Setiap kali datang ke Planet NUFO, kita akan menyaksikan sesuatu yang baru. Jika sebulan saja kita tidak berkunjung, kita akan dibuat pangling dengan lingkungan Pesantren dan Sekolah Alam yang terletak di sebelah timur Desa Mlagen Pamotan Rembang ini. Nampak sekali akselerasi yang terjadi pada lembaga pendidikan tidak biasa yang didirikan dan diasuh secara langsung oleh Dr. Mohammad Nasih dan didukung oleh puluhan mahasantrinya yang satu dekade lalu digembleng di Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang dan menjalani studi pascasarjana di berbagai perguruan tinggi, bahkan ada yang lulusan luar negeri. Bagaimana berbagai percepatan itu terjadi?

Baladena.id akan melaporkan hasil wawancara dengan Pengasuh Planet NUFO yang juga pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI yang akrab disapa Abah Nasih:

Baladena: “Saya lihat Planet NUFO ini selalu berubah ya, Bah. Dan sepertinya makin akseleratif saja ya?”

Abah Nasih: “Kalau tidak terjadi perubahan, itu tanda kematian. Tetapi juga tidak boleh asal berubah. Perubahannya harus positif, menjadi lebih baik. Karena itu, kita harus selalu berusaha menciptakan perubahan menuju yang lebih baik, dan sebisa mungkin dengan percepatan. Agar hari ini lebih baik dibandingkan kemarin, dan besok lebih baik dibandingkan hari ini. Dengan begitu, kita akan masuk dalam kategori orang-orang yang oleh Rasulullah saw. disebut sebagai orang beruntung, bukan merugi, apalagi terlaknat. In syaa’a Allah”.

Baladena: “Nah ini masalahnya. Bagaimana kita bisa melakukan akselerasi mengarah kepada yang lebih baik ini? Boleh ya, Bah, berbagi pengalaman agar bisa dicontoh juga oleh yang lain”.

Abah Nasih: “Ya tentu saja. Kebaikan harus kita sebarluaskan. Agar tidak kalah oleh gegap gempita kepalsuan, pencitraan, dan hoax yang akhir-akhir ini dihembuskan. Akhirnya, yang melakukan kebaikan tidak nampak, dan yang hanya melakukan pencitraan kelihatan glowing. Wa ammaa bi ni’mati rabbika fahaddits, nikmat Allah harus kita ceritakan. Dimulai dari mana ini ya? Kita mulai dari ide ya. Kata Plato memang “semua berawal dari ide”. Sebab, dari ide inilah, kita bisa melahirkan tenaga. Ide besar, akan melahirkan tenaga besar. Kalau punya tenaga besar, usahanya bisa besar. Kalau usahanya besar, dilakukan dengan sabar, awalnya kita akan merasa berat. Lalu merasa butuh bantuan. Dan tempat meminta bantuan paling cocok adalah Allah. Maka kita akan banyak berdo’a. Ikhtiar kita akan kita jalin kelindankan dengan istikharah, berdoa kepada Allah, agar menguatkan kita. Dari sinilah keajaiban-keajaiban akan datang, yang membuat kita sendiri bisa terheran-heran. Ada kejadian-kejadian baik yang terjadi di luar dugaan, tak disangka-sangka. Yang awalnya nampak kurang, lalu mendapatkan kecukupan. Yang awalnya membuat kita deg-degan, kemudian membuat kita merasa senang, tenang, dan penuh kebahagiaan. Itu terjadi secara berulang, sehingga kita kemudian bisa memahaminya sebagai sebuah pola pertolongan Allah kepada siapa pun yang mau dan menginginkannya, dengan usaha dan doa sekali lagi”.

Baca Juga  Keluarkan SP3, KPK Setop Kasus Korupsi BLBI yang Jerat Sjamsul Nursalim

Baladena: “Percepatan yang terjadi ini bukan hanya bermodal ide kan, Bah? Tapi memerlukan pendaan yang tidak kecil tentunya. Saya baca kata mutiara yang tergantung di depan itu menarik, “logika tanpa logistik akan macet”. Betul kan?

Abah Nasih: “Benar sekali. Kalau ini saya bisa kutip materialisme historisnya Karl Marx. Kapital, spesifiknya uang memang sangat penting untuk perjuangan. Dan Nabi Muhammad sudah menggabungkan apa yang dikatakan oleh Plato dan belakangan kemudian dikatakan oleh Marx itu. Nabi kita ini memang luar biasa. Nabi Muhammad memiliki ide untuk perbaikan. Ilmunya didapatkan dari firman, wahyu Allah Swt. yang harus diperjuangkan. Dan perjuangan besar membutuhkan materi atau logistik besar. Di dalam al-Qur’an bahkan disebut berkali-kali bahwa perjuangan itu dengan harta dan jiwa. Bukan hanya dengan retorika dan sekedar do’a. Untuk menghasilkan SDM guru yang bisa diandalkan diperlukan dana yang besar. Untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pendidikan di Planet NUFO ini juga perlu pendanaan yang tidak kecil. Mulai tanah, bilik-bilik unik itu, fasilitas toilet dan tempat wudlu yang banyak itu, dan lain-lain, semua butuh pendanaan yang cukup. Kita tidak mungkin membangun disiplin santri kalau mereka masih punya alasan untuk terlambat shalat jama’ah karena wudlunya antri. Semua celah untuk membangun alasan tidak disiplin harus kita tutup. Dan sekali lagi, semuanya perlu uang.

Baladena: “Nah ini dia. UUD juga ini. Ujung-Ujungnya Duit kan. Lalu dari mana pendanaan yang tidak sedikit ini didapatkan? Ke mana minta sumbangan?

Abah Nasih: “Alhamdulillah, sejak pertama kali mendirikan lembaga pendidikan, mulai dari Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute di Semarang pada medio 2011, kami belum pernah menulis proposal permohonan bantuan pendanaan. Karena itulah, saya, kami ya, sangat percaya kepada keberkahan.

Baca Juga  Profil Alwi Husein Al Habib, Mahasiswa Asal Garut yang Sukses Berorganisasi di Semarang

Baledana: “Jadi sumber pendanaan dari mana nih, Bah? Jujur saja, ini yang bikin penasaran.”

