Tak Mau Lagi Menyimak Hafalan Alquran Satu-Dua Halaman

Dua guru Planet NUFO sedang simaan di depan rumah Olimpiade
Dua guru Planet NUFO sedang simaan di depan rumah Olimpiade.

Hafal al-Qur’an dan mengerti artinya adalah impian banyak kaum muslimin. Sebab, dengan hafal dan memahami artinya, petunjuk yang ada di dalamnya bisa ditangkap untuk dilaksanakan. Karena itu, salah satu program yang diselenggarakan di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang dan Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen, Rembang adalah menghafalkan al-Qur’an. Bahkan ada program khusus untuk menghafalkan al-Qur’an dalam waktu 10 bulan. Dan prasyarat untuk menjadi program menghafalkan al-Qur’an adalah terlebih dahulu menguasai bahasa Arab. Jika dalam waktu 1,5 bulan pendaftar program menghafal bisa menguasai kaidah-kaidah dasar bahasa Arab, maka akan diterima sebagai peserta program menghafal. Namun, jika tidak, maka direkomendasikan untuk “angkat koper” atau memilih program lain yang ada di kedua lembaga pendidikan yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. itu. 

Dalam proses menghafal, di antara yang harus dilakukan oleh peserta adalah menyetor hafalan kepada pengasuh. Di Monasmuda Institute Semarang, mekanisme setoran mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdiri Monasmuda Institute, para santri bisa setoran hanya satu-dua halaman. Namun, saat ini, santri hanya diterima untuk setoran apabila sudah siap dengan minimal 1 juz yang setara dengan 20 halaman dengan toleransi kesalahan tidak melebihi jumlah halaman yang dibaca. Artinya, dalam 1 juz, kesalahan tidak boleh lebih dari 20 kali.

Bagaimana detil tentang proses sima’an di Monasmuda Institute dan Planet NUFO, Mlagen, Rembang? Berikut ini wawancara eksklusif dengan Dr, Mohammad Nasih, atau yang akrab disapa putra-putri dan para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana:

 

Baladena: “Kenapa hafal al-Qur’an menjadi program penting di Monasmuda Institute dan Planet NUFO?”

Abana: “Al-Qur’an adalah sumber utama dan bahkan pertama ajaran Islam. Di dalamnya terdapat konsep-konsep yang harus dipahami dengan baik oleh setiap muslim. Nah, kitab yang sudah diturunkan 14 abad yang lalu ini, harus dijadikan sebagai panduan umat Islam sampai hari kiamat.”

Baladena: “Kenapa harus dihafalkan? Apakah tidak cukup dengan dibaca dan langsung dipahami?”

Abana: “Itu dia masalahnya. Al-Qur’an tidak bisa dipahami secara sepenggal-sepenggal. Ayat-ayatnya bagaikan puzzle-puzzle yang antara satu dengan yang lainnya akan menghasilkan perspektif apabila diinterkoneksikan dengan tepat. Dan itu interkoneksi itu terjalin secara unik untuk kasus-kasus tertentu, termasuk yang baru, yang dalam zaman Nabi Muhammad tidak ada. Di sinilah al-Qur’an menjadi petunjuk untuk segala zaman dan tempat. Dan interkoneksi itu hanya akan ditemukan oleh orang-orang yang benar-benar melakukan perenungan mendalam tentang ayat-ayat al-Qur’an. Perenungan itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak hafal. Dengan hafalan dan pemahaman yang baik, perenungan akan bisa dilakukan dari bangun tidur sampai tidur kembali, Di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Misalnya, menjelang tidur atau saat bangun tidur, dalam keadaan gelap, kita bisa merenungkan interkoneksi antara satu ayat dengan ayat yang lain. Atau bisa mengoreksi pemahaman terhadap ayat tertentu yang terasa tidak tepat. Kalau tidak hafal, apa yang mau direnungkan?”

Baladena: “Sekarang kan sudah era computer. Ada banyak aplikasi. Kalau mau mengetahui tema-teman tertentu, apa tidak cukup dengan teknologi itu?”

Abana: “Teknologi itu kan hanya tiruan dari sedikit yang ada pada manusia. Robot misalnya, tidak bisa meniru seluruh gerakan manusia. Komputer juga begitu, setidaknya, sekarang ini belum bisa menyamai kemampuan manusia dalam berpikir dan merasa. Sementara bahasa al-Qur’an harus dipahami dengan tidak hanya logika saja, tetapi juga dengan rasa. Rasa inilah yang saat ini belum dimiliki oleh teknologi tercanggih sekalipun. Teknologi baru memiliki tenaga yang lebih kuat saja, dibandingkan manusia. Tapi kalau soal rasa, hanya manusia yang punya. Dan rasa untuk menangkap petunjuk al-Qur’an, hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dengan kedalaman ilmu. Bukan sembarang orang juga.”

Baladena: “Bisa dapat contohnya, Bah?”

