Baladena.id, GORONTALO – Ikatan Keluarga Pesantren Hubulo (IKPH) mengadakan temu virtual antara Alumni dan Pihak Pesantren. Temu Virtual yang bertemakan Ingat Nyatri di Hari Santri diagendakan via zoom mulai pukul 20.00, Ahad (01/11).

Temu Virtual dibuat untuk memperingati Hari Santri Nasional. Menurut Faishal Pakaya, Inisiator Temu Virtual IKPH, latar belakang kegiatan temu virtual ini didasari oleh banyaknya postingan nostalagia para alumni ketika belajar di Pesantren Hubulo.

“Saat Hari Santri kemarin, status-status facebook teman-teman alumni diramaikan dengan foto-foto mereka ketika nyantri di Hubulo. Hari Santri ini memang menjadi momentum untuk bernostalgia. Karena itu juga, kami menginisiasikan temu virtual alumni dan pondok,” jelas Faishal kepada Baladena.id.

Awalnya, temu virtual ini dibalut dengan diskusi keislaman dan kepesantrenan. Dua pemantik yang dihadirkan dalam diskusi tersebut, yakni Ustadz Abdul Hakim dan Ustadz Yursan Dengo.

Narasumber pertama Ustadz Abdul Hakim memberikan prolog tentang hakikat santri. Wakil Pimpinan Pesantren Hubulo ini memberikan beberapa definisi santri yang saat ini beredar.

“Ada juga yang memahami kata santri dari Bahasa Inggris, sun dan three. Sun artinya matahari dan three artinya tiga. Maksudnya apa? Santri itu harus memiliki tiga matahari, yakni rukun Islam, Iman, dan Ihsan. Rukun-rukun ini harus ada dalam jiwa seseorang yang ingin disebut santri,” tegasnya.

Setelah itu dilanjutkan penyampaian dari Ustadz Yusran tentang konsep perdamaian dalam Islam. Lelaki lulusan al-Azhar Kairo ini menjelaskan bahwa kemampuan mediasi harus dimiliki oleh setiap muslim. Sebab, konflik dalam tatanan masyarakat merupakan keniscayaan.

Baca Juga  MONASH INSTITUTE SEMARANG UNDANG SAINTIS MUSLIM: Rancang Proyek Reintegrasi Saintek ke dalam Islam

“Hidup di dunia, antara individu dan individu yang memiliki pemikiran berbeda-beda tidak menuntut kemungkinan akan menyebabkan konflik. Untuk itu, kemampuan untuk memediasi benar-benar diperlukan. Kita, santri, harus mengambil peran ini agar dapat menyelesaikan konflik sesuai dengan tuntunan syariat,” tuturnya.

Setelah diskusi, agenda ini dilanjutkan dengan penyampaian beberapa gagasan dari para alumni untuk memajukan pesantren dan juga IKPH. Kemudian sebagai tanda berakhirnya acara, kegiatan temu virtual ini ditutup dengan menyanyikan hymne oh pondokku bersama-sama. (Red. Alamsyah)

Do’a untuk Anakku

Previous article

Pernyataan Presiden Macron dalam Jangkauan Hukum Internasional

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Daerah