Oleh: Muhammad Zidane Kendju , Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo Semarang asal Cabang Manado
Manusia adalah makhluk potensial, mereka tak hanya memiliki kebagusan dan ketangguhan fisik tetapi juga memiliki potensi akal sehat common sense, potensi ini yang membuat manusia tidak hanya tangguh secara fisik namun mampu mengembangkan kehidupan mereka, mulai dari aspek berburu, mengelola alam seperti bertani, membuat senjata, merancang strategi perang, mengatur kehidupan dsb. Hal tersebut kemudian memanifestasikan perkembangan dan kemajuan yang terwujud dalam suatu peradaban yang maju bagi manusia, sehingga memunculkan ide mengenai teknologi yang “sepertinya” bermanfaat dan memudahkan manusia dalam aktivitas kehidupannya.
Dewasa kini, tepatnya di abad ke-20 manusia makin berkembang, makin maju. Perkembangan teknologi modern saat ini memberikan pengaruh yang cukup banyak dalam berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Kita bisa merefleksikannya dari generasi Milenial. Sayangnya, Generasi ini memiliki suatu problematika dan terbawa arus deras perkembangan dan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi berbasis digital di era modern adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan perkembangan manusia dan ilmu pengetahuan.
Generasi Milenial menurut para ahli adalah anak-anak yang lahir pada awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial juga dikenal sebagai Generasi Y atau Gen Y. Istilah lain mengenai generasi ini adalah “generasi yang hidup pada era informasi secara terbuka berbasis digital, khususnya melalui internet dan media sosial”. Bagaimanapun generasi ini berjalan secara bersamaan dengan era modern. Seringkali era modern disebut sebagai “era yang maju dan disemangati oleh pembaruan dan perbaikan, serta dilandasi oleh rasionalitas dan ilmu pengetahuan”.
Persoalan yang dihadapi oleh generasi milenial hari ini terlihat sangat nyata, meskipun tidak secara menyeluruh. Kecenderungan menggunakan teknologi dalam hal ini smarthphone atau gawai pintar membuat generasi ini terjebak dalam kecanduan media sosial secara masif. Akhirnya persepsi bahwa kemajuan teknologi yang harusnya bermanfaat dan memudahkan aktivitas kehidupan manusia malahan menjadi “candu”. Alih-alih membantu malah menjadi pembantu. Bukannya menjadi tuan atas teknologi malah menjadi budak. Imbasnya yang terjadi pada generasi ini adalah munculnya “Era Perbudakan Modern”.
Perbudakan modern merupakan masalah di mana generasi Milenial telah terjebak dalam realitas semu yang disebut sebagai kenyataan yang palsu yakni dunia maya melalui media sosial.
Kompleksitas generasi milenial tergambarkan melalui aplikasi-aplikasi atau platform media sosial seperti; Facebook, Twitter, Instagram, dan Tiktok. Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Jumlah pengguna internet di Indonesia, masih dalam laporan yang sama, merangkum dari KompasTekno dari We Are Social, waktu yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet per hari rata-rata 8 jam. Berdasarkan aplikasi yang paling banyak digunakan, secara berurutan posisi pertama adalah Youtube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter. Data ini menggambarkan kecenderungan warga negara Indonesia menggunakan media sosial sangatlah masif.
Data tersebut di atas merupakan indikasi, penulis berasumsi bahwa generasi milenial sangatlah rentan dan memilih menghabiskan waktunya lebih banyak dengan media sosial ketimbang melakukan aktivitas-aktivitas kehidupan sosialnya. Dampak konkret yang terjadi adalah mereka cenderung menjadi generasi yang lemah, malas berpikir mandiri, cenderung malas, lebih memilih cara-cara yang instan bahkan, parahnya mereka tidak bisa berpartisipasi dalam perkembangan dan kemajuan generasinya sendiri atau pada negara dan bangsanya.
Judul artikel ini ditulis berdasarkan asumsi dari kanda Shikka Songge, seorang senior di Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), beliau adalah seorang NDPers Nasional. “Zaman milenial adalah zaman perbudakan” ucapnya. Anggapan ini diucapkan olehnya saat mambawakan materi pendalaman NDP dalam forum Intermediate Training/Latihan Kader II (LK-II). Beliau juga beranggapan bahwa “Kekuatan sebuah bangsa ditentukan pada kekuatan anak mudanya”. Penulis pun berasumsi bahwa “kekuatan” yang dimaksud adalah kekuatan kesadaran intelektual, kecerdasan, kebijaksanaan serta mental yang kokoh, tentunya kekuatan tersebut akan membawa para pemuda, atau saya sebut dalam artikel ini sebagai, Generasi Milenial menjadi kreatif, aktif dan inovatif.
Sebagai langkah solutif atas permasalahan generasi milenial yang jatuh dalam lingkup era Perbudakan. Untuk menjadi kapasitas tersebut dibutuhkan beberapa hal yang dapat membantu peningkatan kemampuan diri, diantaranya 1) memperbanyak membaca buku; 2) belajar menggunakan internet dan sosial media secara bijak; 3) bersikap terbuka terhadap berbagai pengalaman baru.







