Menjadi Pejuang Paripurna

Oleh : Kinanti Meichika Utami , Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo asal Cabang Yogyakarta

Sebagai bagian dari kader himpunan, tentunya saya menjadi bagian yang yang menginginkan suatu proses yang matang untuk membentuk karakter kualitas insan cita.

Inilah suatu imajinasi yang melayang dalam pikiran sejak aku mengenal himpunan mahasiswa Islam. Pikiran itu terus aku pupuk dengan membuka lembar demi lembar buku yang di rekomendasikan oleh senior.

Suatu hari aku mendengarkan curhatan hati seorang kawanku di salah satu kaffe di Yogyakarta. Dengan penuh rasa tanggung jawab akupun dengan keterbatasan yang ku miliki, aku memberikan suatu saran agar ia dapat mengurangi beban pikirannya.

Namu ku sadari, aku masih merasa belum pantas untuk menasehati temanku itu, dengan demikian aku pun merasa terpanggil untuk melanjutkan proses training.

Dengan Semangat yang aku miliki ini, aku gunakan semaksimal mungkin untuk meminta pembekalan dari salah satu senior yang aku anggap sudah matang dalam dunia organisasi, terutama di himpunan mahasiswa Islam.

Dari sinilah awal aku mulai lagi tugasku sebagai kader untuk kembali ke halaman demi halaman buku yang ku baca.

Tiba suatu saat aku aku mendapat kabar dari temanku tadi, ia mengirim proposal Intermediate Training HMI KORKOM WALISONGO yang kebetulan aku mendapatkan kode makalah tentang studi pemikiran Islam.

“Yaitu pembaharuan pemikiran Islam dalam menjawab tantangan jaman” kemudian ku terjemahan dalam tulisanku “Telaah problem pemikiran Islam di era Distrupsi”

Dalam tulisan ini aku mencoba mengangkat suatu isu yang menurut saya dalam dunia pemikiran Islam yang mengalami penurunan dalam perkembangan jaman, dimana dalam perkembangan jaman sekarang di era Distrupsi, Islam tidak tidak mampu menterjemahkan perkembangan teknologi informasi sebagai bagian dari surplus pemikiran Islam.

Untuk itulah aku menyelesaikan tulisan tersebut dengan beberapa kendala dan akhirnya aku kirim dan dinyatakan lolos ke Intermediate Training HMI Koordinasi komisariat UIN Walisongo Cabang Semarang.

Dalam perjalanan aku sampai di cabang, dan memulai screening dengan penuh tantangan dan kecemasan. Aku memberanikan diri di pos screening BTQ.

Di pos ini aku meras masih banyak kekurangan, sebagai kader Himpunan tentu merasa malu dan minder, karena aku belum terlalu lancar melafazkan Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Selesai dari pos BTQ, ku melanjutkan proses screening ke pos-pos yang lain. Dari proses inilah aku menerima kekuranganku, ternyata selama ini aku masih banyak kelemahan dan dari sini pula aku bisa mengenal himpunan lebih dalam.

Aku akui dari keterpurukan ini aku bisa bangkit dan terus belajar, karena mengingat aku terlahir dari suatu komisariat yang baru saja di resmikan oleh himpunan mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta.

Komisariat itu diberi nama komisariat persiapan UNMAHA. oleh kerena itu, dari keterbatasan sumber daya kader yang belum maksimal, salah satu senioku menaruh harapan untuk aku melanjutkan proses training ini bukan hanya di intermediate training saja tetap akan melanjutkan proses training non formal yaitu senior course.

Karena dengan menjadi instruktur, aku bisa menjadi bagian yang di harapkan di komisariat itu, karena bagiku suatu komisariat baru tentu tidak bisa di besarkan dengan dinamika politik melainkan dengan dinamika perkaderan.

Oleh kerena itu, melalui proses training ini, aku bisa bangkit dan terus belajar demi kemajuan internal dan eksternal himpunan mahasiswa Islam.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa dengan proses aku bisa menjadi harapan dan bagian yang mempelopori menjadi kaum intelektual muslim dengan semangat keislaman dan keindonesiaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *