Menakar Perkembangan Konflik PBNU

Sepekan pasca Rais Aam, KH. Miftahul Akhyar mengeluarkan ultimatum kepada Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, konflik di internal PBNU ini semakin memanas. Seruan islah dari Forum Sesepuh NU pun terlihat tak digubris. Baik pihak Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU masing-masing mengeluarkan surat sesuai kehendak benarnya masing-masing. Termasuk Saifullah Yusuf yang kemudian dirotasi dari jabatan Sekretaris Jenderal menjadi hanya salah seorang Ketua PBNU. Setidaknya ini bagian dari balasan sepihak dari pencopotan jabatan Ketua Umum.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa sumber dari konflik di PBNU adalah silang pendapat dan kepentingan soal konsensi tambang. Selain dugaan jaringan Zionis Israel, sampai merembet pada dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Yang unik–untuk enggan mengatakan lucu–saya melihat para elit harian PBNU rupanya lebih condong mendukung Gus Yahya. Sebut saja beberapa di antara elit PBNU yang aktif di medsos misalnya Savic Ali, Hamzah Sahal, Rumadi, dan lain-lain. Sementara pendukung dari pihak Rais Aam terlihat seperti Abdul Moqsith Ghazali, KH. Afifuddin Muhajir, dll..

Agar tidak terjebak pada dukung-mendukung salah satu di antara dua internal PBNU yang sedang berkonflik, perlu kiranya kita menakar pandangan Prof. Dr. Nadirsyah Hosen. Gus Nadir, memang bukan pengurus elit internal PBNU, sehingga ia begitu leluasa menjelaskan konflik PBNU secara terang-terangan di laman Facebook-nya. Di mata Gus Nadir, roda organisasi PBNU sudah sejak lama mati. Gus Yahya dianggap tidak mampu menahkodai PBNU, sehingga konsekuensinya bara api konflik di internal PBNU selama ini menjadi bencana kebakaran hebat.

Saya sendiri melihat Gus Yahya masih leluasa menguasai kantor PBNU. Selain karena ia merupakan pengurus harian, Gus Yahya juga didukung oleh elit harian PBNU mainstream yang lain, yang juga aktif di media sosial. Apalagi Ulil Abshar Abdalla juga terlihat sangat aktif mendukung saudaranya, Gus Yahya. Sementara Kiai Miftah, meskipun ia Rais Aam, sejak awal ia tidak berkantor di PBNU secara penuh. Tidak aneh manakala ia membacakan pemecatan Gus Yahya secara langsung di hadapan media, memilih bertempat di kantor PWNU Jawa Timur.

Gus Yahya bahkan masih percaya diri dan leluasa menguasai kantor PBNU. Persuratan dalam aplikasi Digdaya dan berbagai kegiatan Lembaga-lembaga PBNU masih berada dalam kuasa Gus Yahya. Terakhir ada kegiatan serah terima donasi Lazisnu atas musibah banjir bandang dan longsor di beberapa Provinsi, terlihat Gus Yahya masih berdiri tegak di sana. Entah jurus apa lagi yang akan dikeluarkan oleh pihak Rais Aam atas penguasaan Gus Yahya terhadap PBNU pasca pemecatannya sebagai Ketua Umum?

Sementara di luar sana, para pihak yang sejak lama punya kepentingan yang sama mendesak Gus Yahya mundur atau dipecat, begitu bersemangat. Salah satu dari sekian banyak pihak pro Rais Aam adalah KH. Imam Jazuli. Ia begitu gencar melancarkan berbagai narasi-narasi kontra Gus Yahya di banyak media lokal maupun nasional. Terakhir, ia terlihat sedang melakukan konsolidasi di Yogyakarta. Mungkin setelah pertemuan itu akan ada serangan balik terhadap kubu Ketua Umum PBNU.

Lalu sampai mana efektivitas Forum Sesepuh NU yang telah dilaksanakan di Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri? Saya melihat hasil dari forum itu tidak terlalu signifikan memberi efek di antara dua kubu yang berseteru. Meskipun beberapa pihak mulai luluh dengan hasil forum sesepuh NU tersebut, demikian apabila melihat berbagai pandangan pemerhati NU, bahwa jalan islah merupakan jalan terbaik, karena toh pelaksanaan Muktamar berikutnya di Surabaya dalam waktu setahun lagi akan digelar.

Apa buktinya? Pihak Rais Aam memang terus “ngegas.” Ia bersikukuh untuk melakukan percepatan Muktamar. Saya terus terang masih penasaran dengan manuver-manuver yang akan dilancarkan oleh masing-masing kubu. Kalau pun islah akan terwujud, upaya tersebut tidak akan memberi efek positif secara signifikan, sebab secara psikologis kedua kubu tersebut sudah terbukti berkonflik, sehingga mau tidak mau akan menimbulkan rasa tidak enak, canggung dan sikap kaku lainnya.

Wallahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *