Pahala Politisi dengan Ustadz

‌Kata politik atau politics, berasal dari bahasa Yunani “polis”, yang berarti kota dan dibatasi pada kajian negara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan). Sedangkan menurut Dr. Mohammad Nasih, M.Si. politik adalah jalan licin dan mendaki. Perlu orang yang berani dan tetap berhati-hati.
Dalam bahasa Arab, politik disamakan dengan kata siyasah. Kata ini adalah nomina dari verba saasa-yasusu-siyasah. Secara lebih luas siyasah dapat berarti memimpin, memerintah, mengatur, dan mengelola. Makna siyasah dalam konteks ini, sesuai dengan sabda Nabi Saw, “Bani Israil pernah diatur oleh para Nabi.” (HR. Muslim).
Politik adalah seni perjuangan. Apabila dibandingan dengan ustadz, perbedaan yang terjadi sangatlah jauh terlebih dalam hal pahala. Menjadi seorang ustadz itu sangatlah mudah. Ketika ada ceramah atau kegiatan apapun pasti dijemput, disambut, dan dihormati. Pulangnya bahkan disisipkan amplop. Jadi seorang ustadz itu adalah suatu hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, kalau sudah terjun dalam politik itu akan tidak mudah lagi karena harus menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan yang tidak setuju dengan kita.
Tentu ada pahala terendiri bagi orang-orang yang mampu meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memenuhi kehidupan ummat. Menurut Dr. Mohammad Nasih, pemimpin harus pintar al-Qu’ran dan memiliki daya tahan. Memiliki daya tahan sangat diperlukan. Kalau tidak, akan merosot seperti lagu ciptaan Sunan Kalijaga yang ternyata kalau didengarkan secara tepat adalah lagu politik.
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penenkna kanggo mbasuh dodotiro
Jadi, politik itu lunyu/ licin. Seorang politisi bisa dengan cepat berubah. Hari ini mungkin bisa di atas, besok bisa jadi terjatuh ke bawah. Berbeda lagi dengan ustadz, tidak ada masalah. Jadi ustadz memang enak, tapi perjuangannya kecil. Jauh jika dibandingkan dengan seorang politisi. Tidak ada pahala terbesar sebesar pahala politisi kalau benar, tapi tidak ada dosa sebesar dosa politisi kalau salah. Misalkan melakukan korupsi atau lainnya.
Seperti yang telah dijelaskan dalam QS. An-Nur ayat 55
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,”
Pahala berpolitik memang sangat luas dan menyatu dengan setiap sisi khidupan masyarakat. Oleh sebab itu, Imam al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya Ulumuddin “kekuasaan dan agama adalah saudara kembar”. Bahkan Imam al-Ghazali terlibat dalam persoalan politik pada masa Bani Abbas yang berkuasa secara de jure dan Bani Saljuk yang berkuasa secara de facto.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *