Kolaboratif! Tim II KKN UNDIP Ajak Penyuluh Pertanian Lapangan Mempraktikkan Pembuatan Biosaka Bersama Petani Desa Tulas

Klaten (13/07/23)–Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II UNDIP 2023/2024 dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) melaksanakan pembuatan biosaka bersama dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) Desa Tulas, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Kegiatan pembuatan biosaka dilaksanakan di kantor balai desa Tulas sebagai program kolaborasi partisipasi aktif antara Tim II KKN UNDIP dengan PPL Desa Tulas kepada para petani.

Kegiatan yang diikuti gapoktan dari 9 RW ini dimulai dengan beberapa sambutan serta penjelasan dari perangkat desa, ketua gapoktan, dan PPL Desa Tulas dan Kecamatan Karangdowo. Kegiatan yang dilaksanakan Kamis, 13/07 ini dimulai pukul 10.00 selaras dengan kesediaan para anggota kelompok tani yang rehat dari pemanenan di sawah masing-masing.

“Adanya pelatihan pembuatan biosaka ini semoga dapat mengurangi kecenderungan para petani akan penggunaan pupuk kimia yang telah masif sehingga sedikit banyak dapat berdampak pada kelestarian alam,” ucap Bapak Ngatiman selaku Kepala Desa Tulas.

Biosaka merupakan sebuah akronim dari “BIO” yang berarti kehidupan, serta “SAKA” yang merupakan singkatan dari Selamatkan Alam Kembali ke Alam. Biosaka merupakan elisitor bagi tanaman yang digagas oleh Bapak Anzar, petani asal Blitar yang telah melaksanakan trial and error selama kurang lebih 10 tahun.

 

Penjelasan Biosaka oleh Penyuluh Pertanian Lapangan di Desa Tulas
Penjelasan Biosaka oleh Penyuluh Pertanian Lapangan di Desa Tulas

“Biosaka sangat baik bagi tanaman, mudah pengaplikasiannnya, murah biaya pembuatannya, serta dapat dibuat dan langsung dipakai tanpa fermentasi terlebih dahulu,” jelas Bapak Alim anggota PPL Desa Tulas.

Berbeda dengan pupuk kimia konvensional yang diberikan petani pada tanaman. Biosaka terbuat dari tanaman elisitor yang mengandung senyawa kimia yang memicu respon fisiologi, morfologi, akumulasi fitoalexin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen terkait biosintesis metabolit sekunder. Biosaka adalah katalisator untuk pupuk dan sebagai pelindung tanaman dari hama penyakit.

“Tanaman elisitor dapat kita temukan pada wilayah yang ekstrim, seperti lapangan yang gersang, berpasir, bahkan terkadang mampu menembus tembok yang secara nalar berada pada media dengan kandungan zat hara rendah namun masih dapat tumbuh,” jelas Bapak Aris selaku PPL Kecamatan Karangdowo.

 

Pembuatan Biosaka oleh Mahasiswa KKN UNDIP dan Petani Desa Tulas
Pembuatan Biosaka oleh Mahasiswa KKN UNDIP dan Petani Desa Tulas

Langkah Pembuatan Biosaka
1. Masukkan segenggam rumput dan daun yang tidak tercemar pestisida ke dalam ember yang telah berisi air ± 3 liter.
2. Rumput atau daun diperas di dalam ember dengan posisi terendam air sampai air terlihat homogen.

“Indikasi biosaka yang dibuat oleh petani berhasil apabila didiamkan selama seminggu di dalam botol dan cairan tidak berubah warna menjadi putih atau bening,” jelas Bapak Alim, PPL Tulas.

Pengaplikasian biosaka juga tidak seperti pemupukan pada umumnya dan memerlukan teknik khusus. Berikut cara pengaplikasian pupuk Biosaka yang tepat:

1. Gunakan sprayer dengan posisi nozzle menghadap ke atas ± 1 meter di atas tanaman, nozzle diatur menghasilkan drif seperti kabut, aplikasi sesuai arah mata angin.
2. Dosis aplikasi untuk tanaman padi dan jagung yaitu 40 ml/ 15 liter air alat semprot, sedangkan untuk tanaman cabai, tomat, kacang tanah dosis 20-30 ml/ tangka sprayer tergantung umur tanaman.
3. Periode aplikasi 10 hari sekali selama 1 masa tanam ( ± 7 kali pengaplikasian).

Dosen Pembimbing Lapangan:
1. Prof. Dr. Ir. Florentina Kusmiyati, M.Sc.
2. Nurhadi Bashit, ST., M.Eng.
3. Roro Isyawati Permata Ganggi, SIP., M.IP.

Penulis: Muhammad Wildanul Atqiya, Mahasiswa Jurusan Agribisnis Universitas Diponegoro

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *