Inovasi Melejitkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning

Buah jauh tak jauh dari pohonnya. Begitu kata pepatah. Itu ungkapan untuk menggambarkan tentang kualitas anak yang sebelas dua belas dibanding orang tuanya. Anak dokter jadi dokter, itu jamak ditemukan. Anak jenderal jadi tentara atau polisi juga banyak kasusnya. Anak kiai atau ustadz jadi kiai atau ustadz juga sama. Bedanya, kasus pertama kedua dilihat secara rasional bahwa kemampuannya itu karena belajar dan usaha keras, atau mungkin ditambahi dengan intervensi orang tua. Bisa karena kekuasaannya, atau uangnya. Namun, kasus terakhir sering dianggap bukan karena belajar dan usaha, melainkan karena mendapatkan ilmu ladunni. 

Sesungguhnya itu adalah pandangan yang sama sekali tidak benar. Kemampuan mereka disebabkan oleh intensitas belajar yang memang di atas rata-rata santri biasa. Ditambah lagi, anak-anak kiai “mewarisi” bukan hanya modal pengaruh yang dimiliki oleh orang tua mereka di kalangan masyarakat/umat, tetapi juga memiliki modal kapital yang sudah besar berupa lembaga pendidikan yang sudah berjalan belasan, bahkan berpuluh tahun.

Bagaimana caranya agar santri memiliki kapasitas yang andal untuk memenuhi kualifikasi sebagai ustadz atau kiai? Tak cukup hanya itu, kemampuan apa yang menjadi penunjang utama santri biasa untuk merintis dan mengembangkan pesantren? Berikut ini wawancara dengan Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO dan Guru Utama di Monasmuda Institute Semarang, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., al-Hafidh, atau yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana:

 

Baladena: “Apakah para putra kiai yang dikenal cakap dalam mengajarkan ilmu-ilmu keislaman di pesantren itu karena mendapatkan ilmu ladunni atau karena mereka memang belajar atau diajar sebagaimana biasa?”

Abana: “Saya mau jawab degan tegas dan jelas ya; karena belajar lebih keras dibanding para santri kebanyakan. Dan keluarga kiai atau ustadz memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dibandingkan santri biasa. Modalnya sudah jauh lebih banyak dibandingkan santri kebanyakan.”

Baladena: “Soal ilmu ladunni yang dipercayai oleh sebagian kalangan di pesantren itu bagaimana?”

Abana: “Konsep ladunni-nya bagaimana ini? Sebab, konsep ladunni yang sering diajukan sebenarnya juga bermasalah secara epistemologis, kalau kita menggunakan ayat kisah perjalanan Nabi Khadlir dan Nabi Musa sebagai referensinya.”

Baladena: “Setidaknya dalam konsep diajari langsung oleh Nabi Khadlir. Kalau itu bagaimana, Bah?”

Abana: “Nabi Khadlir masih hidup atau sudah meninggal saja itu juga masih diperdebatkan. Coba saja buka kitab-kitab tafsir. Nanti pandangan ahli tafsir akan terbagi menjadi dua. Sebagian berpandangan bahwa Nabi Khadlir sudah meninggal. Dan dasarnya juga kuat. Sementara yang mengatakan pernah bertemu Nabi Khadlir, pasti membumbuinya dengan cerita yang tidak masuk akal, atau yang mengarahkan bahwa hanya dia saja yang bisa ketemu pada saat itu. Misalnya ada orang berpakaian compang-camping datang, setelah itu pergi. Lalu yang ditemui Nabi Khadlir tadi baru bilang kepada orang tertentu bahwa yang datang itu Nabi Khadlir. Lalu dikejar, tapi sudah hilang. Polanya begitu. Maka saya memilih pandangan bahwa Nabi Khadlir sudah meninggal saja. Dan kalau mau pintar, ya belajar. Seperti kalau mau kaya, ya usaha.”

Baladena: “Seberapa keras belajar yang harus dilakukan jika ingin sukses dalam menguasai ilmu pengetahuan?”

Abana: “Ini pertanyaan yang sangat menarik. Persis seperti seberapa keras dan cerdas kita harus usaha untuk menjadi kaya. Secara rasional, mudah sekali menghitungnya. Saya beberapa kali menghitungnya bersama dengan para mahasantri di Monasmuda Institute. Mereka saya ajak berpikir rasional karena mereka mahasiswa, aktivis lagi. Hasilnya, orang-orang yang sekarang ini dianggap sukses di bidangnya masing-masing, itu karena melakukan usaha 150 kali lipat dengan cara yang efektif dan efisien dibandingkan orang yang biasa-biasa saja di bidang yang sama. Saya beri contoh anak saya saja ya, walaupun saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya kiai. Saya ini orang biasa saja. Tapi saya suka mengajar. Nah, bandingkan intensitas belajar anak saya dengan para mahasantri di Monasmuda Institute sebelum saya menggunakan cara baru.

Baladena: “Penting ini, Bah. Agar kita memahaminya dengan mudah.”

Abana: “Santri saya di Monasmuda Institute ada hampir 100. Tapi bikin saja 72 orang. Biar gampang menghitungnya. Santri saya di Planet NUFO ada hampri 200 orang. Biar mudah menghitungnya, bikin saja angkanya 180. Nah, waktu saya, saya bagi rata 3 hari untuk Nufo, 3 hari untuk Monasmuda. Anggap saja rata-rata ada sehari untuk agenda di luar, atau mengurus urusan keluarga. Saya mengajar 2 kali dalam sehari, setelah shubuh sampai pukul 6 dan setelah maghrib sampai 19.30 atau masing-masing sekitar 1,5 jam. Setiap kali mengajar, biasanya yang maju untuk membaca teks kitab lalu saya koreksi adalah 2 orang santri. Sekedar info, saya sudah tidak ngajar bandongan lagi, karena sudah banyak kitab terjemah. 2 kali 6 sama dengan 12. Kali empat, karena sebulan, maka dalam sebulan, ada 36 orang yang mendapatkan kesempatan. Artinya, setelah dua bulan, seorang santri baru akan mendapatkan kesempatan untuk saya koreksi selama 45 menit. Efektif bisa hanya 30 menit.

Baladena: “Jadi, dua bulan sekali ya baru ketemu lagi?”

Abana: “Hitungannya jelas begitu kan? Itu kalau santri hanya 72. Kalau santri ratusan atau ribuan bagaimana? Memang ada ustadz-ustadzah dan para mentor. Tetapi itu ibarat anak saya saya ajari dan masih tetap sekolah dan kursus kumon dan sempoa. Nah sekarang bandingkan dengan kesempatan anak saya. Setiap hari mereka bertemu dengan saya. Bikin saja sehari sejam, ditambah kalau di perjalanan berjam-jam juga sebagiannya untuk mengajari mereka. Sejak kecil bahkan saya ajak nyanyi tashrif. Anak-anak saya sejak usia balita sudah hafal tashrif lughawi. Di youtubenya ada. Bisa dilihat. Jadi rata-rata 2 jam saja sehari intensif belajar dengan saya. Berarti 2 kali 60, karena dua bulan, sama dengan 120 jam. Jadi, kalau anak saya lebih bisa dibandingkan dengan santri biasa, wajar sekali kan? Sama sekali bukan karena ladunni. Anak saya kalau tidak beres, langsung saya ambil tindakan tegas. Kalau santri biasa, tentu tidak bisa melakukan tindakan setegas anak sendiri. Bedalah tentu saja. Jadi, ladunni yang sering dibicarakan itu hanya mitos. Ya belajar keras, gizinya sudah cukup”.

Baladena: “Jadi tetap percaya pada ladunni kan, Bah?”

Abana: “Saya percaya kepada inspirasi. Dan saya cukup banyak mendapatkannya. Itu karena sunnatullahnya begitu ‘barang siapa mengajarkan sesuatu yang dia ketahui, maka Allah akan mengajarkan sesuatu yang dia tidak ketahui’. Itu tidak hanya di pesantren. Thomas Alfa Edison kan dapat. Einstein juga kan? Nah, anak-anak kiai kan punya kesempatan mengajar lebih luas dibandingkan santri biasa. Bahkan mendapatkan promosi jauh lebih besar juga”.

Baladena: “Lalu usaha apa yang dilakukan untuk membuat para santri tidak selamanya begitu? Agar bisa meningkatkan kualitas belajar, dimulai dengan intensitas yang tinggi menyusul anak kiai.”

Abana: “Nah ini yang saya lakukan kemudian. Intinya sesungguhnya mempraktekkan dengan semangat tinggi. Problem santri kebanyakan tidak punya tantangan. Berbeda dengan anak ustadz yang punya pesantren, punya tantangan yang memacu adrenalin. Seperti anak saya, selalu saya ingatkan. Abah ini punya pesantren, tidak hanya satu, tapi dua. Kalau anak-anak Abah tidak berkualitas, nanti siapa yang menjadi pelanjut. Kalau kalian tidak berkualitas terbaik, yang melanjutkan nanti ya anak Ustadz Suud, Ustadz Aziz, dan lain-lain. Kalian tidak bisa. Saya mengatakan itu dengan serius. Sungguh-sungguh. Sebab, memang saya tidak menganggap pesantren saya ini milik saya, melainkan milik bersama, walaupun saya di depan anak-anak menyebut “punya”. Nah, kalau mereka dibegitukan terus, mereka akan tahu dan kemudian tertantang oleh keadaan untuk melakukan usaha yang terbaik. Sementara santri biasa tidak memiliki tantangan itu. Adrenalinnya tidak terpicu dan terpacu. Karena itulah, saya membuat metode baru dalam belajar dengan mewajibkan semua santri merekam pemaknaan teks kitab, lalu dikirim ke saya via WA.”

Baladena: “Maksudnya bagaimana ini?”

Abana: “Ini sebenarnya hanya inovasi dan modifikasi model sorogan saja. Hanya saja tidak bertemu secara langsung. Kalau tatap muka langsung, waktunya tidak cukup. Kalau direkam, kapan saja mereka bisa melakukannya, saya juga bisa mengoreksinya kapan saja. Mereka harus mengirim rekaman 4-5 ayat atau teks yang sudah saya tentukan yang sudah divalidasi oleh tiga orang mentor dan/atau ustadz/ah. Untuk bisa melakukan rekaman pemaknaan teks sepanjang itu, pasti mereka akan mengulang-ulang. Dan pengulangan itulah yang akan membuat mereka menyadari bahwa belajar keras itu sangat penting agar bisa. Kalau hanya sekali dua kali tak akan bisa. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa mereka salah, lalu santai saja. Giliran nanti menyadari, kesempatannya sudah lewat.”

Baladena: “Wah, saya paham. Dengan begini, semua memiliki kesempatan yang jauh lebih banyak ya, Bah?”

Abana: “Benar. Dan alhamdulillah, peningkatan kualitas santri dalam memahami teks, menjadi sangat signifikan. Jadi, saya tak mau lagi sering-sering melakukan kajian massal. Mereka harus menguasai makna teks dulu. Baru jika ada temuan persoalan, mereka mengajukan pertanyaan, kemudian saya akan mengkaji permasalahan itu bersama-sama mereka. Dan sekarang ini saya berharap para santri baik yang belia maupun mahasantri mesti berpikir untuk memiliki temuan-temuan untuk menghadapi masa depan.” (AH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *