Pentingnya Masa Depan di Era Disrupsi

Perkembangan Radikalisme dalam era globalisasi semakin meningkat ditambah dengan,berkembang pesatnya teknologi yang membuat banyaknya gerakan paham radikal muncul terutama dalam media sosial. Hal ini merupakan peluang bagi terorisme untuk melakukan perekrutan kelompok radikal melalui internet. Upaya pemerintah dalam mengembangkan ideologi nasionalisme untuk mengurangi paham radikalisme di tengah munculnya pengrekrutan anggota terorisme di media sosial, pemerintah pada akhirnya membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang merupakan leading sector yang berwenang untuk menyusun dan membuat kebijakan dan strategi serta menjadi koordinator dalam bidang penanggulangan terorisme seperti menjalankan program deradikalisasi dan kontra radikalisasi.

Kontra radikalisasi mengarahkan masyarakat umum dengan kerjasama tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan stakeholder lain dalam memberikan nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini akan membahas mengenai Penegakan kontra radikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah melalui media sosial dalam menangkal paham radikalisme dan Pemberian regulasi oleh pemerintah dalam pelaksanaan kontra radikalisasi.

Gelombang teknologi sebagai efek Revolusi Industri ke-4 telah mengubah tatanan di berbagai segi kehidupan.Revolusi ini mengubah dari hal-hal yang tradisional beralih ke sistem yang didukung mesin-mesin canggih.Teknologi memberi peluang pada hal-hal praktis menjadi serba otomatis dan penuh inovatif di berbagai sektor kehidupan.Peneliti dengan metode library research ini memaparkan urgensi pendidikan agama Islam di era disrupsi.

Agama yang dibutuhkan di era disrupsi ini adalah agama yang tidak hanya mengandalkan argumentasinya pada dalil-dalil yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang bersifat ideal, melainkan juga harus mendasarkan pada fakta-fakta yang bersifat empiris dan realistik. Agama yang dibutuhkan di era disrupsi adalah agama yang ramah dengan manusia dan lingkungan, agama yang membawa kedamaian, kesejukan, dan keharmonisan dalam kehidupan, serta agama yang dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan nyata.Agama yang transformatif sebagai agama yang mampu mengemban misi humanisasi, liberasi (bukan liberal) dan transendensi.Ada sisi kekhasan pendidikan agama Islam yang tidak tergantikan dengan teknologi, yakni keteladanan.

Tantangan paling nyata yakni menjamurnya narasi kebencian dan berita kebohongan yang berpotensi menciptakan polarisasi serta memecah belah warga. Di era ini, sungguh mudah menciptakan kabar bohong berbungkus rasa benci terhadap suku, ras, dan budaya tertentu. Sulutan itu pun makin menyala ketika dibalut oleh sentimen agama. Masyarakat yang awalnya tidak suka, bertambah benci setelah mendapat amunisi baru dari kabar bohong yang ia terima. Hambatan berikutnya adalah fenomena menguatnya politik identitas bernuansa keagamaan yang memecah persaudaraan sesama anak bangsa.

Keberagaman dalam keagamaan sesungguhnya sudah disadari oleh para pendiri bangsa sejak awal kemerdekaan. Oleh karenanya, para pendiri bangsa bercita- cita membangun negeri Indonesia menjadi berdaulat dan menegakkan prinsip berkeadilan untuk makmur bersama-sama dalam kerukunan berbangsa dan bernegara. Ke depan, kita tak boleh lagi menyaksikan satu kelompok terusir dari tanahnya karena keyakinan yang dipegangnya kuat-kuat. Tidak boleh lagi kita melihat umat beragama terusik ketika beribadah lantaran yang lain merasa terganggu. Inilah prinsip toleransi yang harus dipegang bersama. Memahami keberadaan orang lain, dan secara aktif mengaungkan narasi positif untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *