Madu yang berceceran bahkan tak mengundang satu pun semut untuk mengecupnya
Semilir angin tak sedikitpun menghilangkan rasa gerah di rongga dada
Jejak kaki melangkah cepat menjauhi hari yang merayap gelap
Di bawah sinar rembulan aku amati kembali kenangan yang pernah kita lakukan
Kenangan yang telah kita ukir dengan kebahagiaan
Kini berbanding terbalik dengan kenyataan
Suasana hening, angin semilir, dan hati yang tak lagi terusik
Membuatku termenung dalam kesendirian
Meratapi nasib setelah kau pergi meninggalkan
Bulan begitu bersahabat dengan egoisnya
Menyimpan cahaya sendiri sehingga tak menyinari hati
Mengganti garis lengkung bibir menjadi garis lurus horizontal
Membuat orang yang memandang tak berkesima
Bila kau tanyakan mengenai rasa sakit?
Tembok raksasa tidak akan membuat air mataku berhenti mengalir
Hingga kini ku mulai untuk menerjang melawan badai yang mengguyur pipi ku
Secepat hembusan nafas pertemuan berganti dengan perpisahan
Menyuguhkan luka yang membekas lama di dada
Seolah-olah tangisanku antri dengan rapi untuk mengisi hariku yang selalu gembira
Mungkin ini sudah menjadi jalan dari Sang Kuasa
Kata kita akan selalu bersama, kini berubah menjadi asa
Sholawat-sholawat yang dilantunkan, seakan-akan memaksaku mengingat akan kata perpisahan
Suara darbuka, dimainkan sengan jari-jari yang begitu lincah menjadi pukulan yang menggetarkan hati
Tak dapat menahan air mata seolah aku bingung harus bagaimana
Tersesat di dalam perasaan yang ku bangun tanpa bantuan siapa pun
Oleh: Erina Febri