Abana: “Banyak. Saya sebutkan beberapa saja ya. Yang semua orang hafal ayatnya ya. Misalnya surat al-‘Ashr. Di dalam surat ini, setelah Allah bersumpah demi masa, Allah menegaskan bahwa manusia dalam kerugian. Walaupun dalam ayat terakhir juga ditegaskan pengecualiannya, yaitu orang-orang yang beriman, beramal saleh, memerintahkan kepada kebenaran, dan kesabaran, tetapi faktanya kalau kita tanya kenapa manusia mengalami kerugian? Nyaris semuanya menjawab karena tidak memanfaatkan waktu. Bahkan kajian-kajian ustadz viral di youtube juga demikian. Kalau mahasiswa saya bahkan 100 persen menyatakan bahwa sebabnya tidak memanfaatkan waktu dengan efisien. Padahal ini kebalik. Mereka rugi justru karena sudah menggunakan waktu dengan sangat optimal, tetapi hasil pekerjaan mereka tidak dianggap oleh Allah. Tidak ada nilainya sama-sekali nanti di akhirat. Mereka sudah beramal optimal, dan itu berarti menggunakan variabel waktu, tetapi hasil kerja mereka tidak ditimbang oleh Allah. Pemahaman ini hanya bisa ditangkap apabila surat al-‘Ashr ini diinterkoneksikan setidaknya dengan al-Kahfi: 103-103. Di sini Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (al-Kahfi: 103)

Di ayat ini sudah disebut orang yang rugi perbuatannya. Jadi mereka sudah beramal, tapi rugi. Sudah memanfaatkan waktu, tapi rugi. Sekali lagi bukan tidak memanfaatkan waktu. Sebab, mereka sudah beramal. Bagaimana gambaran kerugiannya?

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 104)

Bahkan di ayat ini digambarkan bahwa mereka sampai mengira bahwa mereka telah melakukan sebaik-baik amal. Berarti memang sudah beramal. Kalau sudah beramal, sekali lagi, sudah menggunakan waktu. Masalahnya adalah mereka kafir, dan karena kafir itu, amal kebaikan mereka tidak dihitung oleh Allah.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 105)

Karena kafir itulah, maka sebanyak apa pun perbuatan baik mereka, maka tidak ditimbang. Bayangkan timbangan digital. Ada benda berat di atasnya, tetapi timbangan digitalnya tidak di-on-kan alias di-off-kan. Nilainya ya tidak ada. Mudah memahaminya kan?”

Baladena: “Boleh berikan satu contoh lagi, Bah? Agar makin jelas dan bisa dibayangkan betapa menghafalkan al-Qur’an itu sangat penting untuk memiliki pemahaman yang benar tentang petunjuk yang ada di dalamnya.”

Abana: “Baik. Satu lagi yang sering saya sebut adalah tentang “sebaik-baik bekal adalah takwa”. Ini juga sama. Sangat banyak yang salah dalam memahami. Atau bisa dikatakan pemahamannya terbalik. Ini kan ayat tentang pelaksanaan ibadah haji. Dan ini ada konteksnya. Waktu itu, orang-orang Yaman mau berangkat haji ke Makkah, tetapi mbonek. Tahu bonek kan? Bondo nekad. Seperti kalau di Indonesia itu supporter bola, datang ke Jakarta tak modal bekal. Dulu ramai-ramai ke stasiun, lalu naik di atas kereta dan pergi ke Jakarta. Sampai ke Jakarta kemudian rampas kanan kini. Para jama’ah haji dari Yaman ini merasa bahwa mereka adalah tamu Allah. Masa’ tamu Allah tidak diurus oleh Allah? Ternyata, karena mbonek itu, mereka terlantar dalam perjalanan. Kelaparan kehausan, sehingga membuat orang-orang di sepanjang perjalanan mereka kasihan, bahkan mereka meminta-minta untuk bisa bertahan. Ini dikritik oleh al-Qur’an. Keadaan mereka itu membuat orang lain jadi ikut susah. Dan itu bukan termasuk takwa. Karena itu, mereka disuruh bawa bekal. Maka turunlah ayat ini:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (al-Baqarah: 197)

Jelas sekali kan, bahwa ayat ini memang kaitannya dengan haji. Dan kalau bicara tentang syarat wajib melakukan haji kan memang harus mampu, termasuk di antaranya memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan yang membutuhkan bekal. Jangan asal-asalan. Nah, agar pemahaman ini benar, harus dikaitkan dengan ayat lain ini:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imran: 97)

Baladena: “Saya nangkap. Sangat jelas. Ternyata memang perlu hafalan yang baik ya untuk bisa memahami al-Qur’an. Nah, karena itu saya ingin beralih kepada teknis menghafal. Bagaimana menghafal yang baik?”

Abana: “Menghafal yang baik adalah menghafal dengan tingkat kesalahan yang minimal. Makin sedikit salahnya, makin baik. Dan karena itu, butuh komitmen tinggi. Tidak semua orang cerdas bisa menghafalkan al-Qur’an. Namun, tidak semua orang yang berkomitmen juga mampu menghafalkan al-Qur’an. Hanya orang yang berkomitmen tinggi dengan kecerdasan, dalam konteks ini saya menyebutkan kecerdasan memorial, yang standar yang bisa hafal al-Qur’an. Saya punya beberapa santri yang secara intelektual bagus, komitmennya juga tinggi, tapi tidak mampu menghafalkan al-Qur’an. Karena sudah tiga empat bulan waktu itu, dan dia baru bisa menghafalkan kurang dari dua juz, dan kualitas hafalannya tidak begitu bagus, maka saya sarankan untuk berhenti saja. Melakukan yang lain. Kalau mau tetap menghafalkan al-Qur’an, hafalkan saja sendiri di rumah. Pelan-pelan. Atau setidaknya yang sudah dihafal itu dijaga dan diperbaiki secara terus-menerus.”

Baladena: “Jadi dalam hal ini, Abah Nasih punya temuan apa?”

Abana: “Pada awal saya membuka program menghafal, kira-kira tahun 2012-2013, karena awal Monash Institute, belum ada program menghafal. Saya khawatir santri-santri takut dan malah kabur. Maka baru saya himbau saja, dan pada tahun inilah ada beberapa yang berinisiatif sendiri untuk menghafal, lalu menyatakan mau setoran. Lalu setoran, ada yang satu halaman, dua halaman, setiap saya selesai mengajar Sabtu dan Ahad. Namun, kalau cuma satu dua halaman, ternyata orientasi mereka hanya kejar setoran saja. Banyak yang tidak melakukan muraja’ah atau mengulang yang sudah disetorkan, sehingga hafalan mereka hilang. Saya juga sering menemukan anak-anak yang mengaku sudah menyelesaikan di pondok tahfidh tertentu, ternyata ketika saya teks satu juz, bahkan juz yang awal pun tidak bunyi. Nah, ini yang membuat saya harus makin hati-hati mengelola program ini. Jangan sampai sudah mendapatkan ijazah hafal al-Qur’an, tetapi ternyata hafalannya “terbang” alias hilang. Saya berani menyebut ini terjadi pada 90 persen penghafal. Apalagi kalau hafalannya tidak berbasis pada pengetahuan arti kata. Jadi, saya sekarang hampir tidak percaya ada orang hafal al-Qur’an total 30 juz, tetapi tidak tahu artinya. Data yang saya punya, umumnya orang yang tidak bisa bahasa Arab, jadi tidak mengerti makna literal ayat al-Qur’an, mentok di 23 juz saja. Rata-rata hafal hanya 13 juz saja. Kalau ada yang punya data pembanding, saya juga mau dibagi.”

Baladena: “Jadi ini yang membuat Abah Nasih mengubah teknis setoran ya?”

Abana: “Benar. Saya kemudian hanya mau menerima setoran menimal satu juz dengan kesalahan maksimal 20 kali. Jadi, mereka harus simaan dulu dengan sesama penghafal, menghitung kesalahan tidak lebih dari 20 kali. Setelah itu baru setoran kepada mentor dengan teknis yang sama. Setelah itu baru maju ke saya dengan terlebih dulu melaporkan berapa kali kesalahan dalam simaan dengan teman dan mentor mereka. Dengan begitu saya tidak buang-buang waktu. Biasanya, kalau tingkat kesalahan rendah, satu juz hanya sekitar 30 menit saja. Setelah saya menyimak, gentian saya disimak. Jadi saling menguntungkan. Menyimak, lalu disimak. Santri juga tahu bagaimana kualitas hafalan saya. Dengan cara inilah, saya menjaga hafalan saya, agar tidak terbang.”

Baladena: “Ada teknis lain dalam proses menghafal ini?”

Abana: “Ada. Bahkan yang terakhir, mereka saya minta untuk menuliskan target mereka dalam menghafal. Sehari mau berapa halaman? Satu atau dua halaman? Kalau satu halaman berarti butuh dua puluh bulan. Kalau dua halaman ya sepuluh bulan saja. Kalau setengah halaman berarti butuh 40 bulan. Tiga tahun lebih empat bulan. Nah, kan dengan begitu sudah bisa ditulis, kapan akan simaan juz sekian, dan mereka akan khatam menghafal tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian. Kalau mereka tidak memenuhi target itu, mereka tidak boleh melanjutkan setoran kepada saya. Saya anggap mereka tidak commited dan hanya buang-buang waktu saya saja. Orang yang tidak disiplin keras, tidak akan bisa hafal al-Qur’an. Walaupun punya kecerdasan di atas rata-rata. Maka sekali lagi, di samping harus punya kecerdasan standar, harus memiliki karakter disiplin keras. Baru akan bisa. In syaa’a Allah”. (AH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *