MEDSOS MEMENGARUHI BUDAYA TATA KRAMA

Anak-anak muda saat ini tumbuh di era teknologi yang serba canggih. Media sosial menjadi salah satu teknologi yang sangat diminati anak-anak muda dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Masifnya perkembangan dan penggunaan media sosial cenderung memberi pengaruh terhadap perilaku anak-anak sekarang. Interaksi sosial dan akses informasi sering mereka lakukan melalui media sosial, dan hal ini dapat mengubah persepsi anak tentang tata krama sesuai kebudayaan Indonesia, sehingga anak menjadi tidak bertutur kata dengan baik, susah menerima nasihat dari orang lain, kurang menghormati orang tua, dll.

Menurut Islam et al., 2021 tata krama di kehidupan modern ini makin hari menjadi hal yang semakin langka dan memudar, khususnya di kalangan anak muda. Melalui media sosial anak lebih tahu penerapan gaya hidup Barat yang bercirikan kebebasan dan individualisme, sehingga menimbulkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia. Anak menirukan style kebarat-baratan ataupun ketimur-timuran yang ditonton di media sosial. Anak juga lebih menghiraukan pesan-pesan dari media sosial ketimbang pesan dari orang terdekatnya.

Faktor lingkungan juga menjadi penyebabnya anak sekarang lebih suka berkata kasar seperti ’Anjir, Jancuk, Anjay, dan lain lain’ sebagai kata keseharian mereka, seakan-akan kata-kata ini menjadi hal sudah lumrah, padahal jelas tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Selain itu, anak bisa saja menirukan kata kotor yang diucapkan oleh teman-teman sebaya maupun orang terdekatnya. Oleh karena itu, faktor-faktor penyebab asingnya tata krama bisa disebabkan oleh media sosial maupun lingkungan.

Pengaruh media sosial terhadap budaya populer, secara langsung tidak mengajarkan nilai-nilai sopan santun, juga dapat menghalangi anak untuk memahami pentingnya sopan santun dalam berinteraksi sosial. Anak lebih mengikuti kehidupan kebarat-baratan yang jelas tidak sesuai budaya Indonesia. Sebagai contoh anak lebih suka berpakaian yang ketat, gaya hidup hedon, tidak bertutur kata sopan bahkan melawan ketika diingatkan, dan tidak menghormati orang tua. Kebanyakan generasi muda saat ini lebih memilih mengikuti budaya populer dibandingkan melestarikan nilai budaya sendiri.

Di sisi lain ada banyak pengaruh positif dalam era modern ini, diantaranya yaitu berkomunikasi dengan orang yang jaraknya jauh menjadi semakin mudah, meringankan pekerjaan manusia seperti pesan makanan sudah tidak perlu datang ke tokonya bisa langsung melalui aplikasi, teknologi canggih dalam sektor kesehatan maupun pendidikan.

Adapun pengaruh negatif dalam era modern ini seperti halnya mengikuti budaya populer hingga tidak mau mengenalkan budayanya sendiri, jiwa sosial pada anak menurun karena lebih asyik dengan smartphonenya, gaya hidup yang hedon yang tidak sesuai dengan kemampuannya seperti memaksakan untuk membeli iphone, memamerkan barang yang ia beli ke instagram agar orang-orang tahu, tidak bisa jauh dengan media sosial dikarenakan takut ketinggalan berita viral, mengikuti tren tiktok yang tidak ada nilai tata krama di dalamnya, suka ikut-ikutan menghujat orang dengan menyerang melalui instagram dan sejenisnya.

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam lingkungan yang didominasi oleh teknologi dan media sosial. Interaksi sosial yang lebih sering terjadi melalui media sosial dapat mengubah persepsi anak terhadap tata krama yang sesuai dengan budaya Indonesia. Secara khusus, pengaruh media sosial cenderung memperkenalkan gaya hidup Barat yang mengutamakan kebebasan dan individualisme, menyebabkan anak-anak lebih memilih mengikuti budaya populer Barat daripada melestarikan nilai-nilai budaya Indonesia.

Faktor penyebab utama perubahan perilaku ini adalah pengaruh media sosial dan lingkungan sekitar. Anak-anak cenderung meniru bahasa kasar dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia dari teman-teman sebaya dan dari konten yang mereka konsumsi di media sosial. Hal ini juga dapat menyebabkan penurunan nilai-nilai sopan santun, kurangnya keterampilan sosial, dan kurangnya menghormati orang tua.

Meskipun era modern membawa banyak kemajuan dan kemudahan, seperti kemudahan dalam berkomunikasi lintas negara dan kemudahan dalam hal teknologi informasi, ada juga dampak negatifnya, yaitu anak-anak cenderung terlalu terpaku pada teknologi dan gaya hidup hedonistik, yang dapat mengurangi kemampuan sosial dan menghilangkan penghargaan terhadap budaya sendiri.

Pada era modern ini kita harus memperkenalkan budaya sendiri melalui kontak langsung kepada anak-anak maupun mempromosikan melalui media sosial. Contohnya budaya sungkeman terhadap yang lebih tua, bertutur kata yang lembut, bergaya sesuai kemampuan, dan memuliakan orang tua.

Upaya ini harus didukung oleh lembaga pendidikan dalam membangun kurikulum yang mengajarkan nilai-nilai tata krama kepada generasi muda, konten-konten di media sosial mempromosikan dan menjelaskan pentingnya tata krama, dan faktor lingkungan untuk memberi contoh yang baik dalam bertata krama. Hal ini yang perlu kita kenalkan pada anak supaya budaya tata krama Indonesia tidak memudar oleh zaman.

Oleh: Nanda Anisul Fu’ad (Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *