Langit memamerkan semburat sinar jingga yang menawan. Senja yang begitu elok dipandang dari Bukit Jingga. Sore itu Bukit Jingga begitu ramai. Banyak pengunjung yang ngabuburit di sana. Menunggu adzan magrib sembari menikmati kecantikan senja yang begitu menawan. Ramadhan menatap langit nan megah itu dengan pandangan penuh pengharapan. Ia datang sendirian, termenung diantara keramaian.
Entah apa yang membawa langkah kaki Ramadhan sampai ke puncak Bukit Jingga. Perasaannya begitu kacau. Sore itu, Ramadhan begitu rindu pada orang-orang terkasih yang kini tak membersamai. Mereka terhalang oleh jarak yang membentang.
“Senja, aku sedang merindukanmu.”
Pesan itu tak kunjung terbalas. Ramadhan semakin termenung dan melamun menunggu balasan dari orang di seberang. Seketika lamunan itu buyar karena suara adzan magrib sudah berkumandang.
Ramadhan pulang membawa kerinduan yang bercampur kekesalan. Ngabuburit sore itu gagal. Niat awal ingin menenangkan diri malah kini ia merasa semakin kacau dan tak nyaman. Buka puasa ditemani sepi sudah biasa bagi Ramadhan. Dia sering menolak ajakan temannya untuk buka bersama. Dan baru kali ini ia merasa menyesal menolak ajakan itu.
Lantunan suara ayat quran mengalun merdu dari dalam bilik kamar Ramadhan. Ia mendarus setiap selesai melaksanakan shalat maghrib. Suara itu terhenti, sesaat setelah terdengar suara notifikasi khusus dari ponselnya. Pesan yang ditunggu sedari tadi akhirnya muncul juga. Tertulis nama Sunshine di layar bagian atas ponsel itu.
“ Selamat berbuka puasa, Rama. Simpan saja dulu rasa rindumu itu. Waktu belum bisa menjajikan temu antara aku dengan kamu J”
Sunshine, panggilan andalan dari Ramadhan untuk Senja. Bagi Rama, Senja begitu menganggumkan. Ia bagai matahari dalam hidupannya. Matahari yang memiliki cahaya sendiri, tapi ia tak sungkan membagikan cahaya itu hingga menjadi sinar yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk di sekitarnya.
Senja memiliki cahaya yang mampu menyinari Ramadhan. Pagi hari, sinarnya mampu memberi semangat untuk memulai aktifitas. Sore hari, sinar itu bisa berubah menjadi senja yang begitu mengagumkan serta membawa ketenangan. Malam hari, meskipun matahari tak terlihat, sinarnya mampu menembus bulan dan gelapnya malam. Membawa pada kenyamanan setelah penat beraktifitas seharian. Bahkan kedatangannya dinantikan hingga pagi menjelang.
Senja Putri Rengganis, sosok perempuan yang selalu berhasil membuat Abizar Ramadhan terkagum-kagum. Kedekatan yang mereka bangun sudah begitu jauh, tak lepas dari perjuangan panjang yang rela mereka lakoni. Perjuangan makin terasa saat jarak menjadi penghalang temu antara kedua insan itu. Jarak yang menghadirkan khawatir, curiga, dan rindu. Bahkan jarak membawa perpisahan di antara mereka.
Usai melepas almamater sekolah menengah atas, mereka terpisah oleh cita-cita. Tak diketahui esok hari, apakah mereka bisa kembali bersama atau hanya singgah sekedar menaruh rindu lalu beranjak. Senja berangkat dengan langkah pasti. Meninggalkan semua masa lalu yang telah terpatri.
Banyak yang bertanya, jika masih mencinta mengapa harus berpisah? Begitulah kehidupan. Kadang kita harus hentikan untuk melaju lebih meyakinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, dinginnya malam tak sanggup membuat kenangan hilang. Apalagi kenangan kala itu, kala ku berbuka berdua dengan dirimu.
Waktu itu, waktu yang sangat spesial. Selama 6 tahun bersama, tak terbayang akan mendapat kado spesial. Ya, kado terakhir yang tak pernah akan Senja lupakan. Ramadhan selalu membersamai waktu bersama dengan bercanda. Ayahnya pun sangat baik. Mereka keluarga yang harmonis. Tak pernah sedikitpun memarahi Senja atau Ramadhan selama hubungan mereka.
Oh ya, Senja telah lupa sesungguhnya. Atau jangan jangan Senja memaksa untuk lupa? Senja pun bertanya dalam hati, apakah Ramadhan masih teringat akan kado spesial di bulan Ramadan terakhir itu? Dalam cemasnya, Senja tak berpikir untuk dapat bertemu atau berkomunikasi kembali dengan Ramadhan. Semuanya sangat sulit. Kondisi ini tak memungkinkan. Senja khawatir, akan rindu yang terus getir. Apakah ia mesti memulai tuk mencari? Atau ia berdoa pada Tuhan agar Ramadhan mencarinya?
Notif masuk di instagram Senja. Dari siapa gerangan? Entahlah. Mungkin pengganggu. Malam itu dingin sekali, sahur kali ini Senja hanya ditemani oleh dinginnya angin malam. Tak terasa, ia dengan tak sengaja membuka pesan itu. Dan ternyata, Ramadhan!!!
“Apakah kamu sudah sahur?”
Senja tak menyangka mendapat pesan lagi dari Ramadhan. Semenjak perpisahan di kala itu, Ramadhan menghilang dari dunia maya. Jarak yang membentang diantara keduanya tak pernah mempertemukan mereka. Kini sebelum fajar menyapa, Senja sudah terlebih dahulu disapa oleh Ramadhan melalui sebuah pesan. Benteng pertahanan itu runtuh dalam seketika. Kini percakapan mulai terbuka kembali. Pesan yang begitu singkat saling mereka kirimkan. Begitu terasa rasa rindu yang tersirat dalam tiap pesan itu.
Senja tenggelam dalam temaram malam. Notif khusus berdering diantara lantunan suara adzan maghrib. Ramadhan kembali membuka percakapan lewat Whatsapp.
“Sudah buka puasa belum?”
Pesan itu dibuka oleh Senja bersamaan dengan terbukanya sekelumit kisah lalu yang masih terkepung dalam kenang. Teringat saat rintik hujan turun menyapa kedatangan Senja di kota kelahiran. Kedatangan Senja kala itu sudah ditunggu. Ramadhan ikut menyapa keadatangan Senja bersama denga rintik hujan. Mereka bernostalgia masa putih abu-abu sembari melepas rindu dengan menyusuri jalanan kota yang basah oleh guyuran hujan.
Langkah mereka terhenti pada sebuah tempat makan di tengah kota. Untuk pertama kali mereka bisa berbuka bersama, hanya berdua. Lelah yang Senja rasakan akibat perjalanan seharian hilang terbayarkan dengan kebersamaan itu. Rasa bosan menunggu yang Ramadhan rasakan juga terbayarkan dengan pertemuan dan kehadiran Senja disampingnya.
Kebersamaan itu kini telah menjadi masa lalu. Tidak disangka buka puasa bersama pertama itu sekaligus menjadi Ramadan terakhir bagi Senja dan Ramadhan. Senja telah tenggelam bersama malam di ujung Ramadan. Ia tak mungkin kembali, karena malam telah mengambil semburan sinar jingga sang senja sedangkan Ramadan telah usai dan pergi meninggalkan.







