Kunang Kunang Terbaru

You would not believe your eyes. If ten million fireflies. Lit up the world ….

[Fireflies, Owl City]

Percayalah, ketika kukatakan matanya berkelip seperti kunang-kunang, maka itu sungguhan terjadi. Bak bintang, mata itu berpendar di kegelapan. Tak ada yang bisa kulakukan selain hanya sanggup mengagumi.

“Kau cuma berkhayal,” ujaran itu bernada sangsi.

Uh, kenapa orang-orang selalu mengatakan hal-hal yang menyebalkan dan tidak pernah mengerti?

***

“Jangan menangis.”

“Aku nggak nangis kok!”

“Oh, ya? Apakah mataku menipuku? Ada kabut di mata beningmu.” Dia mengusap pipi gembilku gemas.

Tatapan teduhnya kemudian, dalam waktu sekian detik itu, membuat bendungan di pelupukku jebol. Sungai asin mengalir sepanjang pipiku dengan kurang ajarnya dan jatuh sebagai tetes air mata.

“Aku sudah bilang jangan menangis ….”

Dia mengusap jejak sungai itu lagi dengan tangannya yang lembut. Pada akhirnya, aku justru membuat aliran itu kian deras.

Tahu yang dilakukannya? Dia tertawa, dengan caranya yang bersahaja bak aristokrat. Membuatku kebingungan dan menelan rasa garam di mulutku.

“Aku akan pulang. Tenang saja. Sekitar… enam purnama lagi.”

Decakan dari mulutku. “Tsk, itu terlalu lama…!”

“Kupastikan tidak.” Dia menggeleng, menyangkal dan terkekeh.

“Hei, ingin tahu sebuah rahasia?” bisiknya tiba-tiba.

Mataku berbinar. Rahasia? Berbagi rahasia itu selalu mengasyikkan.

“Tapi, kau harus menjaganya. Janji?” Dia lalu berjongkok di hadapanku untuk menyamakan tinggi. Aku ingin dengar rahasia, jadi tanpa basa-basi aku mengangguk.

Baca Juga  Ustadz Abdul Somad Gugat Cerai Istrinya

“Di bulan seperti ini, ada ju… taan kunang-kunang,” ucapnya dramatis.

“Kunang-kunang? Yang bisa mengeluarkan cahaya itu?”

“Ya, kunang-kunang. Serangga malam yang memancarkan cahaya dari tubuhnya. Kunang-kunang itu akan berada tepat di depan jendelamu sewaktu malam. Kau mungkin mau melihatnya. Tapi, jangan ketahuan siapa pun. Nanti kau disuruh tidur.” Dia tersenyum simpul. “Kau bisa melihat kunang-kunang itu jika rindu padaku.”

“Tetapi, bagaimana jika kunang-kunang itu pergi?”

“Segala hal pasti pergi, Adik Kecilku. Kunang-kunang itu akan bertahan selama enam bulan. Tepat di hari kedatanganku, kunang-kunang itu akan pergi.”

“Selamanya?”

Dia hanya tersenyum. Sejurus kemudian, yang kutahu, dia mengecup keningku dan pergi menenteng ransel buluk kesayangannya. Tak menoleh sedikit pun.

Dan aku terus memandangi ribuan kunang-kunang yang berputar. Hingga enam purnama berlalu, kunang-kunang itu pergi. Dan dia juga pergi, tak pernah kembali.

‘Cause they’d fill the open air. And leave teardrops everywhere. You’d think me rude. But I would just stand and stare.

***

I’d like to make myself believe. That planet Earth turns slowlyI’m weird ’cause I hate goodbyes. I got misty eyes as they said farewell. But I’ll know where several are. If my dreams get real bizarre ….

Bertahun-tahun lamanya aku menanti. Sampai aku sadar, ketika telah cukup tahu dunia, orang mati tak bisa ditagih janjinya. Mungkin dia ingin bertemu denganku. Ingin kembali. Tetapi, mustahil. Maut merenggutnya, dengan kejam.

Baca Juga  Menjunjung Nasionalisme lewat Pemasangan Bendera

Kunang-kunang itu kembali. Bersamaan dengan kenangannya. Berputar-putar di depan jendelaku. Bertanding dengan sinar lampu. Seperti matanya, kunang-kunang memikatku dengan cara yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Betapa indah malam, bulan sepenggal dan pendar cahaya berkelap-kelip bak bintang jatuh ke bumi.

Kunikmati kelam bersama cahaya kecil ini. Tak peduli mau kemana, jauh dari rumah. Berbekal secercah sinar dari langit dan hati yang membuncah, kususuri setapak dan semak. Berakhir di ujung jurang. Jurang menganga dengan arus deras di bawahnya. Riak tinggi pecah oleh batu runcing dan raksasa.

Oh, kaukira aku akan berhenti. Tidak. Aku akan mengikuti kunang-kunang yang turun ke bawah dengan sayap kecilnya, bagai liukan bintang turun ke bumi. Dan aku mencoba meraih mereka di genggamanku.

Aku jatuh. Meluncur bebas. Sepersekian detik, aku berpikir. Mungkin saja aku dapat berjumpa dengannya. Kakakku tercinta, maukah engkau menungguku di surga? Sebentar lagi, aku akan datang.

Maut sedang menantiku jatuh ke pelukan air hitam yang bergolak. Aku tidak ingin maut menertawaiku. Jadi, aku memejamkan mata. Dan menunggu direngkuh ajal.

Because my dreams are bursting at the seems. **

Algazella Sukmasari
Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

    Beasiswa Pesantren dan Wirausaha Ketua DPD PAN Blora

    Previous article

    Perkawinan Beda Agama: antara Norma dan Fakta

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in News