Pondok Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO yang terletak di Desa Mlagen Pamotan Rembang, makin dikenal dalam dunia pendidikan nasional. Walaupun baru berusia tiga tahun, suasana di dalam lembaga pendidikan yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih dan para mahasantrinya tersebut makin dinamis. Bukan hanya siswa SMP saja yang belajar di sana, tetapi juga ada anak-anak SD, SMU, dan bahkan mahasiswa. Dan mereka berasal dari seluruh penjuru nusantara.
Para mahasiswa awalnya hanya memanfaatkan masa pandemic Covid-19 untuk menghafalkan al-Qur’an. Namun, kemudian makin bertambah jumlah mahasiswa yang kuliah di UT (Universitas Terbuka) dan disusul lagi para lulusan SMU yang mengambil studi di UICI (Universitas Insan Cita Indonesia), universitas digital pertama di Indonesia dan ketiga di dunia. Karena tidak mengharuskan mahasiswa datang ke kampus, maka para mahasiswa kedua universitas tersebut bisa menghafalkan al-Qur’an di Planet NUFO dan merintis berbagai usaha di bidang pertanian, peternakan, dan juga perikanan. Mereka diarahkan untuk menjadi tidak hanya sarjana yang hafal al-Qur’an, tetapi juga memiliki basis ekonomi yang kuat.
Lalu, apa hubungannya dengan kunjungan para pejabat negara, petinggi partai, dan juga tokoh masyarakat datang ke Planet NUFO? Berikut ini wawancara baladena.id dengan Pengasuh Planet NUFO yang juga pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Dr. Mohammad Nasih, yang akrab dipanggil Abah Nasih atau Abana oleh para santrinya.
Baladena: “Abah Nasih, saya baca di media dan channel Planet NUFO, ada beberapa pejabat tinggi negara, tokoh partai politik, dan juga tokoh masyarakat mengunjungi Planet NUFO. Ada apa sebenarnya?”
Abana: “Ya biasa saja. Silaturrahim saja. Atau sembari menjalankan agenda dan saya pas ada di Planet NUFO, maka mereka berkunjung. Siapa contohnya? Bang Akbar Tandjung misalnya. Kalau itu, karena ada seorang teman yang dulu adalah staff ahli Bang Akbar dan sekarang staff ahli Fraksi Golkar menikah dengan gadis kampong saya. Nah, Bang Akbar jadi saksi nikahnya. Maka Planet NUFO saya sediakan untuk Bang Akbar transit dan sekaligus memberikan motivasi kepada para santri-murid Planet NUFO. Bang Akbar kan juga senior saya di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan dengan saya memiliki aktivitas bersama membuat rumah perkaderan di Jakarta. Rupanya Bang Akbar tahu bahwa saya punya pesantren-rumah perkaderan di Semarang. Maka suatu hari beliau mengontak saya. Saya kira awalnya malah mau meminta saya untuk melakukan lobby politik, eh ternyata meminta saya mengembangkan rumah perkaderan di Jakarta, tepatnya di sekitar kampus UI Depok. Dengan senang hati saya mengiyakan. Seperti ikan disuruh berenang. Sebab, itu adalah cita-cita saya juga. Karena itulah, Bang Akbar makin dekat dengan saya. Sebelumnya sudah beberapa kali komunikasi, misalnya ketika saya jadi penceramah Ramadlan di forum-forum KAHMI Nasional, termasuk di antara di rumah Bang Akbar. Bang Akbar juga pernah jadi dosen tamu di program S3 Ilmu Politik UI saat saya kuliah S3 dulu, mungkin sekitar tahun 2007. Dan karena mahasiswa S3 Ilmu Politik UI angkatan saya hanya 8 orang, maka diskusi juga bisa sangat intensif. Jadi, cukup banyak moment yang membuat saya dengan Bang Akbar yang walaupun beda jauh dalam angkatan dan juga beda partai politik, tetapi merasa dekat. Apalagi Bang Akbar saya lihat sebagai senior yang sangat perhatian kepada adik-adiknya di HMI, tanpa pandang latar belakang sosial politik.”
Baladena: “Kalau tidak salah Mantan Ketua MPR yang kini jadi Wakil Ketua MPR, Pak Zulkifli Hasan juga berkunjung ke Planet NUFO? Kalau beliau, punya hubungan apa?”
Abana: “Kalau dengan Pak Zul, saya lebih intensif lagi bertemu. Kami punya forum kajian tafsir di rumah dinas beliau. Pak Zul ini memiliki semangat tinggi dalam kajian keislaman. Karena itu meminta saya untuk menjadi pemateri secara rutin. Juga untuk keluarganya. Pak Zul ini seorang pembelajar. Masa mudanya habis untuk membangun bisnis. Karena itu, sekarang ini sangat giat belajar kepada siapa pun yang dianggapnya memiliki kapasitas yang mumpuni. Dan lebih dari itu, saya ini kan aktivis DPP PAN juga. Pak Zul dan saya sama-sama Pengurus ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia) Pusat. Saat Pak Zul konsolidasi politik di Jateng dan berkunjung ke DPD PAN Rembang dan Bupati Rembang, Pak Zul kontak saya menanyakan posisi saya ada di mana. Saya sedang di Planet NUFO. Karena jaraknya dekat, maka Pak Zul meluncur ke sini. Sebab, sejak pandemi Covid-19, kami hanya sekali-dua kali saja berjumpa. Sama dengan Bang Akbar, Bang Zul juga memberikan perspektif dan motivasi kepada para santri. Lebih spesifik lagi motivasi menjadi pengusaha.
Baladena: “Siapa lagi tokoh yang sudah berkunjung ke Planet NUFO?”
Abah Nasih: “Ya banyak. Hanya saja, sebagiannya tidak terkenal di medsos. Pak Bupati Rembang juga pernah ke sini, setelah menjadi pembicara dalam acara do’a bersama almarhumah Ibu saya. Pak Bupati saya tunjukkan usaha anak-anak di sini. Waktu itu bahkan diberi oleh-oleh jamur janggel jagung hasil produksi santri. Beliau saya pameri kemampuan santri-santri belia menghafal tashrif/sharaf dengan sangat mudah dan bagaikan sedang menyanyi. Ada juga beberapa petinggi kampus, para professor. Saya mengajak mereka bersinergi. Misalnya dari STEBANK Jakarta, IPB University Bogor, dan Unair Surabaya. Kampus kan punya program pemberdayaan masyarakat. Nah, Planet NUFO menjadi tempat para dosen dan mahasiswa mengaplikasikan teori-teori yang mereka pelajari dan ajarkan di kampus. Misalnya untuk beternak domba, menanam pisang, budidaya lele, dll.”
Baladena: “Apa kesan mereka?”
Abah Nasih: “Sangat positif. Alhamdulillah. Pada umumnya mereka sangat senang dan menganggap bahwa seharusnya lembaga pendidikan memang didesain seperti Planet NUFO ini. Lembaga pendidikan harus menyediakan banyak pilihan kepada peserta didik untuk jadi intelektual, politisi, pengusaha, dll. Kalau mau jadi intelektual, lembaga pendidikan menyediakan fasilitas untuk mengajarkan mereka berpikir, meneliti, dan menulis. Yang ingin jadi pengusaha, di sini ada berbagai amal usaha di berbagai bidang: pertanian, peternakan, jualan, dll. Tinggal menyesuaikan dengan keinginan saja pokoknya. Yang punya bakat jadi politisi difasilitasi dengan adanya organisasi intra maupun ekstra. Di sini ada tidak hanya OSIS, tetapi juga IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), IPNU (Ikatan Pelajar NU), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan HPI (Himpunan Pelajar Indonesia). Dengan cara itu, kami berharap, para santri nanti benar-benar siap menjalani kehidupan riil. Sebab, untuk menjadi guru misalnya, apalagi kalau mengajarkan agama, tidak boleh minta bayaran. Maka mereka harus siap dengan sumber-sumber penghidupan yang bisa menopang. Apalagi kalau ingin jadi politisi. Tentu harus punya uang milyaran. Bukan untuk money politic, tetapi untuk political cost. Dan perlu dicatat, bahwa pendidikan politik itu lebih mahal dibandingkan politik uang. Karena itulah, para politisi kita sekarang ini lebih banyak yang memilih politik uang. Sebab, itu adalah jalan pintas. Walaupun mahal, tetapi sebenarnya lebih murah. Karena Planet NUFO ingin melahirkan kader-kader pemimpin umat dan bangsa, maka mereka harus kuat dalam ilmu, harta, dan kapasitas kepemimpinan.
Baladena: “Wah, luar biasa ini visi missi Planet NUFO. Pasti biayanya tidak kecil ini. Kalau boleh tahu, sumber pendanaan dari mana saja ini?”
Abah Nasih: “Ini pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya. Tapi saya tidak bosan menjawab. Kita harus punya uang cukup untuk membiayai cita-cita dan idealisme kita sendiri. Kalau tidak, maka visi kita akan berbelok. Karena itu ya kami membiayai semua ini dengan modal dasar dari usaha-usaha kami sendiri. Saya bersama santri-santri saya yang dulu saya bina di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang. Mereka yang menjadi guru-guru di sini dengan imbalan beasiswa pinjaman untuk kuliah pascasarjana. Tanpa mereka, pesantren-sekolah ini tidak bisa jalan. Alhamdulillah. Dibantu ibu saya, istri saya, teman-teman saya. Prinsip saya, uang kami adalah modal dasar untuk menggerakkan secara optimal. Sementara bantuan dari pihak-pihak lain yang kami tidak perlu menulis proposal, karena kami berpikir tidak mungkin akan melahirkan generasi mandiri kalau kami meminta-minta, itu hanya untuk mengakselerasi. Sering saya buatkan ibarat: jika dengan bensin kami sendiri, kami bisa melaju dengan kecepatan 90-100 KM/jam, maka dengan bantuan orang-orang beriman dan baik, maka kami bisa melakukan akselerasi sampai 120, bahkan 140 KM/jam. Dengan bantuan itu kami bisa lebih cepat, dan tanpa mereka semoga kami masih tetap bisa berlari. Dan prinsip utama sebenarnya harus mempertahankan ‘iffah alias menjaga diri. Meminta-minta bantuan adalah pantangan bagi kami. Semoga Allah menolong dan meridlai. (AH)







