Paradigma, Ulama, al-Quran dan Islam Sekarang

Kemajuan teknologi dimana-mana sedang bersaing. Banyak negara berlomba-lomba menciptakan teknologi yang teruji dan diakui kecepatan, ketepatan, dan keakuratanya. Jika kita melirik ke bagian Barat dunia sekitar seribu tahun lalu sibuk berdebat persoalan agama sehingga terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kini fokus mereka beralihan menjadi sangat memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka tak henti-hentinya menciptakan teknologi yang kian hari semakin canggih dan sangat membantu dalam aktivitas manusia sehari-hari.

Adanga hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada umat islam sekarang ini. Jika dahulu, Arab, yang digadang-gadang sebagai negara islam dan pelopor munculnya islam di dunia sangat maju perihal ilmu pengetahuan dan teknologi, sekarang malah tertinggal jauh oleh mereka yang di Barat dalam kata lain tertinggal oleh orang yang nonmuslim. Umat islam sekarang seakan kembali pada topik-topik dan pembahasan yang seharusnya telah usai diperbincangkan dan diperdebatkan seribu tahun lalu oleh para ulama ahli. Hal ini memunculkan fakta bahwa umat islam sekarang memang benar-benar tertinggal. Munculnya paradigma-paradigma ketawadlukan yang tersebar dikalangan umat muslim, menjadi salah satu faktor tertinggalnya umat islam. Namun, bukan berarti tawadluk bukanlah hal yang tidak baik, tetap tawadluk adalah sikap yang terpuji yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang mengikirarkan dirinya sebagai seorang muslim yang bersaksi bahwa Allab adalah Tuhan dan Muhammad adalah Rasul utusan Allah. Namun kesalahan pertama pada umumnya umat islam adalah menelan mentah-mentah konsep ketawadlukan. Contoh saja tawadluk konsep “tajahul” yang dikemukakan oleh Imam Ghazali. Pada konsep ini diajarkan bahwa orang yang paling selamat adalah orang yang dirinya tahu tetapi dia pura-pura tidak tahu dalam artian berpura-pura menjadi bodoh. Parahnya, disebagian besar pesantren, Kiyai mengajarkan konsep tajahul ini. Akibtanya para santri muda yang harusnya menjadi acuan berfikir kritis islam, malah berhenti berfikir dan berhenti mendebat serta mempertimbangkan isu-isu yang idealitanya tidak sesuai realita. Dalam diri mereka telah terdoktrin bahwa dirinya adalah yang paling tinggi derajat apabila dia adalah orang tahu tapi terlihat paling bodoh. Padahal, jika melihat dari sempitnya kacamata saya berpura-pura bodoh tidak akan menghasilkan sesuatu apapun. Kemampuan berbicara dan menyampaikn pendapag tidak terlatih, mengahargai dan menerima perbedaan tidak terlatih dan hal yang merugikan lainya apabila harus berpura-pura menjadi bodoh. Tetapi mungkin, berpura-pura bodoh akan lebih ada hasilnya apabila bergaul dengan orang yang tingkat intelegensinya sedikit kurang agar mereka merasa nyaman.
Kesalahan kedua adalah ulama muslim cenderung mengajarkan ilmu yang telah disampaikan kembali lagi disampaikan, ilmu terus disampaikan secara berulang-ulang dengan dalil yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib bahwa seorang ahli ilmu tidak akan pernah bosan walaupun dia telah mendengarnya beribu-ribu kali. Dalil ini yang menjadi doktrin seseorang untuk mendapat predikat ‘ahli ilmu’ yang umum disampaikan oleh pendakwah-pendakwah kita saat ini. Padahal, bukan seperti itu memahami konsep yang sebenarnya. Pemahaman kurang tepat mengenai konsep ini akan berakibat jalan ditempatnya umat islam dan hanya menganggap mencari ilmu hanyalah sebatas kewajiban dan mengugurkanya. Adapun menjadi pintar adalah tidak wajib. Benar, jika kepintaran adalah termasuk dari bentuk rahmat Allah, tetapi perlu diingag rahmat Allah harus disertai usaha maksimal dan keyakinan menjadi pintar. Konsep ilmu yang disampaikan berulang-ulang seharusnya jika tingkat pemahaman belum juga tercapai, maka ilmu lebih baik diulang. Apabila seseorang telah mencapai level paham, maka dia harus diberi asupan baru dan didampingi merealitaskan konsep ilmu yang dipelajarai. Sehingga muncul ilmuwan-ilmuwan baru yang bernafaskan islam dan siap bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat islam yang makmur dan diridlai Allah AWT.

Kesalahn ketiga dan paling urgent yang menjadi problema linier islam saat ini adalah tidak mendalami al-Qur’an dan hadits sebagai panduan jalan manusia. Umumnya jika umat muslim ditanya mengenai kesepakatanya bahwa al-Qur’an adalah kitab yang paling relevan sepanjang masa, pasti akan serentak menjawab sepakat sepakat. Namun, realitanya al-Qur’an dibaca tidak lebih faham dari membaca sebuah novel. Banyak yang tidak tahu arti dan maknanya.
Padahal, George Wasington seorang Jendral yang disebut sebagai salah satu tokoh pendiri Amerika Serikat sekaligus presiden pertama dari 1789 sampai 1797 bisa dikatakan kualahan mengahadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh umat islam pada zaman masih memegang erat pemahaman al-Qur’an. Dia melontarkan perkataan bertepatan dengan masa populer-populernya ulama besar islam yang dijuluki sebagai keajaiban zaman yaitu Badiuzzaman Said Nursi yang isinya adalah jika kita (nonmuslim) ingin mengalahkan umat islam, maka ambil al-Qur’anya. Ini berarti telah tumbuh kesadaran nonmuslim mengenai titik lemah umat islam dan mengakui bahwa al-Qur’an telah mencakup segala aspek termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi serta teruji kerelevanya sejak dari zaman dahulu sampai sepenjang masa nanti. Namun, sayang kesadaran untuk memahami al-Qur’an dan mewujudkan isi bukti relevansi al-Qur’an, sekarang jarang sekali muncul terdengar dari umat islam. Barat dan China malah semakin unggul dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Tidak jarang pula terdengar isu, bahwa mereka menemukan kecanggihan teknologi setelah meneliti teks al-Qur’an. Ini seharusnya menjadi cambuk bagi umat muslim untuk terus mengkaji isi dari al-Qur’an.

Oleh : Raudatuunisa, Mahasiswi jurusan komunikasi dan penyiaran islam UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *