Gus Nadir Syah

Tokoh Muda Nahdlatul Ulama, Nadirsyah Hosen, atau akrab disapa Gus Nadir, turut menyoroti perkembangan situasi kebangsaan. Kali ini, ia menyoroti tentang fenomena para elit negeri ini malah jualan isu radikalisme ketimbang pemberantasan korupsi. Padahal, selama ini masyarakat sudah lelah ribut lawan radikalisme.

“Yang menjengkelkan itu kita capek-capek ribut melawan kaum radikal demi menjaga NKRI, eh kaum elite malah jualan isu radikalisme untuk melemahkan pemberantasan korupsi. Kan gak nyambung jadinya. Angel we angelll,” tulis Gus Nadir dikutip dari Twitter pada Kamis, 6 Mei 2021.

Lebih lanjut, Gus Nadir juga menegaskan bahwasannya qunut dan tidak qunut dalam shalat subuh tidak bisa dijadikan indikator seseorang itu radikal. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa para kiai Nahdlatul Ulama tidak pernah bilang mereka yang tak membaca doa Qunut itu radikal.

Pernyataan tersebut ia lontarkan sebagai bentuk tanggapan atas berita yang sempat heboh terkat qunut sebagai bahan tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk pegawai KPK yang akan beralih status menjadi ASN.

Sebabnya, pertanyaan yang muncul dalam tes wawasan kebangsaan yaitu doa qunut atau sikap terkait LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender).

“Para kiai NU tidak pernah bilang mereka yang gak membaca qunut itu radikal. Justru para kiai menghormati keragaman pendapat sebagai modal kita bersama merawat bangsa. Jangan dipelintir atau dibenturkan, apalagi dijadikan tes wawasan kebangsaan. Beda mazhab OK. Yang jadi masalah itu takfiri,” ujarnya.

Baca Juga  Seger Banget! Saat Susah Gini Suami Puan Maharani Dapat Proyek Triliunan Rupiah

Kritik Kontras 100 Hari Kerja Kapolri: Diskriminatif Tangani Kerumunan

Previous article

Cerita Heroik 1 Keluarga Mudik Jalan Kaki dari Jateng ke Jabar: Tempuh Jarak 278 Km, Gendong 2 Balita

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News