“Jika menginginkan kemewahan selama satu tahun, tanamlah padi. Jika menginginkan kemewahan selama sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika menginginkan kemewahan selama seratus tahun, tanamlah manusia.”
Sebagian kita pasti sudah tidak asing dengan pepatah di atas. Dan sebagian kita pula pasti sudah paham dengan paham dengan maksud dan pesan yang terkandung di dalamnya. Tidak terkecuali bagi Joko Mulyono (30).
Berbekal keyakinannya akan pepatah di atas, dengan “terpaksa” Joko menanggalkan kebanggaanya sebagai seorang sarjana lulusan Undip untuk terjun langsung menjadi petani tebu millenial. Berkat usaha yang tidak kenal menyerah, suami Siti Muti’ah ini bisa menjadi seorang pionir petani tebu millenial yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Terbaru, bapak 2 anak ini menyabet penghargaan sebagai juara I Petani Tebu Millenial yang diadakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah 2025 dalam acara “Anugerah Insan Pertanian Tahun 2025” di Hotel Novotel Semarang (27/11). Menjadi mitra kebanggaan PT. Kebon Agung PG Trangkil, Joko berhasil mengungguli pesaing ketatnya, Agus Hermawan dari Kudus.
Setelah menerima penghargaan langsung dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, SP., M.Si, kepada tim Baladena.id, laki-laki kelahiran Desa Mantingan, Jaken, Pati ini memberikan beberapa petuah untuk senantiasa dijadikan pegangan oleh kegerasi Millenial.
“Pertama, Jika tidak kita (generasi millenial) yang menjaga stabilitas dan ketahanan pangan nasional, lantas harus berharap kepada siapa?”, ucap Joko dengan semangat menggebu-gebu.
Joko menjelaskan bahwa sudah sepatutnya sebagai generasi millenial untuk melanjutkan estafet pertanian nasional. Tidak perlu malu, menjadi petani juga merupakan sebuah kebanggaan yang tidak kalah dari PNS dan pekerja kantoran. “Menjadi petani itu mulia”, imbuhnya.
“Kedua, keberhasilan sebuah pendidikan bukan diukur dari jenis pekerjaan yang mapan. Namun dari proses yang bertahap dan keuletan luarbiasa. Keberhasilan sesungguhnya adalah saat anak petani, yang notabene selalu dianggap sebagai pekerjaan yang terpinggirkan dan termarjinalkan tidak lagi malu dengan pekerjaan orangtuanya. Akan tetapi mampu menerima dengan lapang dan melanjutkan estafet roda pertanian. Serta menjadi pacuan semangat untuk menjadi petani yang berbeda, senantiasa bergerak dan berinovasi dengan perkembangan zaman”. tuturnya.
Rasa minder akan pekerjaan sebagai seorang petani harus dihilangkan dan diganti dengan kebanggaan. Sehingga nantinya akan memupuk etos kerja yang luarbiasa. Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas 4.0 bukan lagi angan-angan semata.
“Ketiga, penghargaan ini juga menjadi bukti bahwa kita (generasi millenial) bisa menjadi garda terdepan. Regenerasi petani melalui peran milenial, ditambah dukungan pelaku usaha lokal, mampu memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan daya saing sektor pertanian daerah” sambungnya.
Joko berharap agar generasi millenial Indonesia mampu terus melahirkan inovasi dan pembangunan pertanian berkelanjutan, sehingga menjadi fondasi penting dalam kesejahteraan masyarakat dan pengendalian inflasi pangan daerah.