Abah Nasih: “Saya memang memulai membangun lembaga pendidikan ini dengan dana pribadi. Zakat saya dan istri. Alhamdulillah saya punya tanah warisan dari almarhum bapak saya yang meninggal saat saya masih kelas I MAN Lasem. Sekarang MAN 2 Rembang. Tidak terlalu luas kalau ukuran konglomerat, hanya 5 hektar saja di Desa Samaran sana. Dekat Pamotan. Biasanya disebut Tegal Bentung. Bagi saya, itu sudah sangat luar biasa. Tanah itu kemudian saya tanami tebu yang dulu tiap tahun menghasilkan kira-kira Rp. 100 juta. Ditambah dengan tanah-tanah sewaan yang juga saya tanami tebu. Lumayan. Daripada zakatnya tidak jelas jadi apa, hanya dimakan dan habis, saya buat saja program beasiswa untuk lulusan SMU yang mau kuliah. Saya mulai dari 20 orang santri. Alhamdulillah kemudian berkembang dan sekarang makin dinamis. Para mahasantri yang sudah sekolah pascasarjana itulah yang sekarang jadi guru di Planet NUFO. Sembari menyelesaikan S2 dengan fasilitas beasiswa bergulir, mereka menjadi pendidik di sini. Sambil menyelam minum susu. Kalau lulus S1 pulang, akan dipaksa kawin oleh ortu. Haha. Maka saya amankan di sini. Agar prosesnya tuntas. Tentu saja perlu pembiayaan besar. Kalau dari saya saja, pasti tidak cukup. Karena itu jangan pernah mengira juga, karena tidak mengajukan proposal bantuan pendanaan, kami tidak mendapatkan bantuan. Banyak yang memberikan bantuan kepada kami. Mereka adalah orang-orang beriman yang dikirimkan oleh Allah Swt. untuk mengakselerasi perjuangan. Saya sering mengibaratkan, ibarat nyetir mobil, jika dengan uang saya sendiri, saya hanya akan bisa beli BBM premium yang membuat mobil saya bisa melaju hanya dengan kecepatan 80 KM per jam saja. Namun, berkat orang-orang beriman itu, saya bisa mengisi tangki mobil saya dengan pertamax plus, sehingga bisa melaju dengan kecepatan 100, 120, 140 KM per jam, bahkan lebih. Bantuan mereka konkret, bentuknya saja yang macam-macam. Alhamdulillah ibu saya memberikan tanah NUFO depan bagian barat. Lalu istri saya menyusul dengan tanah NUFO belakang itu. Teman-teman saya ketika jadi aktivis dan kenal saya dengan apa yang saya lakukan sejak dulu, juga datang. Mertua saya mewakafkan rumahnya, dan masih banyak lagi. Intinya, kami sudah bertekad untuk berusaha maksimal, memberikan sedikit yang kami punya. Jika ada orang beriman mau ikut mendukung, kami senang. Syaratnya hanya satu: tidak boleh ngatur-ngatur kami. Sebab, kami harus independen dan memiliki kebebasan penuh untuk mengatur proses pendidikan dan perkaderan yang sangat tidak mudah. Saya membuktikan bahwa QS. Al-Taubah: 105 “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu,..” ini terjadi, dan saya alami sendiri. Kami menyebut orang-orang yang membantu kami itu adalah orang-orang beriman dalam arti yang luas. Beriman kepada Allah dan percaya kepada kami. Karena itu, kami akan melakukan kerja-kerja sepenuh hati dan tenaga. Jika ada yang belum berhasil, kami akan memperbaikinya, dan berusaha membuat orang yang membantu kami tidak rugi dan kemudian kecewa. Apalagi yang kami lakukan ini adalah sesuatu yang baru. Risikonya juga besar. Namun, bagi kami, tidak ada kegagalan. Hanya ada pembelajaran yang membuat kami harus melakukan dengan lebih baik lagi.

Baca Juga  Peringati Hari Santri, Kelompok 135 KKN RDR 77 UIN Walisongo Semarakkan Gebyar Hari Santri di Kampung Pedurungan Kidul

Baladena: “Bagaimana dengan warga sekitar Planet NUFO? Apakah mereka mendukung?”

Abah Nasih: “Maksudnya ke mana nih? Sejak awal tadi sudah saya katakan bahwa kami tidak pernah minta dukungan siapa pun. Sebab, kami sadar bahwa yang kami lakukan ini tidak biasa. Kalau kami minta dukungan, lalu mereka tidak sependapat dengan yang kami lakukan, nanti kan ribet. Kalau semua kami lakukan dengan apa yang kami sendiri punya, maka siapa pun tidak punya hak untuk tidak setuju. Ekstremnya, yang kami gunakan adalah uang kami sendiri, tenaga yang tercurah adalah tenaga kami sendiri. Jadi kami ya santai saja. Kalau ada yang mengkritik, kami ya akan santai saja. Paling saya guyonin: “Mertua saya yang nyumbang milyaran saja tidak ngatur-ngatur, kok Anda tidak nyumbang apa-apa, malah banyak komentar”. Hahahaha.

Baladena: “Berat kalau begini”.

Abah Nasih: “Kadang-kadang memang kita harus menyatakan apa adanya, walaupun itu pahit. Mendengarkan banyak orang kadang bikin ribet juga. Maka prinsipnya adalah kalau kita sudah yakin bahwa yang kita lakukan ini sudah benar, sudah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, maka walaupun seluruh dunia memandang buruk, kita harus tetap jalan lurus. Allah pasti menolong. In syaa’a Allah.” (AH).

Menafsirkan Ayat dengan Ayat

Previous article

Mengurangi Timbangan: Belajar Korupsi Kecil-kecilan

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News