Planet Nufo Gunakan Seleksi Alam

Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO benar-benar berkomitmen untuk menjadi sekolah alam yang membebaskan dengan menjadikan Islam sebagai basis pendidikannya. Dalam praktek penyelenggaraan pendidikannya, Islam dijadikan sebagai nilai dasar. Al-Qur’an dan hadits menjadi pelajaran umum wajib umum. Selain itu, Planet NUFO memberikan kebebasan kepada santri-murid untuk memilih sesuai dengan bakat dan minat. Pengasuh dan para ustadz/ah hanya membantu mereka untuk mengenali siapa sesungguhnya mereka, dengan mengetahui apa sesungguhnya bakat terpendam dan minat mereka. Karena itulah, Planet NUFO tidak melakukan seleksi calon santri-murid yang akan masuk. Prinsip yang digunakan adalah “siapa cepat dia dapat”. Kalau kuota sudah terpenuhi, maka tidak menerima santri-murid lagi, walaupun dianggap memiliki keunggulan yang luar biasa. Yang dijalankan di lembaga pendidikan yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. itu adalah “seleksi alam”. Dan karena sistem ini, Planet NUFO menemukan anak-anak dengan bakat minat yang membuat Planet NUFO memiliki “kekayaan” yang luar biasa dan bisa membuktikan diri sebagai yang “different and the best”.

Bagaimana praktek seleksi alam yang dijalankan oleh pesantren dan sekolah perkaderan yang diasuh oleh pengajar Ilmu Politik di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ itu? Berikut ini wawancara dengan Dr. Mohammad Nasih, M.Si., yang akrab disapa dengan Abana atau Abah Nasih.

Baladena: “Abah Nasih, Planet NUFO ini kan terhitung baru ya. Tapi saya lihat sudah cukup ramai ya. Dan tadi saya tanya-tanya, santri-murid di sini berasal dari berbagai daerah? Bahkan ada yang dari luar negeri. Bagaimana mereka bisa datang ke sini?”

Abana: “Wah ini pertanyaan salah alamat kayaknya. Haha. Ya tanya mereka dong, bagaimana ceritanya mereka bisa sampai ke sini?”.

Baladena: “Sudah saya tanya juga. Tapi jawaban mereka karena orang tua mereka yang membawa mereka ke sini. Sementara ortunya kan sekarang tidak di sini. Ya saya tanyakan kepada Abah Nasih saja deh.”

Abana: “Iya. Memang sebagian santri murid di Planet NUFO ini adalah anak-anak teman-teman saya, terutama teman-teman saya sesama aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Ada anak teman seangkatan saya di HMI Cabang Semarang dan PB HMI dulu. Ada juga anak yunior dan senior saya. Angkatan 2021, ada 5 anak mantan ketua umum cabang dan kohati cabang. Kemungkinan besar karena orang tua mereka sudah mengenal saya dengan baik, dan kemudian mempercayakan anak mereka di sini. Alhamdulillah. Tapi ada juga ada anak-anak bukan aktivis.”

Baladena: “Apakah karena pertemanan dengan orang tua, mereka diterima di sini?”

Abana: “Tidak sama sekali. Kami menerima siapa pun yang mendaftar ke sini. Baik anak teman maupun bukan teman”.

Baladena: “Sistem seleksinya bagaimana?”

Abana: “Namanya saja pesantren dan sekolah alam, jadi seleksinya ya seleksi alam. Dan karena seleksi alam inilah, kami menemukan anak-anak dengan bakat minat yang sangat beragam dan memungkinkan kami untuk membuatkan wadah sinergi.”

Baladena: “Nah, ini yang perlu mendapatkan penjelasan lebih komprehensif”.

Abana: “Kami tidak melakukan seleksi dengan kriteria selain sehat lahir batin saja. Bahkan belum bisa membaca al-Qur’an pun kami terima. Justru kami merasa memiliki tanggung jawab untuk membina yang belum bisa baca tulis al-Qur’an. Sebab, minimnya muslim Indonesia yang bisa membaca al-Qur’an, itu adalah di antara yang menyebabkan keprihatinan kami. Namun, kami menemukan anak-anak yang tidak memiliki kapasitas-kapasitas tertentu yang biasanya menjadi syarat untuk bisa diterima di sekolah yang dianggap unggulan, memiliki keunggulan di bidang-bidang lainnya. Misalnya, ada anak yang IQ-nya sangat biasa saja, ternyata sangat jago bermain musik, ada yang vokalnya sangat kuat, dan lain-lain. Kemampuan-kemampuan di bidang musik yang juga beragam ini membuat kami sekarang punya setidaknya dua grup band, yang pertama bernama BENEFIT dan yang kedua bernama BEN-SIN (س). Kalau kami menggunakan kriteria sekolah pada umumnya, maka mungkin kami belum punya grup band. Sebab, anak multi talenta yang kami miliki sepertinya tidak lebih dari lima anak. Multitalenta sudah kami rumuskan, yaitu: bisa ngaji (menghafal al-Qur’an), nyari uang (usaha), menulis, dan nyanyi (musik dan/atau vokal). Jika memiliki tiga saja di antara empat itu, maka masuk dalam kategori santri-murid multitalenta.”

Baladena: “Jadi Planet NUFO menghalalkan musik dong?”

Abana: “Bukan hanya menghalalkan, tapi menyunnahkan. Lo iya. Ini bagian dari kritik kami kepada pandangan yang mengharamkan music. Dan inilah yang menyebabkan umat Islam tertinggal dalam pengembangan seni. Kami siap dengan argumentasi berbasis al-Qur’an dan hadits secara ilmiah dan rasional. Dan kami bertekad menggunakan musik sebagai salah satu sarana untuk melakukan dakwah dan syi’ar Islam. Kami berpandangan dengan basis argumentasi yang kokoh bahwa al-Qur’an itu bahkan hadir dalam konteks untuk mengalahkan seni puisi yang sangat canggih. Nah, tentu al-Qur’an memiliki nilai yang jauh di atasnya. Baca saja surat al-Kautsar, al-A’shr, dan al-Qadr dengan benar, pasti akan terasa. Baca halaman pertama surat Thaha, akan terasa juga, dan inilah ayat-ayat yang membuat Umar bin Khaththab masuk Islam. Bukan hanya nilai seninya yang mengalahkan kemampuan para penyair pada saat ini, tetapi isi ayat-ayatnya itu yang dahsyat menggetarkan. Nah, kami ingin agar sarana seni ini diisi dengan muatan-muatan Islam yang luar biasa itu, sehingga akan ada lebih banyak orang yang mengenal isi ajaran Islam.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *