Saya masih ingat betul ketika pertama kali datang ke Semarang pada pertengahan tahun 2011, sebagai salah satu peraih beasiswa unggulan Monash Institute. Beasiswa prestasi yang diperuntukkan bagi lulusan tingkat SLTA untuk melanjutkan kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo. Datang dari Kampung, dengan bermodalkan setengah serius. Sebab, sebelumnya tidak pernah sama sekali terlintas dalam benak untuk kuliah.
Saya berangkat dari Kampung dengan dua orang teman saya satu almamater, juga tetangga desa. Kami bertiga hanya “haha-hihi” saja ketika hendak ke Semarang. Membayangkan betapa menyenangkannya nanti saat kuliah, seperti apa yang sebelumnya saya lihat di tivi-tivi. Sesampai di Semarang, ternyata kami diharuskan untuk tinggal di asrama Monash Institute. Dari sini lah petualangan (sedikit) keilmuan liberal saya dimulai.
Di asrama, saya bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Ada yang sebelumnya sudah pernah mondok dulu pada saat sekolah, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan aturan super ketat di Asrama. Dan dari sini pula, saya bertemu dan kemudian kenal dengan mantan aktivis JIL sekaligus pengasuh Asrama, yakni Dr. Mohammad Nasih, atau kami biasa memanggilnya ‘Abana’.
Sebelum lebih jauh, perlu diketahui bahwa saya lahir di Sedan. Sedan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang. Di Rembang, Sedan masyhur dengan julukan ‘kota santri’. Bahkan hampir bisa dikatakan, ‘tidak ada Muhammadiyyah di sini’. Sejak lahir saya NU kultural. Dari dulu sudah mengenal tahlilan dan barzanji. Shalat shubuh saja kalau tanpa qunut seperti tidak sah, meskipun bisa diganti dengan sujud syahwi (jika karena lupa).
Jujur saja, saya tidak biasa berbeda. Bahkan saya lebih toleran dengan orang non muslim daripada dengan sesama muslim yang peribadatannya tidak sesuai dengan tradisi atau yang biasa saya lihat di Kampung. Bermodalkan ngaji di madrasah di Kampung, saya sudah sangat merasa paling islam. Pernah suatu ketika teman saya mengikuti tes di UIN Walisongo (IAIN pada saat itu), kemudian dia bercerita banyak mengenai apa yang ia lihat di kampus, kemudian secara otomatis saya memberikan ‘ceramah’ kepadanya untuk tidak melanjutkan kuliah/mendaftar di sana lagi. Takut kafir.
Oke, kembali lagi tentang Asrama dan pertemuan saya dengan Abana. Awal saya di Asrama, sebenarnya sudah agak janggal, karena kegiatan kami sebagai santri laki-laki dan perempuan dicampur tanpa ada sekat. Tentu ini tidak seperti apa yang biasa saya lihat di pondok-pondok salaf di daerah saya. Dan ketika shalat berjama’ah, kebanyakan santri putra tidak pakai sarung dan peci (termasuk saya). Mirip pondok punk mungkin.
Selain itu, pelajaran awal yang kami terima pada saat itu tidak mengenai kitab-kitab kuning seperti di pondok. Melainkan pemikiran-pemikiran yang ditanamkan kepada kami oleh Abana. Meskipun setiap hari wajib bagi santri untuk membaca Alqur’an dan shalat jama’ah. Tema perjuangan, gerakan, pemikiran, organisasi dan peduli sesama merupakan tema pokok yang diulang-ulang oleh Abana.
Dari Asrama pula lah saya diperkenalkan Abana dengan pemikir-pemikir Barat dan Timur seperti Karl Marx, Max Weber, Sigmund Freud, Robert N. Bellah, Samuel Huntington, Anthony Giddens, Benedict Anderson, Arkoun, Fazlur Rahman, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), Ibnu Sina, Ibnu ‘Arabi, Al-Farabi, Imam al-Ghazali dan masih sangat banyak lainnya.
Selain membaca buku, kami juga ngaji Tafsir Jalalain yang diampu langsung oleh Abana. Selain itu, ada Ust. Nadlir yang membantu Abana dengan mengajar kitab Irsyad al-Ibad, Minah al-Saniyah, Bidayah al-Hidayah dan lain sebagainya. Hampir setiap hari saya bersama teman-teman di Asrama diajari berkhutbah dan berdiskusi tentang banyak tema, utamanya tentang pemikiran Islam, filsafat dan teologi.
Saya yang dari kampung yang semula kagetan lama-kelamaan mulai beradaptasi dibawah bimbingan para guru, khususnya Abana. Mulai pede dengan pemikiran-pemikiran sesat yang menguntugkan. Saya bilang menguntungkan karena dengan membaca, saya dengan meudah menulis. Bahkan saking semangatnya, saya pernah menulis tentang Titik Temu Antar Agama yang masih bisa dicek di jejak digital sampai sekarang.
Terlebih semakin semangat lagi saat mendengar cerita perjalanan intelektual Abana di Jaringan Islam Liberal (JIL). Begini, Abana dulu bagian dari pelopor gerakan JIL. Awalnya, JIL memang murni gerakan intelektual yang di dalamnya banyak diisi oleh para intelektual muda yang resah dengan kejumudan berfikir umat Islam saat ini. Banyak gagasan-gagasan segar yang ‘mungkin’ menjadi solusi umat Islam saat ini sehingga lebih fleksibel dalam beragama. Namun, lama-kelamaan, gerakan ini mulai ‘ditumpangi’ dengan kepentingan-kepentingan yang menyesatkan.
Ada beberapa oknum yang sengaja membayar dan dibayar untuk mencari-cari ‘kecacatan’ ajaran Islam, sehingga banyak kita temukan saat ini, pemikiran-pemikiran yang terkadang kebablasen yang malah menyesatkan. Dari sini lah, Abana mulai ‘ngamuk’ kepada kelompok tersebut. Komunitas yang tadinya dianggap kumpulan para intelektual, ternyata tidak lebih dari sekumpulan intelektual tukang.
Lebih lanjut, Abana mulai menemukan dasar argumentasi yang dibangun kelompok liberal ternyata tidak kuat dan hanya berpijak pada rasionalisasi empirik, yang seringkali mengabaikan paradigma al-Qurán yang supra rasional. Ketersesesatan pemikiran liberal satu-per satu ditemukan oleh Abana dan di saat itu juga lah, Abana benar-benar murtad dari (cara berpikir) liberal yang sebelumnya diikuti. Namun, berpikir rasional tidak ia tinggalkan, justru ditingkatkan kepada supra rasional.
Abana sampai pada pemikiran yang sangat fundamental. Semua harus dikembalikan kepada al-Qurán dan Sunnah. Di luar itu hanyalah dugaan (dhan) yang keberannya diragukan. Kalau benar, itu adalah kebetulan, dan kebanyak adalah salah. Namun, jika yang digunakan dasar adalah al-Qurán, kebenaran itu menjadi sangat meyakinkan, limit mendekati kebenaran absolut.
Abana yang tadinya “melempar” al-Qur’an, kemudian menjadi muslim fundamental yang selalu “membawa” dengan al-Qurán. Bahkan, menurutnya, selainal-Qurán dan Sunnah Nabi Muhammad, adalah retorika kosong. Di sinilah, Abana benar-benar telah murtad dari Islam liberal. Ini tidak lain karena Abana menemukan argumentasi rasional beriman kepada al-Qur’an. Iman yang benar dan didukung berdasarkan logika yang benar. Dan logika yang benar itu adalah fiman (baca asal mula kata logika dalam filsafat Yunani).
Di saat Abana sudah mendekati ajaran sufi, saya malah menjadi-jadi. Saya selalu berdiskusi dengan teman-teman Asrama, dan senior-senior saya di Kampus mengenai ketuhanan, alam dan manusia. Ada beberapa teman kampus yang menjuluki saya orientalis karena mungkin menurut mereka apa yang saya sampaikan saat diskusi di kelas terlalu berani dan ‘kafir’.
Tentu tidak hanya baca buku dan berdiskusi saja yang saya lakukan. Setiap hari di Asrama kami masih selalu shalat berjama’ah dan ngaji langsung dengan Abana. Abana memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para santri untuk berpikir sebebas-bebasnya, bahkan mengenai Tuhan sekali pun. Bahka pernah, suatu ketika shalat jama’ah maghrib dimulai, saya hanya duduk diam sengaja tidak shalat. Sengaja tidak ikut shalat!. Bukan karena ingin dibilang macam-macam. Dan saya sudah siap orang mau bilang apa. Dan ini saya lakukan hampir seminggu.
Mungkin Abana juga sangat tahu mengenai konsekuensi ilmu yang diberikan kepada kami. Tentu Abana sudah siap. Seiring murtadnya saya pada saat itu, saya mengalami beberapa kejadian aneh yang tentu tidak mungkin saya ceritakan di sini. Saya menyebutnya sebagai religious experience yang mengantarkan saya mungkin kembali kepada jalanNya. Dari yang semula fundamental ke liberal, liberal ke moderat.
Kemudian pada saat saya semester 7 dan setelah KKN, saya berkeinginan untuk membuat skripsi yang isinya tentang kebenaran Islam. Meyakinkan kepada semua bahwa Agama Islam lah yang paling benar sebagai wujud pertanggungjawaban dan penebusan dosa pada saat saya masuk ke dalam jurang liberalisme. Dan Alhamdulillah kesampaian. Saya menulis skripsi tentang fitrah iman manusia yang termaktub dalam Qs. Al-A’raf ayat 172 tentang perjanjian manusia dengan Allah sebelum lahir ke bumi.
Apa yang saya alami tentu tidak lepas dari peran seorang ‘ayah’, yakni Abana. Beliau benar-benar membimbing kami mulai dari segi keilmuan hingga budi pekerti. Yang paling mudah diingat tentang beliau adalah Alqur’an, kedisiplinan dan bersedekah. Beliau hafal Alqur’an 30 juz. Setiap hari membaca minimal 6 juz dan selalu mengajar Alqur’an (tafsir jalalain) sampai sekarang (saat tulisan ini dibuat).
Seingat saya, beliau tidak pernah telat dalam janji. Selalu disiplin dan tepat waktu. Dan juga mengenai sedekah. Saya berkali-kali melihat beliau mengikhlaskan hampir semua uangnya untuk kepentingan Asrama, sebagai dana perjuangan. Beliau mboten kerso menerima uang dari membuat proposal. Setahu saya, beliau tidak pernah meminta juga. Siapa pun, boleh nyumbang, selagi tidak mengganggu ’kemerdekaan’ Abana sebagai pengasuh Pondok Pesantren Daar al-Qalam saat ini.
Semoga Abana selalu dalam lindunganNya. Kesehatan dan keberkahan hidup selalu Allah berikan kepada ‘bapak’ kami, Dr. Moh. Nasih. Dan sekali lagi, semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kaki Abana dalam usahanya berjihad di jalan Allah. Dan semoga kita bisa mengikuti jejak Abana sebagai muslim intelektual profesional. Wallahu a’lam bi al-Shawab.
Oleh: Shobikul Muayyad, Disciples 2011, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Salatiga
Editor: Anzor Azhiev

