*Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UMJ, Praktisi Pendidikan, Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.
MBG dikritik oleh banyak pihak, bahkan oleh para intelektual kampus, sebagai program yang hanya buang-buang anggaran. Bahkan, serangan mereka ada yang sampai dengan ungkapan yang seolah-olah benar, tetapi sesungguhnya keliru fatal: “Perlu isi kepala, tetapi dikasih isi perut”.
Ini adalah gambaran ketidaktahuan mayoritas intelektual tentang bagaimana cara membangun kualitas generasi. Mereka ternyata belum sampai kepada pemahaman bahwa isi perut ternyata sangat berpengaruh kepada “isi kepala”.
Sebelumnya, yang dianggap sebagai upaya satu-satunya untuk membangun “isi kepala” adalah pendidikan. Padahal, di dalam sistem pendidikan ada input yang membuat proses pendidikan bisa berjalan sampai menghasilkan outcome pada output. Dan input yang paling penting ternyata adalah murid, karena paling berpengaruh kepada kualitas output dan outcome.
Kualitas guru dan ketersediaan sarana dan prasarana memang juga penting. Namun, itu hanya sebagai penunjang saja. Secara sederhana, ini bisa dibayangkan sebagai “pabrik manusia” yang ke dalamnya masuk bahan baku, lalu diproses, kemudian dihasilkan produk dengan kualitas tertentu yang diharapkan memberikan efek positif dalam masyarakat. Model ini disebut dengan pendidikan sistem pendidikan. Nah, bayangkan sebuah pabrik dengan bahan baku berkualitas tidak sama, tentu saja akan mengeluarkan hasil yang berbeda.
Input → [Proses] → Output → Outcome↑ ↓└──── Umpan Balik ──────┘
Namun, selam Republik berdiri, dan sudah delapan orang memimpin negeri ini, kuaitas manusia Indonesia nyaris jadi juru kunci. Padahal, menteri pendidikan dengan segala sebutan dan pembagian levelnya sudah silih berganti. Muncul pula adagium “ganti menteri, ganti kurikulum” yang menunjukkan segala upaya sudah dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, keadaan tidak berubah sama sekali. Mestinya, fenomena itu mengusik pikiran jernih, bahwa pasti pendekatan yang dilakukan selama ini tidak tepat.
Fenomena setelah diberlakukan kebijakan zonasi penerimaan murid sekolah yang menyebabkan “sekolah unggulan” nyaris tak ada lagi, seharusnya semakin menyadarkan, bahwa masalah utama kualitas pendidikan di Indonesia adalah input muridnya. Sebab, setelah kebijakan zonasi, proses tetap berjalan sebagaimana biasanya. Sekolah yang sebelumnya mendapatkan predikat unggulan juga tetap dengan segala fasilitasnya, mulai dari guru, gedung sekolah, sampai laboratorium yang pastinya paling canggih. Tapi kenapa dengan fasilitas yang sama itu, sekolah yang sebelumnya dianggap sebagai sekolah unggulan kemudian jadi nyaris seperti sekolah-sekolah lainnya? Jawabannya menjadi jelas, tidak lain karena kualitas muridnya.
Ini sama dengan fenomena MAPK yang diluncurkan pada tahun 1990 oleh Menteri Agama, Munawir Sjadzali, yang diselenggarakan di 5 lokasi: Yogyakarta, Jember, Makassar, Ciamis, dan Solo. Hasilnya spektakuler; banyak lulusannya kini menjadi dosen dan intelektual, bahkan cukup banyak yang menjadi pemimpin kampus IAIN atau UIN.
Kunci keberhasilannya ada pada seleksi ketat untuk mendapatkan input siswa terbaik. Jika tanpa seleksi, dengan fasilitas yang sama, bisa dipastikan bahwa MAPK bahkan MAN IC yang sekarang menjadi unggulan, akan menjadi sekolah biasa-biasa saja.
Dari sini menjadi nampak sangat jelas bahwa kualitas manusia sangat penting bagi lembaga pendidikan untuk menjadi unggulan. Itu diperkuat dengan fakta bahwa perguruan tinggi yang paling banyak dipilih oleh luluas SMU atau sederajat menjadi perguruan tinggi excellent. Sebab, semakin banyak peminat, semakin banyak calan mahasiswa berkualitas yang bisa direkrut. Itulah yang kemudian membedakan kualitas output dan outcome antara perguruan tinggi excellent dengan yang selainnya. Bahkan walaupun dosen yang mengajar di perguruan tinggi non-excellent adalah sama. Sebab, banyak juga dosen yang mengajar di lebih dari satu perguruan tinggi karena berbagai alasan.
Sampai sejauh ini, jalan menghasilkan kualitas input murid inilah yang tidak mendapatkan perhatian. Bahkan sebagian besar orang menganggapnya sebagai takdir Tuhan. Karena itu, belum pernah ada upaya mendasar untuk mengubah keadaan ini. Baru Presiden Prabowo Soebianto yang benar-benar menjalankan kebijakan dan program revolusioner memberikan makan yang seharusnya disebut Makan Bergizi Seimbang kepada para murid dan guru di sekolah, bahkan kemudian meluas kepada beberapa kalangan lain, di antaranya ibu hamil dan menyusui. Ini juga menunjukkan bahwa perspektif tentang faktor yang menghasilkan kualitas manusia benar-benar sudah mengalami perubahan di level pemimpin puncak.
Namun, masih terlalu banyak pemahaman keliru bahwa makanan bergizi seimbang yang secara politik disebut makanan bergizi gratis (MBG) itu bisa meningkatkan kecerdasan secara langsung. Dan inilah yang menyebabkan penolakan terhadap program ini. Karena itu, perlu diberikan pemahaman secara komprehensif bahwa untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, diperlukan tahapan yang juga memerlukan waktu yang ternyata tidak singkat. Tentu saja makanan bergizi seimbang menjadi salah satu faktor yang akan membuat para murid memiliki energi yang cukup untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah. Namun, faktor lain, di antaranya yang sangat penting adalah IQ juga sangat menentukan. Jika level IQ yang diperlukan untuk belajar sains misalnya tidak dipenuhi, maka murid tidak akan menikmati proses pendidikan yang terjadi. Akibatnya, mereka tidak akan memiliki ketertarikan dalam menjalani proses pendidikan yang diselenggarakan.
Masalanya, untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, perlu berbagai prasyarat. Di antaranya juga adalah makanan yang berkualitas. Dan prosesnya dimulai dari pembuahan. Dan itu berarti ibu hamil harus mendapatkan asupan makanan yang berkualitas pula. Namun, ternyata sel telur yang ada pada seorang perempuan, ternyata sudah ada pada saat ia berada di dalam kandungan ibunya, tepatnya pada usia kandungan 6-20 pekan. Itu berarti bahwa kualitas generasi saat ini, ditentukan pula oleh kualitas asupan makanan generasi neneknya. Artinya lagi, program MBG yang sekarang dikritik tajam oleh banyak pihak itu, baru akan terlihat pengaruhnya secara signifikan pada dua generasi yang akan datang. Kita masih menunggu tahun 2060-an datang untuk menyambut generasi emas. Generasi emas akan lahir tahun 2045 hanya sekedar harapan, karena bersamaan seabad Indonesia merdeka. Dan tentu saja, harus dilakukan riset yang lebih mendalam lagi untuk mengakselerasi peningkatan kualitas manusia Indonesia, agar tidak semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.

