Planet Nufo Membangun 50 Rumah untuk Pasangan Hafidh/ah

Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang lebih dikenal Planet NUFO terus menambah berbagai fasilitas yang diperlukan oleh para santri-murid untuk belajar, dan tentu saja di antaranya adalah tempat tinggal. Sebab, seluruh santri-murid dan juga ustadz/ah yang ada di Planet NUFO berasal dari berbagai daerah yang jauh, bahkan ada santri-murid yang berasal dari luar negeri. Datang ke Planet NUFO di hari yang berbeda, akan selalu melihat sesuatu yang berbeda pula. Sebab, bisa dipastikan akan ada sesuatu yang baru. Bukan hanya metode belajarnya yang baru, melainkan juga bangunan-bangunan yang baru.

Kalau awalnya hanya ada dua rumah bambu, beberapa gazebo bambu, dan dua asrama tembok dengan sebagiannya kaca, satu ditempati oleh santri-murid laki-laki dan satu lagi untuk perempuan, seiring peningkatan jumlah santri-murid, dibangun berbagai bangunan unik lainnya. Muncul beberapa bilik kapsul, yang pelan tapi pasti terus bertambah sampai sekarang ada 17 buah. Lalu berdiri dua rumah kayu yang berbentuk umumnya rumah penduduk desa Mlagen. Karena membutuhkan ruang kelas untuk memenuhi kebutuhan administratif, dibangunkan lima lokal gedung berukuran 9×8 M2, disusul dengan toilet umum dengan 24 toilet menambah 10 toilet yang sebelumnya sudah ada. Ini karena jumlah penghuni Planet NUFO sudah menembus angka ratusan, dan santri-murid dituntut untuk disiplin, terutama shalat tepat waktu. Tentu saja membutuhkan toilet dan terutama sarana wudlu tanpa antrian yang mengular yang bisa membuat mereka punya alasan untuk terlambat. Lalu sekarang hampir selesai 7 rumah kepang bambu unik berukuran 5×7 M2 sebagai bilik-bilik santri yang besar. Masing-masing rumah diisi oleh 8 santri remaja.

Sesungguhnya, pendiri dan pengasuh Planet NUFO ingin membangun 50 rumah untuk tempat tinggal dan sekaligus tempat belajar. Konsepnya, rumah-rumah itu dihuni oleh sepasang suami-istri ustadz/ah yang keduanya atau minimal salah satunya hafal al-Qur’an. Di masing-masing rumah ditempatkan maksimal 20 orang santri-murid yang akan dididik secara super intensif al-Qur’an sebagai kemampuan dasar umum. Mereka diajari bahasa Arab yang sangat diperlukan untuk bisa menghafalkan al-Qur’an secara lebih cepat. Untuk belajar sains dan teknologi, mereka bisa belajar di sekolah yang sudah diintegrasikan atau rumah-rumah lain yang dihuni oleh guru lain dengan kompetensi khusus bidang sains dan teknologi.

Bagaimanakah konsep belajar yang akan diterapkan di Planet NUFO dalam konteks ini? Berikut ini wawancara dengan pendiri dan pengasuh Planet NUFO yang juga pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ, Jakarta, Dr. Mohammad Nasih, atau yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana:

Baladena: “Abah Nasih, saya lihat salah satu yel-yel yang sering diteriakkan oleh para santri-murid Planet NUFO ini adalah “different and the best”. Bisa dijelaskan sedikit tentang itu?”

Abana: “Namanya yel-yel itu harus memberikan efek motivasi yang kuat. Tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat mereka untuk menjadi yang terbaik. Kalau cuma sekedar beda saja, ya pasti banyak yang bisa melakukannya. Maka tidak boleh sekedar berbeda, tetapi juga sekaligus yang terbaik. Kalau berbeda, tapi terburuk, buat apa. Konsep berbeda di sini sebenarnya untuk mendorong anak-anak memiliki keberanian untuk tidak konvensional. Mereka harus punya inisiatif untuk melakukan yang baru. Kalau baru itu kan pasti beda. Nah, jalan baru itu harus menghasilkan yang terbaik.”

Baladena: “Jalan apa yang ditempuh untuk meraih cita-cita berbeda dan terbaik itu?”

Abana: “Jalan yang paling mungkin adalah melakukan intensifikasi dalam pendidikan. Semua yang dilakukan oleh santri-murid di sini, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, haruslah memiliki nilai belajar dan bekerja. Mungkin wujudnya adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi nilai-nilai edukatif dan produktifnya harus ada. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang sia-sia.”

Baladena: “Untuk bisa melakukan itu bagaimana caranya? Anak-anak kan belum semuanya tahu mana aktivitas yang bernilai edukatif dan produktif itu. Itu masalahnya kan?”

Abana: “Mereka harus mendapatkan pengawasan dan pembinaan secara melekat. Jika ada aktivitas yang sia-sia, harus langsung dibenahi dengan cara yang tepat. Dan mereka dimotivasi dengan sesuatu yang merupakan reward dari apa yang telah mereka lakukan. Kalau ada imbalannya, mereka akan bisa merasakan manfaatnya secara langsung. Misalnya, kalau mereka punya bibit, saya beli per bibit yang siap tanam Rp. 3000,00.. Mereka jadi semangat. Alhamdulillah.”

Baladena: “Bagaimana caranya agar pengawasan bisa melekat ? Jumlah mereka kan banyak. Sekarang saja sudah ratusan. Kalau nanti ribuan bagaimana?”

Abana: “Saya sudah menyiapkan mekanisme teknisnya. Sejak awal kami mendirikan Planet NUFO, yang saya siapkan adalah guru dalam jumlah besar. Awalnya 14 orang. Sekarang lebih dari 30 orang. Dan hampir semua mereka berpendidikan pascasarjana. Sebenarnya ada lagi yang saya rencanakan, tetapi membutuhkan waktu mungkin 3-5 tahun, karena membutuhkan proses yang tidak instan. Saya mulai menjodohkan mahasantri saya yang di Monasmuda Institute Semarang yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjadi ustadz/ah di sini. Sekarang baru ada tiga pasang suami istri yang ada di Planet NUFO. Tapi dalam waktu dekat ini, akan ada yang menikah dengan sesama mahasantri dan siap menjadi ustadz/ah di sini. Nah, mereka itu kan membutuhkan tempat tinggal. Tempat tinggal mereka ya nanti di sini. Rencana awal saya, setidaknya punya minimal 50 rumah yang dihuni sepasang suami istri yang keduanya atau minimal salah satunya punya hafalan al-Qur’an. Akan hidup di rumah itu maksimal 20 santri yang akan dibina secara super intensif. Kalau para santri tinggal di rumah ustadz/ahnya kan pendidikannya sekaligus pengawasannya menjadi lebih mudah. Jadi melekat itu tadi.”

Baladena: “Wah, ini perlu tanah yang luas berarti ya, Bah. Apakah tanahnya sudah tersedia?”

Abana: “Bukan hanya butuh tanah yang luas, tetapi juga butuh uang yang cukup. Hahaha.”

Baladena: “Nah itu dia. Semunya perlu dana. Dari mana sumbernya itu, Bah?”

Abana: “Tanah alhamdulillah sudah ada. Kalau dalam waktu dekat ini, sepertinya masih aman untuk membangun belasan rumah. Saya ini cukup kayalah. Hahaha. Saya punya tanah yang memang sejak awal sudah saya niatkan untuk tempat 50 rumah itu. Namun, setelah melihat perkembangan di lapangan, sepertinya tanahnya memang perlu ditambah, agar aktivitasnya tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga ada aktivitas ekonomi. Anak-anak tidak hanya belajar sains dan menghafalkan al-Qur’an, tetapi sudah mulai diajari keterampilan hidup. Mereka harus diajari jadi pengusaha. Nah, ini perlu lahan yang cukup. Kalau satu rumah berdiri di atas lahan 2 hektar saja, berarti butuh lahan 100 hektar kan?”

Baladena: “Sekarang sudah punya berapa?”

Abana: “Sekarang baru punya kira-kira 5 hektar. Tetapi saya siasati dengan menyewa tanah-tanah yang berdeketan, atau menempel, sehingga bisa digunakan untuk melakukan usaha-usaha yang dikerjakan oleh para ustadz/ah bersama para santri-murid di Planet NUFO. Misalnya, saya menyewa tanah untuk saya tanami tebu. Nah, di lahan tebu ini, para santri-murid bisa menggembalakan dombanya. Dengan begitu, panen tebunya tetap. Dan lahannya itu memberikan tambahan penghasilan karena dari domba akan ada keuntungan. Belum termasuk keuntungan berupa kemampuan ketrampilan hidup santri-murid meningkat.”

Baladena: “Kalau 50 rumah, berarti 50 pasang. Dan santrinya bisa sampai 1000 orang ya, Bah? Kira-kira kapan itu bisa direalisasi?”

Abana: “Iya. Nah ini dia yang tadi saya bilang butuh proses. Tapi prosesnya sekarang sudah saya akselerasi. Kalau dulu, awal-awal, kan tidak pernah kepikiran untuk menjodohkan mereka. Tapi seiring perjalanan waktu, ternyata untuk membuat mereka lebih optimal dalam amal, mereka lebih baik dijodohkan di antara mereka. Dan untuk itu kan mereka harus lulus S2 dulu. Tapi sekarang sudah makin banyak yang memenuhi kualifikasi. Kalau per tahun ada 5 pasang yang menikah, berarti ya perlu waktu 10 tahun. Semoga sih bisa per tahun 10 sampai 12 pasang, agar waktunya tidak sampai 5 tahun. Stoknya sebenarnya memungkinkan untuk itu. Sekarang ini kan saya sudah saat musim panen doktor. Yang master jauh lebih banyak. Doakan saja semoga banyak di antara mereka yang berjodoh.”

Baladena: “Persoalan pendanaan tadi bagaimana?”

Abana: “Duit ya kita buat. Kalau kita mau usaha, Allah akan berikan. In syaa’a Allah. Selama ini bisa berjalan tanpa minta sumbangan. Tapi alhamdulillah bisa berjalan dengan akseleratif. Ya itu tadi, para ustadz/ah bersama dengan para santri membangun usaha-usaha produktif ekonomis. Di samping untuk memberikan ketrampilan hidup, juga secara praktis untuk menghasilkan uang. Itulah yang menjadi di antara sumber pendanaan kami. Di samping saya dan keluarga, juga ada teman-teman saya yang tidak pernah saya mintai sumbangan, tetapi dengan kesadaran sendiri, mereka secara sukarela memberikan kontribusi. Itu saya anggap sebagai pertolongan Allah sebagaimana berkali-kali dijanjikan dalam al-Qur’an. Membangun rumah itu kan perlu waktu. Pokoknya sambil jalan. Semoga jalannya makin cepat, setengah berlari, dan kemudian bisa berlari makin kencang.”

Baladena: “Kenapa tidak mengajukan sumbangan? Pemerintah kan sekarang juga mengalokasikan anggaran untuk pesantren?”

Abana: “Memang sejak awal mendirikan pesantren, bahkan yang di Semarang, Monasmuda Institute itu, kami telah bertekad tidak akan mengajukan proposal kepada siapa pun. Kami harus melakukan usaha sendiri. Ibarat yang sering saya gunakan adalah kita harus punya uang sendiri untuk bisa membeli pertalite. Jadi kita masih bisa berjalan dengan kencang. Nah, kalau ada yang melihat dan kemudian terdorong untuk berkontribusi, kita bisa beli pertamax atau bahkan pertamax turbo, sehingga larinya bisa lebih kencang lagi. Nah, inilah yang saya pegang sampai sekarang. Kalau minta sumbangan nanti kita dikira memanfaatkan lembaga pendidikan untuk memperkaya diri sendiri. Biar untuk yang lain saja yang lebih membutuhkan. Alhamdulillah sampai saat ini, kami mendapatkan bukti bahwa janji-janji Allah semuanya benar. Sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an, kita ini diperintahkan untuk bekerja. Nanti Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat. Dan itu benar-benar terjadi. Saya disumbang oleh mertua, istri, dan teman-teman saya juga. Kalau pakai uang saya sendiri ya tidak cukup. Mereka itu adalah orang-orang beriman yang dijanjikan oleh Allah itu. Mereka melihat kerja saya, lalu ikut membantu. Sederhana saja saya ini. Mengajukan proposal sebenarnya mudah. Kan teman-teman saya yang pejabat di eksekutif dan legislatif banyak. Banyak juga yang menawarkan. Tapi saya khawatir mempengaruhi mental para santri-murid. Nanti mereka jadi malas dan hanya mengandalkan pihak lain. Kalau hasil sendiri kan lebih memuaskan. Lagian, kalau urusan proposal itu kan banyak masalahnya. Negara kita ini masih dipenuhi dengan urusan sunat menyunat. Niat kita baik, tapi malah melakukan sesuatu yang tidak benar. Hindari saja lebih selamat.” (AH)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *