Menguasai bahasa Arab hukumnya wajib bagi setiap muslim. Sebab, bahasa al-Qur’an dan juga hadits Nabi Muhammad adalah bahasa Arab. Memang sudah ada terjemahan. Namun, tidak semua kata bisa diterjemahkan secara akurat. Karena itu, untuk bisa memahami ajaran Islam, memahami bahasa Arab adalah prasyarat mutlak. Dan karena itulah, ilmu ini disebut sebagai ilmu alat.

Jika dibuat ibarat, al-Qur’an dan hadits Nabi dengan segala ajaran yang ada di dalamnya adalah samudra sangat luas yang di dalamnya terdapat berbagai ikan yang ingin kita tangkap. Untuk menangkapnya, tentu saja memerlukan alat tangkap yang tepat. Bayangkan saja, orang dengan tangan kosong, tanpa alat tangkap (jala, jaring, dll) pergi ke laut ingin menangkap ikan. Bisa dipastikan dia akan pulang dengan tangan kosong. Salah-salah, bahkan ia akan pulang dalam keadaan sangat lelah. Sebab, ikan yang kecil sekalipun tidak akan bisa ditangkapnya dengan tangan kosong. Makin dia kejar, sedangkan ikan bisa berenang dengan leluasa, maka dia akan mengalami kelelahan, lalu putus ada. Begitulah keadaan pencari ilmu yang tidak menguasai ilmu alat.

Kesadaran untuk menguasai ilmu alat ini masih sangat rendah, sehingga umat Islam jauh dari sumber ajaran utama sendiri. Bahkan seringkali sudah merasa cukup hanya dengan membaca terjemah saja.

Monash Institute Semarang membuka kesempatan kepada para profesional muslim untuk belajar bahasa Arab al-Qur’an secara super intensif. Ditemani oleh para mahasantri yang memiliki kemampuan bahasa Arab fushhah. Dan menariknya lagi, pengenalan awal kepada dasar-dasar ilmu alat ini bisa dijalani hanya dalam waktu sepekan. Hanya saja tidak bisa dikerjakan secara sambilan. Harus benar-benar total tinggal di asrama Monash Institute selama sepekan. Program ini telah berjalan empat angkatan.

Baca Juga  Kritik Kontras 100 Hari Kerja Kapolri: Diskriminatif Tangani Kerumunan

Setiap kelas hanya terdiri atas 4 orang peserta dan akan ditemani secara bergantian oleh tim yang berjumlah 6-10 orang. Karena itu, peserta harus mempersiapkan fisik dan mental untuk benar-benar belajar secara total. Aktivitas belajar akan dijalankan secara maraton sehingga tidak memberikan kesempatan untuk lupa. Tidak hanya diajari teori, tetapi akan langsung praktek dengan menggunakan teks al-Qur’an dan hadits secara langsung. Setiap kata akan dikaji seakar-akarnya, sehingga menjadi bekal untuk memahami konsep-konsep di dalam Islam.

Penanggung jawab program ini adalah pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh, yang juga pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI. Adapun mentor pendamping adalah mahasantri senior di Monash Institute di antaranya Ustadz M Abdul Azis, M.Sos., Iis Sa’adah, S.Th.I, Alwi Husein Al Habib, Romadiah, Ri’yatul Millah, Fina Syifa, Indah N Fadlilah, Fajri Rafli, Kodrat Alamsyah, Uli Maghfiroh, Wahyu Labibullah, Faiz Mubarok, Ulya Indarini, dan Saidah Ma’rifah,

Program ini bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa akses umat Islam kepada rujukan utama agamanya masih sangat rendah lalu meningkatkannya. Karena tekad ini, peserta program ini tidak dipungut biaya. Hanya memenuhi kebutuhan hidup sendiri selama mengikuti program. Untuk mendaftar, bisa chat wa official +62813-2898-6397.

Mahasiswa KKN UIN Walisongo, Adakan Sosialisasi 3M dan Bagikan Masker Gratis

Previous article

Syinqith, Negara dengan Tradisi Menghafal Alquran Terbaik di Dunia

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News