KKN UIN Walisongo Gelar Webinar Menyoal Asal Mula Nama Walisongo

SEMARANG – Kelompok KKN MIT DR-66 angkatan 11 mengadakan Webinar dengan Tema “Menyoal Asal Mula Nama Walisongo”. Kegiatan webinar ini dilaksanakan via zoom. dalam seminar kali ini kelompok 66 KKN MIT DR 11 UIN Walisongo mengundang narasumber Drs. H. Anasom, M. Hum, Dosen FDK Uin Walisongo Semarang.

Kegiatan Seminar ini di hadiri kurang lebih sebanyak 40 peserta dan juga dihadiri Dosen Pembimbing KKN Kelompok 66 H. M.Alfandi, M.Ag, kegiatan ini dimulai dari jam 09.30 s/d selesai dimulai oleh moderator yaitu Diyana kelompok 66 dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari dosen pembimbing beserta laporan kepanitiaan. Dalam sambutannya, Dosen pembimbing kelompok 66 KKN MIT DR 11 UIN Walisongo berpesan kepada para peserta “agar kiranya memperhatikan setiap pemaparan yang di berikan oleh pemateri.

Setelah sambutan-sambutan selesai acara dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai “Asal Mula Nama Walisongi” oleh Drs. H. Anasom, M.Hum. Dalam webinar tersebut, pemateri menjelaskan bahwa “Walisongo” terdiri atas dua kata “wali” dan “songo”. Di sini kita melihat adanya perpaduan dua kata yang berasal dari pengaruh budaya yang berbeda. “Wali” berasal dari bahasa Arab (pengaruh Al-Qur’an) dan “songo” yang berarti sembilan berasal dari hitungan yang berasal dari pengaruh budaya Jawa. Ujarnya.

“Banyak pendapat tentang masalah ini, tetapi saya tidak akan berpanjang lebar tentang masalah tersebut. Menurut penulis “Walisongo” memang merujuk kepada arti sembilan. Sedangkan “Walisana” menunjukkan wali terhadap suatu tempat yang dinisbahkan kepada para wali. Namun mengikuti kerangka berpikir yang telah saya sampaikan, bahwa semua ini tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang budaya Jawa”

Bacaan Lainnya

Tetapi juga harus dipahami, bahwa “Walisongo” sebagai suatu institusi organisasi juga masih sangat meragukan. Meragukan terutama karena muncul dugaan bahwa terminologi tersebut tidak muncul pada masa hidup para wali, tetapi suatu terminologi yang digunakan oleh para penulis selang beberapa puluh bahkan ratusan tahun setelahnya. Imbuh pemateri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *