiranya gambaran kehidupanku sejak 9 tahun silam.
Bagiku, tiap detik yang menyapaku merupakan pelajaran berharga yang tidak bisa digantikan dengan sesuatu yang berharga. Terkadang aku sering menyebutnya kado terindah pemberian Yang Maha Kuasa. Meski tak banyak orang tahu, di balik kakiku yang kokoh ada banyak kaki yang selalu siap sedia membantuku berdiri, berjalan bahkan berlari. Lagi-lagi itulah hal yang selalu aku syukuri berkali-kali.
Mungkin bagi sebagian orang hidupku teramat sengsara bahkan tak pernah merasa bahagia. Tapi bagiku, inilah jalan yang sebenarnya. Mencoba belajar dari berbagai pengalaman yang ada tanpa ragu dan terus maju, serta senantiasa berharap pada Sang Sutradara terbaik bagi hamba yang selalu berserah diri padanya.
Bagiku, tak ada sesuatu yang sia-sia dan tak mungkin jika kita terus berusaha. Dan tak mungkin sendirian jika kita sudah mati-matian mengejarnya, pasti Dia kirimkan pertolongan yang tak pernah kita duga sebelumnya. Yang pasti jalan yang kita tempuh sudah benar dan istiqamah hingga mencapai titik terakhir.
Hm… siang yang menurutku sedang mencoba berbicara padaku untuk terus optimis menjalani kehidupan. Laiknya dia yang sedang meredupkan cahaya bagi bumi padahal harusnya tak demikian. Namun, dia tak protes kepada Sang Pemiliknya meski dia diprotes oleh makhluk di bumi yang membutuhkan pancarannya. Dia tetap yakin bahwa ini merupakan scenario terbaik darinya.
Siangku kembali sederhana, hanya ditemani segelas air putih dan suara kipas angina yang cukup menyejukkan badan. Meski tak bisa menyejukkan hati yang sebetulnya butuh perbaikan. Tapi, tak apa kita hanya butuh sedikit bersabar agar sampai pada apa yang telah kita langitkan.
Bunyi ponselku memecahkan lamunan. Suaranya yang khas membuatku segera mengambil dan melihatnya. Notif pesan wa masuk dari Mas Asfi teman lama di tanah kelahiranku.
“Assalamu’alaikum, Nai. Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat selalu. Begini Nai, aku mau minta saran sama kamu. Boleh gak?”
“Wa’alaikum salam, Mas Asfi. Alhamdulillah sehat. Gimana? Apa yang bisa saya bantu?” balasku.
Sejak menjadi anak rantau banyak sekali yang menjadikanku tempat konseling. Lebih tepatnya menjadi konsultan baik masalah asmara, organisasi, kehidupan, pendidikan dll. Mas Asfi merupakan kakak tingkatku. Dia lebih tua 3 tahun di dariku. Tapi, kami sudah berteman sejak lama dan sering bertukar cerita meski wajah jarang menyapa dan temu menjadi candu bagi kita.
“Gini, Nai.. Mas butuh saran darimu. Saya sedang menjadi seseorag yang butuh banyak nasihat dan masukan agar menjadi orang yang kuat dan yang pasti jadi diri sendiri” jelasnya
“Loh, emang Mas Asfi habis kenapa? Habis patah hati? Atau Sedang ada masalah lain?” tanyaku beruntun.
“Lebih tepatnya habis patah hati karena ditinggal pergi tapi udah lama sih, tapi bukan itu yang hendak aku tanyakan lebih serius kepadamu. Nai, ajari aku untuk kuat jadi manusia hebat dong. Aku salut melihatmu yang secara kasat mata tangguh meski sebenarnya aku tahu banyak rintangan yang datang,” jelasnya lagi.
“Mas, aku belajar semua ini dari waktu. Kita hanya perlu berusaha dan tabah dalam menjalani setiap ujian yang ada,” jawabku singkat.
Memang benar, taka da yang instan. Semuanya butuh proses panjang. Laiknya mutiara yang berkilau, butuh proses panjang untuk sampai tahap itu. Begitupun diriku, mungkin masa perantauanku yang sudah lebih dari 1 windu membuatku lebih tegar dari lain dalam menghadapi berbagai cobaan yang ada. Semua pasti bisa pada fase itu, hanya saja kita harus sabar menghadapi satu persatu ujian yang ada.
Hal ini bukan berarti saat aku adalah orang yang paling sabar dan tegar menghadapi cobaan. Ya, aku masih tahap belajar dan terus belajar agar sampai tahapan yang lebih tinggi dari itu. Semua itu tidak lain karena Sang Pencipta memberiku anugrah bertemu dengan waktu. Waktu yang terus membuatku tahu akan sesuatu.
Usai memberi jawaban singkat, ku sususlkan kembali pesan pada Mas Asfi
“Mas, jangan terlalu sedih dan kecewa menyesali apa yang sudah ada. Kita hanya perlu menerima dan ikhlas terhadap apa yang telah Allah rencanakan untuk kita. Yakinlah Dia adalah sutradara terbaik baik hambanya yang selalu pasrah kepadanya yang selalu berikhtiar dan berdoa tanpa jeda.”
Tak lama kemudian, Mas Asfi kembali mengirim pesan balasan kepadaku.
“Iya, Nai. Terima kasih sudah mengingatkanku kembali akan banyak hal. Semoga seiring berjalannya waktu aku lebih bisa menjalani ini semua dengan hati yang lapang dan percaya akan scenario terbaiknya. Semoga aku segera bertemu dengan waktu-waktu yang terus memberi pelajaran tanpa jemu.”
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Banyak do’a yang dilangitkan menjelang matahari terbenam. Begitu pula dengan diriku yang terus meminta petunjuk dari-Nya. Sebab, tanpa petunjuk-Nya dan kasih saying tiada tara aku bukanlah yang demikian adanya.
Sembari melangkah memasuki rumah tersemat harapan semoga semesta menjaga orang-orang yang berharga dalam hidupku tanpa alfa. Begitu pula dengan Mas Asfi yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Semoga segala masalah yang menimpanya membuatnya cepat tumbuh menjadi manusia yang lebih dewasa.
“Berjalanlah menuju waktu yang mengandung banyak sesuatu yang menjadikanmu lebih tahu , jangan melulu menyalahkan masa lalu yang justru membuatmu terus menyesal dan tak maju.”
Semarang, 28 Juni 2021

