Sang Idola, begitulah masarakat sekarang melihat bintang film, atlit, atau tokoh-tokoh muda yang terkenal lewat layar kaca. Biasanya faktor yang paling menarik perhatian para remaja dan masarakat secara umum ketika mengidolakan seseorang adalah fisiknya. Ganteng atau Cantik. Baru talent atau bakat yang dimiliki seperti kemampuannya berakting, bernyanyi, atau prestasi di bidang-bidang lainnya. Jarang ditemukan orang yang secara fisik biasa-biasa saja, tetapi menjadi idola para remaja kebanyakan. Begitu juga kepribadian atau karakter yang dimiliki, merupakan nomor kesekian yang dijadikan bahan pertimbangan ketika seseorang remaja mengidolakan seorang bintang.
Hasil dari pengidolaan ini bermacam-macam, dari mulai mengikuti apa yang dikenakan sang idola, mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi sang idola, sampai meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh sang idola. Sampai ada suatu kejadian tragis, ketika seorang bintang idola meninggal, beberapa orang fansnya rela ikut membunuh dirinya karena kesetiaan yang di luar akal sehat.
Tidak ada salahnya jika seseorang mengidolakan seorang tokoh. Akan tetapi, hendaknya hal itu dilakukan secara proposional. Sebab, apabila dilakukan secara berlebihan, maka akan membuat seseorang buta terhadap kemampuan dirinya dan memiliki tingkat ketidakpercayaan diri yang tinggi. Hal ini menghilangkan karakter asli dalam dirinya.
Rasa kagum yang berlebihan dapat menimbulkan fanatisme buta. Segala hal yang muncul dari tokoh yang diidolakan akan dianggap baik walaupun sebenarnya hal itu terkesan buruk. Tidak tanggung-tanggung, berbagai argumentasi akan dikeluarkan agar sang idola tetap dianggap baik. Fanatisme ini bisa terjadi tidak hanya terhadap satu tokoh saja, tapi bisa juga terhadap golongan atau aliran tertentu. Pengidola seperti ini cenderung menolak kritik dan menutup diri dari kebenaran.
Dr. Muhammad Nasih atau akrab dipanggi “Abah Nasih”, sangat mewanti-wanti agar disciples —sebutan bagi santri Monash Institute— menjauhi rasa kagum yang berlebihan tersebut. Menurut beliau, orang yang kagum adalah orang yang “katro”. Sebab, kekaguman itu muncul ketika seseorang tidak mempunyai pengetahuan yang mumpuni atau “ketinggalan zaman”.
Abah Nasih sangat tidak suka melihat orang yang mudah kagum ketika melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Padahal hal itu merupakan hal yang biasa-biasa saja yang semua orang bisa melakukannya asalkan orang itu mau berusaha dengan maksimal. Abah Nasih menekankan kepada disciples agar belajar semaksimal mungkin dan berusaha sekuat tenaga, sehingga mereka bisa mandiri secara intelektual dan finansial. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah kagum terhadap kelebihan orang lain. Baginya Abah Nasih, orang yang mudah kagum hanya akan menjadi “budak” orang-orang yang berkuasa.
Cara berpikir demikian ditekankan pula kepada disciples agar biasa-biasa saja memandang dirinya. Agak aneh memang, orang menghimbau orang lain untuk melihat dirinya dengan biasa-biasa saja. Kebanyakan tentu sangat senang jika dikagumi dan pandang tinggi. Namun, Abah Nasih justru mengajarkan agar semua bersikap egaliter, biasa-biasa saja. Abah justru tidak nyaman, jika diperlalukan seperti laiknya raja, sebagaimana budaya feodal yang sudah mengakar di masyarakat kita.
Setiap orang pasti pernah mengalami rasa kagum. Menurut Abah Nasih, satu-satunya orang yang pantas dikagumi dan dijadikan sebagai idola ialah Nabi Muhammad SAW. Beliaulah idola yang tidak akan menimbulkan efek negatif dari kekaguman. Beliau merupakan sosok yang sempurna dalam keteladanan. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab: 21).
Nabi Muhammad SAW harus kita jadikan idola sebelum yang lainnya. Karena memang beliau adalah sebaik-baik idola. Apa pun yang dilakukan oleh Rasulullah, selalu berdampak baik untuk kita. Lebih dari itu, mengikuti setiap gerak-gerik Rasulullah sallallahu alaihi wasallam akan mendatangkan pahala bagi kita. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mendalami kehidupan beliau lewat kitab-kitab sirah.
Saking pentingnya seseorang menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola, sampai-sampai dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik menceritakan bahwasanya Rasulullah bersabda:
اَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga aku lebih ia cintai dari keluarganya, hartanya, dan dari semua manusia” (HR Muslim).
Sebagai umat muslim, sudah seharusnya kita mengidolakan Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah yang telah melakukan banyak hal dan banyak berkorban untuk ummatnya. Tanpa beliau mungkin kita masih hidup dalam zaman kebodohan, masih tidak tau mana yang baik dan buruk. Saking sayangnya beliau kepada umatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya ummatnya yang ada dalam pikirannya.
Satu hal yang perlu direnungi bahwa kelak seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum namun ia tidak bisa bertemu dengan mereka?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, jika kita ingin dikumpulkan bersama Rasulullah, sudah sepantasnya beliau menjadi idola utama dan satu-satunya di hati kita. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Oleh: Fajri Rafly, Menteri Sarana dan Prasarana Monash Institute, Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

